Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Fenomena Bulan Terbelah Dua Ada di Alquran, ini Ayatnya

Menurut Quraish, peristiwa ini bukan suatu yang mustahil menurut kebiasaan.

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
INTERNET

Terlepas dari berbagai macam konflik pemikiran di atas, yang jelas, kelak bulan akan terbelah(lagi) sebagai satu tanda bahwa kiamat besar akan segera tiba. Isyarat ini bisa kit abaca dari surat al-Qamar ayat satu di atas, “sesungguhnya telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah.”(QS Al-Qamar:1).

Menurut Muhammad abduh, kelak bulan akan terbelah dan itu pertanda kiamat akan segera tiba. Karena itu, dalam menafsirkan ayat diatas, ia memahami insyaqqa sebagai akan terbelahnya (istiqbal), bukan telah terbelah (fi’il madhi). Karena itu, ia menolak jika ayat di atas dijadikan sebagai dalil atas kemukjizatan Rasul yang bisa membelah bulan atas izin Allah.

Bahkan, Abduh sendiri meragukan hal yang tidak rasional itu.

Namun, ada yang berpendapat, kata insyaqqa pada ayat di atas tetap di artikan sebagai “telah terbelah” dan tetap berkaitan dengan terbelahnya bulan sebagai tanda akan terjadinya kiamat besar.

Jadi, bukan terbelahnya bulan dalam kaitan dengan kemukjizatan Rasul.

Jika dipahami secara cermat, hal ini tidak keliru sama sekali. Logika bahasa dari ayat di atas sebenernya begini, “bulan pun telah terbelah, sesungguhnya telah dekat hari kiamat.”artinya setelah bulan itu terbelah, maka kiamat pun akan datang.

Jadi, pada ayat di atas, Allah sengaja menempatkan akibat dulu, baru sebab.

Dan ayat di atas tidak akan terjadi dalam proses sebab-akibat(kausalitas), jika insyaqqa justru diartikan “akan terbelah”.

Jadi, seolah-olah ayat itu telah menceritakan suatu peristiwa yang sudah terjadi yaitu ketika bulan sudah terbelah, maka kiamat pasti akan tiba.

Namun, pertanyaan:bagaimana proses terbelahnya bulan menjelang kiamat itu? Tidak ada hal yang pasti mengenai itu.

Kendati demikian, di dalam Alquran disebutkan, “apabila matahari digulung.

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. Dan apabila unta-untayang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan). Dan apabila binatang-binatang liar di kumpulkan. Dan apabila lautan dipanaskan.”(QS At-Takwir:1-6) dan “apabila langit terbelahnya dan apabila bintang-bintang jatuh terserahkan.”(QS Al-Infithar:1-2)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ahmad Sarwat, Lc, mengatakan bahwa hari kiamat kubra adalah hari hancurnya alam semesta, bukan hanya bumi yang kita tempati (solar system) atau Galaksi Bimasakti kita saja, akan tetapi semua benda langit di jagat raya in (termasuk bulan) memang akan dihancurkan.

Namun, bila kita melihat tafsiran Muhammad Abduh tentang surat al-Qamar di atas, bisa jadi kehancuran bulan pada hari kiamat nanti diawali oleh terbelahnya dulu seperti yang terjadi pada masa nabi.

Setelah itu, ia jatuh dan bertubrukan dengan bintang yang lain. Lalu terjadilah kehancuran yang sangat dahsyat.

Kita tentu tidak ingin melihat kejadian yang maha dahsyat tersebut. Karena itu, jadilah kita orang-orang yang bertakwa.

Sebab, janji Allah, bahwa orang-orang shaleh dijamin tidak akan pernah melihat terdahsyat sepanjang sejarah dunia tersebut. Mereka akan dimatikan terlebih dahulu oleh Allah.

Wallahu a’lam bil shawab!(pusatquran.com)

Halaman 4/4
Tags
Alquran
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved