Kartini dan Hadiah Ulang Tahunku
Dalam buku kumpulan surat-suratnya, Kartini diketahui sebagai sosok wanita yang berani menentang adat istiadat kuat di lingkungannya.
Aku adalah Kartini, gadis sederhana dari kampung yang baru saja menginjakkan kaki di kota besar Makassar. Hampir satu tahun sudah aku kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin. Hari-hari aku lalui dengan kesibukan kuliah dan aktivitas organisasi kampus.
Aku adalah anak bungsu dari 4 bersaudara dari seorang ibu yang tangguh mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Ayahku telah meninggal 15 tahun lalu, tepatnya 2 Juni 2000 karena kecelakaan. Sejak itu ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue di pasar.
Aku diberi nama Kartini, "katanya", karena berdekatan dengan tanggal kelahiran Raden Adjeng Kartini, tokoh pendobrak wanita Indonesia dengan gerakan emansipasinya yang hingga kini sudah dinikmati perempuan Indonesia.
Meski dilahirkan pada tanggal 22 April (1996), tidak persis bertepatan dengan hari kelahiran R.A. Kartini, namun memiliki nama Kartini ada suka dan dukanya. Publik sudah maklum, Kartini merupakan pejuang emansipasi. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar memunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria yang kini dikenal dengan kesetaraan gender.
Dalam buku kumpulan surat-suratnya, Kartini diketahui sebagai sosok wanita yang berani menentang adat istiadat kuat di lingkungannya. Dia memperjuangkan agar wanita Indonesia mendapatkan pendidikan dan pengajaran untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita. Akan tetapi bukan berarti Kartini memperjuangkan wanita untuk bersaing dengan laki-laki, karena laki-laki dan wanita diciptakan berbeda, dan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda pula.
Wanita merupakan pendidik anak yang pertama-tama sehingga harus memiliki pendidikan yang memadai untuk mendidik anaknya menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Aku mengagumi sosok Kartini karena telah memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki dan tidak melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Hadiah buku
Seperti tahun-tahun sebelumnya hari ulang tahun bagiku seperti hari-hari biasa saja. Aku tidak terbiasa merayakan hari ulang tahun seperti anak-anak kota. Tidak ada yang spesial, namun tiga minggu yang lalu aku mendapat hadiah dari dosen Bahasa Indonesia karena hari ulang tahunku bertepatan dengan hari beliau mengajar. Perasaanku bahagia dan terharu karena beliau yang pertama kali memberikan hadiah pada saat ulang tahunku.
Pada hari itu, beliau bertanya.
"Siapa yang ulang tahunnya bertepatan dengan hari saya mengajar?''
Kemudian salah satu temanku berkata:
"Kartini, Pak!!!".
Setelah itu beliau menyuruh aku mencari buku apa saja yang disukai dan membelinya kemudian beliau akan mengganti uang pembelian buku tersebut. Pada saat itu aku hanya tersenyum dan menjawab: "Iya, Pak.''
Pada minggu berikutnya aku dan ketiga temanku Ani, Aulia, dan Reni berangkat ke Gramedia untuk membeli buku. Setelah berkeliling-keliling aku mendapatkan buku berjudul Kesehatan Masyarakat.
Meskipun awalnya ingin membeli novel, akan tetapi aku berpikir sayang sekali membeli buku yang tidak bermanfaat untuk kebaikan bapak memberi dan membelikan sebuah buku pada ulang tahunku.
Menurut pengakuan dosenku (izinkan aku harus menyebut namanya, M Dahlan Abubakar) sudah menjadi kebiasaannya memberi hadiah buku kepada para mahasiswanya yang berulang tahun. Syaratnya, mereka harus berulang tahun pada saat beliau masuk mengajar dan diperkuat dengan kartu identitas/tanda penduduk (sebab bisa saja ada yang ngaku-ngaku, he..he) . Kata beliau, pada setiap semester, sedikit dan hanya kebetulan saja ada mahasiswanya yang berulang tahun bertepatan dengan hari mengajarnya.
Syarat lain, seperti yang diumumkannya pada hari pertama kuliah kami, hadiah buku boleh berupa yang beliau tulis sendiri (jumlahnya sekarang menurut beliau sudah 23 judul) atau buku lain yang dipilih sendiri oleh mahasiswa yang berulang tahun. Syarat tambahannya juga ada. Judul apa pun yang disukai oleh sang mahasiswa, tetapi sebaiknya yang bermanfaat baginya (berkaitan dengan kuliah) dengan harga di bawah Rp 100.000.
''Silakan beli di toko buku pakai uangnya. Minta nota pembelian, nanti saya ganti pada saat pertemuan setelah ada bukunya,'' kata beliau.
Aku pun bersemangat mencari buku yang diperlukan, seperti disebutkan di awal tulisan ini. Pak Dosenku beralasan, selalu menghadiahkan buku kepada kami yang berulang tahun agar para mahasiswa senang membaca, tidak sekadar membaca SMS. Alasan beliau ini juga saya sangat setujui.
Pernah juga beliau mengisahkan, beberapa tahun lalu ada seorang mahasiswanya yang berulang tahun saat mengajarnya, tetapi ketika ditawarkan mau buku apa, dia tidak menjawab. Usai kuliah, dosenku itu dapat akal dengan memanggil ketua kelas setelah yang lain meninggalkan ruangan.
''Tolong Anda beli kue tart, dan bawa saat kuliah minggu depan. Tidak seorang pun boleh tahu mengenai skenario ini. Usai kuliah minggu depan, kita buat kejutan,'' cerita dosenku itu sembari menyerahkan selembar uang Rp 50.000.
Seperti diskenariokan, usai kuliah berikutnya, ketua kelas mengumumkan kepada teman-temannya agar tidak seorang pun yang meninggalkan ruangan. Dosenku mengumumkan resmi bahwa pada hari itu ada teman mereka yang berulang tahun, sekaligus mengundangnya ke depan kelas. Ketua kelas pun membuka barang yang disembunyikannya dan meletakkannya di atas meja.
Lagu ulang tahun pun menggema di kelas diikuti acara potong kue yang dilakukan oleh yang berulang tahun dan kebetulan seorang mahasiswa perempuan, disaksikan puluhan pasang mata teman-temannya.
''Pertama kali dalam hidup saya, ulang tahunku dirayakan seperti ini. Terima kasih, Bapak,'' katanya kemudian tidak mampu berkata apa-apa lagi...(*)
Oleh;
Kartini
Mahasiswa FKM Unhas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/kartini1_20150421_203448.jpg)