Opini
Don't Stop Memelihara Toleransi!
Catatan HAB Ke-66 Kemenag Oleh M Alim Bahri S Ag, Kepala KUA Sappaya, Gowa
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Oleh
M Alim Bahri S Ag
Kepala KUA Sappaya, Gowa
Kementerian agama sebagai instansi di garda terdepan dalam pelayanan sosial keagamaan tidak saja dituntut untuk mempertahankan kinerja dan prestasi yang telah diraih tetapi pada saat yang sama diharuskan kian meningkatkan etos kerja dalam pelayanan kepada umat
Toleransi lahir perbedaan. Kekaguman dan pengertian akan budaya, ideologi, dan agama lain kerap merupakan apresiasi bagus untuk meretas perbedaan. Saling pengertian dan saling menghargai akhirnya menjadi kunci kebersamaan dan kebaikan universal.
Tanggal 17 November 2011, bertepatan puncak peringatan Hari Jadi Ke-691 Gowa, seorang warga negara bagian Kansas, Amerika Serikat, Samuel Wyn Gill, terkagum-kagum.
Dia menggeleng-gelengkan kepala, dan tak hentinya memuji saat melihat seribuan warga dan aparat pemerintah berkumpul di Kompleks Balla Lompoa, Sungguminasa, dengan pakaian adat Bugis Makassar. Bersama istri, Samuel seakan tak mau kehilangan momentum. Tiap menit begitu berharga. Ia pun mengabadikan suasana itu dengan kamera dan video recorder. Seusai bubaran acara, penganut Kristen itu tak hentinya berterima kasih karena diajak penulis ke pesta tahunan rakyat Gowa itu.
Sebagai abdi negara yang paruh dekade terakhir sehari-hari berinteraksi formil dan non formil secara langsung realitas budaya dan agama di pedalaman Gowa, apresiasi Samuel itu penulis defenisikan sebagai contoh ril kedewasaan beragama. Ada nilai toleransi.
Dalam skala terbatas, jargon politik atau tagline tokoh publik bisa juga jadi contoh proyek kecil toleransi. Sejatinya, don't stop komandan, jargon baru Gubernur Sulsel Dr Syahrul Yasin Limpo, tak bisa ditolerir dalam struktur gramatikal bahasa Inggris. Jargon ini menggabungkan dua bahasa. Don't Stop itu Inggris dan Komandan (commandant) itu tulisan bahasa Indonesia.
Namun karena ungkapan sederhana dan taktis itu, dipakai dalam konteks "tiada kata berhenti untuk kesejahteraan rakyat", maka error gramatikal itu tak jadi perhatian. Publik akhirnya familiar dan mentoleransi "kekeliruan gramatikal" itu dengan nilai dan semangat untuk terus berbuat baik bagi orang banyak.
Contoh toleransi dalam skala formil, adalah semangat kebersamaan di institusi Kementerian Agama Republik Indonesia, (d/h Departemen Agama). Merujuk asaz demokrasi, di Indonesialah tokoh dan pembimbing, penyuluh, lintas agama berada dalam satu kantor.
Inilah praktik langsung dari kesadaran untuk bekerja sama meski dengan perbedaan paling mendasar sekalipun, perbedaan ideologi interaksi langsung dari beragam orang yang berbeda keyakinan dapat melahirkan karya yang berguna bagi bangsa ini.
Kemajemukan yang ada berhasil menjadi mozaik yang indah karena hasil dari aneka tebaran warna yang tersembul sepakat menciptakan keindahan.
Pelayanan Umat
Tiga hari yang lalu, bangsa ini memasuki tahun baru 2012, lazimnya setiap memasuki tahapan waktu yang baru maka semua pihak baik individu maupun kelompok, organisasi, lembaga maupun instansi selalu mengedepankan harapan dan doa agar tahun yang akan dijalani ke depan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Sama seperti instansi lain, kantor kementerian agama yang dahulu bernama departemen agama ketika memasuki tahun 2012 atau tepatnya ketika memasuki usia ke 66, Selasa 3 Januari 2012, tentunya memiliki harapan membuncah untuk jadi lebih baik.
Kementerian agama sebagai instansi di garda terdepan dalam pelayanan sosial keagamaan tidak saja dituntut untuk mempertahankan kinerja dan prestasi yang telah diraih tetapi pada saat yang sama diharuskan kian meningkatkan etos kerja dalam pelayanan kepada umat.
Tugas dan fungsi kementerian agama tentulah sangat berat. Diantara fungsi tersebut yakni memberi bimbingan, pemahaman, pengamalan dan pelayanan kehidupan beragama. Menanamkan penghayatan moral dan etika keagamaan- membina kualitas pendidikan umat beragama- membina kualitas penyelenggaraan haji, memberdayakan umat beragama dan lembaga keagamaan; -membina kerukunan umat beragama,-menanamkan kelarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.
Kementerian agama bersama komponen bangsa yang lain harus mendorong lahirnya bangsa yang dapat mengamalkan agama secara istiqomah, konsisten, arif dan dewasa, berusaha menciptakan kerukunan antar umat beragama dan lebih jauh lagi merukunkan intern umat beragama, hal ini akan bermuara pada suasana keberagamaan yang kondusif dan nyaman.
Sungguh sangat memprihatinkan dan menyesakkan dada ketika melihat kondisi terkini dimana ada umat yang menjalankan ibadahnya dibawah pengawasan dan pengamanan aparat bersenjata.
Apa yang lebih buruk dari berita suatu peristiwa dimana sekelompok orang dengan atribut keagamaan melakukan aksi kekerasan sambil berteriak tentang kebenaran dan kebaikan? Bagaimana bisa memperjuangkan kebenaran sambil melakukan ketidakbenaran yang kasar dan primitif?
Bukankah itu sama saja dengan mengusap wajah bayi dengan kuku panjang, runcing dan kotor sehingga alih-alih membuat sang bayi tenang malah akan membuat sang bayi akan menangis kesakitan. Inilah gambaran yang ada di benak khalayak ketika mendengar apalagimenyaksikan adegan kekerasan dengan dalih dan mengatas namakan agama.
Trust
Membangun rasa saling percaya dan toleransi di antara umat beragama memang harus menjadi agenda prioritas utama. Saling percaya dan bekerja sama untuk visi Indonesia yang lebih maju dan bermartabat serta menjadi negara acuan bagi negara lain. Sebagai negara berpenduduk Muslim yang terbesar di dunia, indonesia harus menjadi prototype negara demokratis dan Islami. Visi inilah yang seharusnya menjadi tantangan bersama dan kerja keras buat kita semua untuk mewujudkannya.
Bangunan saling percaya untuk kemudian bahu membahu, berjalan seiring dengan senyum merekah sebagai wujud rasa kasih sayang satu sama lain sebagai anak bangsa yang menjalankan fungsi sosial agamanya.
Semua ini tentulah harus menjadi konsensus bersama melalui dialog cerdas dan berwawasan luas serta dengan sikap santun lagi dewasa. Penulis membayangkan suatu waktu, bila ini semua berjalan sesuai harapan maka Indonesia akan menjadi baldatun toyyibah warobbun gafur, negeri yang aman tenteram adil dan makmur, negeri yang penuhberkah dan dilindungi oleh Allah, Tuhan penguasa alam semesta.
Di akhir tulisan ini,penulis mengucapkan selamat berkarya kepada nakhoda baru kantor kementerian Agama Sulsel yang baru, H Gazali Suyuti MHI dengan mobilitas dan keikhlasan berbuah energi positif membawa kementerian agama di provinsi ini bersama Pemprov Sulsel menjawab tantangan dan tuntutan yang ada dengan dibantu seluruh keluarga besar kementerian agama.
Dirgahayu kantor kementerian agama yang ke-66, yang pada tahun ini mengangkat tema:memperteguh komitmen untuk membangun kementerian agama yang bebas dari korupsi yang dilandasi moto untuk tetap ikhlas, integritas dan bersih.***