opini
Antisipasi Dampak Krisis Eropa
Bank lebih senang menyimpan asetnya dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang tidak produktif
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Pun dengan dorongan kepada industri perbankan yang masih pelit memberi bantuan kepada pengusaha sktor ril, sebagaimana kritik disampaikan oleh Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Raja Sapata Oktohari dan diamini oleh Gubernur BI Darmin Nasution. Bahwa aset industri perbankan nasional sangat tinggi. Akan tetapi tidak diimbangi oleh kontribusi dalam memajukan dunia usaha.
Bank lebih senang menyimpan asetnya dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang tidak produktif.
Data per Oktober 2011, kepemilikan bank pada SBN adalah Rp245,97 triliun, sedangkan bank pada instrumen moneter seperti Sertifikat Bank Indonesia dan tream deposit sebesar Rp 415,48 triliun. Per September 2011, aset perbankan nasional sebesar 47,2 persen dari total PDB Rp 5.482,4 triliun sedangkan penyaluran kredit mereka hanya tercatat sekitar 29 persen. Sebagai perbandingannya, di Malaysia tercatat 114 persen, Thailand 117 persen, dan China 131 persen. Jadi nampak ada kesalahan dalam strategi ekonomi.
Hal ini tentu paradoks dengan usaha pemerintah yang di sisi lain ingin mendorong tumbuhnya sektor ril melalui kampanye dan ajakan menjadi entrepreneur yang sangat marak kita saksikan di media massa. Oleh karenanya, tim ekonomi SBY-Boediono harus segera menyadari kesalahan strategi ekonomi ini dan menavigasi pada strategi yang berkeadilan dan bersifat jangka panjang.(*)