Soal Bibit Kakao Tak Layak, Ini Penjelasan Kabid Perkebunan Luwu

Adanya bibit kakao yang mati dikarenakan pada saat perjalanan akar bibit goyang sehingga bibit stres dan mati.

Soal Bibit Kakao Tak Layak, Ini Penjelasan Kabid Perkebunan Luwu
desy arsyad/tribunluwu.com
Bantuan bibit kakao dari Provinsi Sulawesi Selatan, di Desa To'balo, Kecamatan Ponrang Selatan, Luwu, Sulawesi Selatan. 

Laporan Wartawan TribunLuwu.com, Desy Arsyad

TRIBUNLUWU.COM, BELOPA - Pendamping bantuan bibit kakao dari Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Muslimin, yang juga selaku kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Luwu, menanggapi perihal bantuan bibit yang sudah tidak layak.

Menurutnya, masalah bibit kakao yang sudah tidak layak tersebut terjadi pada saat penyaluran ke daerah.

"Ini kesalahannya terjadi pada saat disalurkan. Memang waktu disalurkan saya tidak ada di Luwu, tapi sudah diganti sama rekanan," ujarnya saat ditemui di Jl Topoka, Kelurahan Senga, Kecamatan Belopa, Luwu, Sulsel, Jumat (29/12/2017).

Dikatakan, adanya bibit kakao yang mati dikarenakan pada saat perjalanan akar bibit goyang sehingga bibit stres dan mati.

Baca: FP2KEL Luwu Soroti Bibit Kakao Dari Pemprov Sulsel, Ini Masalahnya

Baca: Cerita Sukses Doktor Kakao asal Lutra, Tingkatkan Produktivitas Kakao Hingga 10 Kali Lipat

"Bibit ini dari Soppeng dibawa secara massal ke Luwu. Dalam perjalanan karena skala banyak jadi goyang. Akar bibitnya yang sudah keluar dari polybag itu goyang dan menyebabkan bibit stres makanya mati," jelasnya.

Sebelum penyaluran, Muslimin juga sudah sudah menekankan ke kelompok tani agar menolak bibit jika tidak sesuai spesifikasi. Menurutnya ada 13 kelompok tani di Luwu yang mendapat bantuan 33 ribu bibit kakao.

Yang rusak ada 5.401 bibit kakao, terbanyak di Desa To'balo ada sekitar 1.000-an bibit yang diterima oleh dua kelompok tani dengan jumlah keseluruhan bantuan bibit 2.500.

Sebelumnya, Forum Pemuda Pemantau Kinerja Eksekutif dan Legislatif (FP2KEL) Kabupaten Luwu, menyoroti pembagian bibit tidak layak di Desa To'balo.

Koordinator FP2KEL, Ismail Ishak mengatakan, bibit yang disalurkan sudah tidak layak dan tidak sesuai spesifikasi. Dimana sebagian besar bibit sudah mati dan umur tanaman sudah lebih satu tahun.(*)

Penulis: Desy Arsyad
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved