Pawang Hujan di Negeri Maling Kondang
Pekerjaan KPK dan BNN jadinya mirip-mirip dengan yang dilakukan BMKG
Sewaktu seorang calon kepala daerah (caleda) berkampanye di lapangan terbuka, langit dipenuhi awan hitam sangat tebal sebagai pertanda tak lama lagi hujan lebat akan tumpah-ruah.
Seorang teman yang mengaku pawang hujan dan menjadi “staf ahli” sang caleda memastikan keadaan itu disebabkan ulah pawang hujan lawan politik sang caleda dan ia pun saat itu juga secepatnya berupaya mencegah terjadinya hujan.
Alhasil, cerita sang teman, melalui suatu negoisasi dalam perundingan tingkat tinggi di atas angkasa yang bersifat supranatural antara dirinya dengan pawang hujan dari kubu politik yang berseberangan dengannya terjadilah “win-win solution”. Hujan yang jatuh hanya berupa gerimis kecil.
Sementara itu, untuk mengatasi banjir besar akibat hujan deras yang melanda Jakarta, Joko Widodo meminta bantuan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan rekayasa teknologis untuk mengurangi curah hujan yang jatuh di wilayah DKI Jakarta.
BPPT lalu dikabarkan dapat mengurangi sekitar 30% curah hujan pada tanggal 27 Januari 2013 lalu dan Jakarta pun luput dari banjir bandang.
Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperkirakan pada hari itu curah hujan akan lebih besar dari yang turun beberapa hari sebelumnya yang telah menggenangi sekitar 80 persen wilayah ibu kota yang seolah-olah muncul menghadang dan menguji kepemimpinan Joko Widodo alias Jokowi yang baru saja terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta itu.
Kita tidak tahu secara persis apakah memang upaya BPPT itulah yang membuahkan hasil ataukah.perkiraan BMKG yang keliru. Yang pasti, Jakarta dengan sepuluh juta lebih penduduknya, sebagai pusat pemerintahan, dan urat nadi perekonomian Indonesia, yang tanpa tertimpa bencana pun selalu ramai dan hingar-bingar, akibat dilanda banjir besar pada awal tahun 2013 tersebut menjadi bertambah gaduh dan semakin besar porsi pemberitaannya di media massa.
Melalui televisi tampak serdadu-serdadu yang mengevakuasi korban, ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita mengadakan dapur umum di tempat-tempat pengungsian, para selebriti yang melakukan aksi solidaritas dan tetap modis sekalipun bergerak di genangan air, penjahat-penjahat yang tidak lengah mengambil kesempatan untuk melakukan kejahatan, rakyat yang selalu berkeluh-kesah pada musim dan cuaca apa pun yang berkomentar soal banjir, serta Jokowi yang tampak berkeliling naik gerobak dan Presiden SBY yang ke sana-sini di atas perahu karet meninjau kondisi Jakarta.
KPK dan BNN
Nyaris menyerupai pawang hujan yang tidak berdaya mencegah hujan deras yang mengguyur Jakarta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) kini kelabakan menghadapi pelaku korupsi dan pemakai narkoba yang bermunculan seperti cendawan pada musim hujan.
Pekerjaan KPK dan BNN jadinya mirip-mirip dengan yang dilakukan BMKG yang cuma memperkirakan akan datangnya hujan lebat serta BPPT yang hanya bisa mengurangi 30 persen curah hujan di Jakarta pada tanggal 27 Januari lalu itu.
Sebab, sekalipun mengetahui bertambah marak prilaku korup dan penyalahgunaan narkoba serta sudah memenjarakan cukup banyak pelakunya, namun hasil tangkapan kedua lembaga itu tidak cukup signifikan dalam mengurangi jumlah pelaku apalagi untuk dapat dikatakan berhasil mencegah perbuatan korupsi dan pemakaian narkoba.
Itu selain karena penangkapan itu sendiri tidak menimbulkan efek jera, juga disebabkan oleh semakin sistemiknya perbuatan korupsi serta bertambah kuatnya jaringan perdagangan narkoba.
Terlebih lagi, KPK dan BNN hanya agak intens beroperasi di ibu kota dan kota-kota besar tertentu, sedangkan pelaku korupsi dan pemakai narkoba sudah merambah dan merata hampir ke seluruh pelosok negeri serta melibatkan berbagai kalangan dan lapisan dalam masyarakat dari mulai kepala daerah, anggota DPRD, camat, hingga lurah dan kepala desa.
Korupsi dan Narkoba
Anehnya lagi, sebagaimana yang dilansir oleh lembaga-lembaga survei, agar negeri ini menjadi lebih baik, yang salah satunya tentu saja terbebas dari korupsi dan narkoba, masyarakat menghendaki dan mengandalkan figur-figur seperti Abraham Samad, Machfud MD, Dahlan Iskan, atau Jusuf Kalla terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2014 mendatang.
Keinginan itu agaknya didasarkan pada adanya di antara figur-figur itu yang berhasil menangkapi koruptor, rajin mengkritisi pemerintahan SBY yang terkesan lamban dan kurang becus, gemar berulah aneh dan urakan sebagai petinggi negara, atau berbakat meredam konflik sosial di beberapa daerah.
Padahal, tak hanya pawang hujan yang tidak berdaya mencegah curah hujan yang berlebihan pada musim penghujan atau menurunkan hujan secukupnya pada kemarau berkepanjangan, tetapi seorang Ibu pun kini tidak lagi kuasa menghalangi anak yang dilahirkannya melakukan korupsi, memakai narkoba, dan menjalani kehidupan yang penuh dosa lainnya.
Pertunjukan lakon Maling Kondang oleh sebuah kelompok teater belum lama ini secara ironik-alegorik menggambarkan koruptor yang dengan pandai berkelit dan balik memaki-maki ibunya yang mencurigai dan mendakwanya memperkaya diri dengan hasil korupsi yang jelas berdosa itu serta kemudian membayar seseorang untuk menggantikannya menjadi patung tatkala sang ibu yang sakit hati oleh kepongahan, kebengalan, dan kekurangajarannya mengutuk-sumpahinya sebagai anak durhaka.
Saking merasuknya hasrat memperkaya diri dengan segala cara sekarang ini, termasuk melalui jalur kekuasaan, seorang teman menyampaikan cerita lucu tentang seorang calon bupati di daerahnya yang berbusa-busa mulutnya menyemburkan rentetan kata-kata dalam kampanyenya yang salah satu serpihannya dipungut si teman lebih kurang seperti berikut ini.
“Kita harus bersatu-padu bekerja membangun daerah kita ini. Hanya dengan menjaga persatuan dan kesatuan kita dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang kita cita-citakan bersama. Seperti ungkapan bahasa Inggris yang mengatakan time is money yang artinya bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.
Sekalipun sukar dipastikan benar atau tidaknya, cerita karikatural semacam itu tidak saja bentuk olok-olok kepada calon pemimpin pandir yang “sakau” kekuasaan dan kekayaan yang akan melanggengkan comfort zone bagi dirinya sendiri, tetapi juga menggambarkan masyarakat kita yang terlena oleh slogan-slogan lapuk dalam kehidupan yang semakin pragmatis dan hedonis.
Kita agaknya enggan atau teramat sukar merenungkan bahwa materialisme, pragmatisme, dan hedonisme yang sedemikian rupa nyaris telah merasuk ke dalam diri kita semua dan hampir sudah menghinggapi seluruh masyarakat kita adalah akar masalah dan penyebab utama keterjebakan kita dalam labirin korupsi dan narkoba yang tidak berujung, keterlanjuran kita berada dalam pusaran konflik tak berkesudahan, serta keterpaksaan kita menjalani hidup sehari-hari yang chaos dan tanpa makna.***
Oleh;
Ridwan Effendy
Koordinator PAKARENA Performing Art Network