Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Banjir, Efek Kelalaian Manusia

Jika daerah resapan air tiap tahun berkurang maka potensi banjir di musim basah pasti meningkat.

Tayang:
Editor: Aldy
Jika daerah resapan air tiap tahun berkurang maka potensi banjir di musim basah pasti meningkat. Logika sederhananya, air hujan mudah terserap jika tanah terbuka sangat luas. Sebaliknya, air akan mudah tergenang jika beton bangunan sudah melapisisi permukaan tanah.

Kini persoalan banjir sudah menjadi agenda tahunan beberapa kota di Indonesia dan kota lainnya di dunia. Hampir dipastikan setiap musim hujan tiba dalam beberapa tahun terakhir, ruas jalan selalu digenangi air. Bahkan air meluap keperkampungan warga seperti yang terjadi di Ibukota. Sebagian warga dibuat trauma dan shock.
Harta benda dan tempat tinggal disapu luapan air yang datang tak diundang, pergi tak diantar. Secara tidak langsung banjir berdampak pula pada kemacetan. Kemacetan akibat genangan air telah menjadi fenomena terkini di beberapa kota besar. Banjir juga berpengaruh pada tingkat produktivitas seseorang dalam mencari nafkah.
Pemerintah seolah-olah kehabisan akal menanggulangi persoalan banjir. Ataukah malah kurang serius mengurusi masalah tahunan ini. Masalah banjir mestinya dapat diminimalisisr setiap tahun sebagaimana keinginan publik. Namun, justru yang terjadi malah sebaliknya. Banjir semakin parah dan bahkan menghawatirkan kelangsungan hidup.
Tidak sedikit pula yang terserang penyakit akibat banjir. Tentunya semua orang menghendaki agar banjir dapat diatasi. Mungkin sebagian dari kita yang kurang merasakan dampaknya tidak terlalu was-was. Tetapi bagi mereka yang merasakan dampaknya secara langsung sudah pasti dilema dan galau.
Banjir tidaklah muncul dengan sendirinya tanpa ada sebab. Karena adanya sebab maka banjir yang menjadi akibatnya. Ketika kita sepenuhnya mengatakan banjir disebabkan oleh adanya hujan itu sudah pasti. Cuma ada sebab lain yang mempengaruhi faktor utama sehingga banjir begitu mudah terjadi. Sebagai perbandingan, banjir di kota-kota besar jarang terjadi sebelum abad 21.
Keadaan masa lalu sangat berbeda jauh dengan apa yang dirasakan sekarang. Dulu di Indonesia kita mengenal musim hujan (September-Februari) dan musim kemarau (Maret-Agustus) secara teratur. Sekarang hampir sulit dibedakan antara musim hujan dan musim kemarau. Perubahan iklim berganti dengan mudah dan cepat serta membahayakan.
Hujan selalu ada dari dulu tetapi tidak selalu berefek banjir. Itupun kalau terjadi banjir, memang disebabkan hujan deras dalam waktu yang cukup lama. Atau sungai tidak bisa lagi menampung air sehingga mengakibatkan air meluap diatas permukaan tanah daratan. Anehnya, saat ini meskipun hujan tidak terlalu deras dan lama tetapi dapat menimbulkan banjir yang cukup parah.
Air sangat mudah meluap. Situasi ini yang membuat sebagian orang berpikir, sebenarnya apa sebab utamanya serta siapa yang disalahkan. Mungkin masyarakat menyalahkan pemerintah karena kebijakannya kurang tanggap. Sebaliknya pemerintah menyalahkan masyarakat karena kepeduliannya kurang maksimal.
Perlu diingat bahwa Badan Metereologi Geofisika (BMG) sudah memprediksi hujan akan terus mengguyur seluruh wilayah di tanah air hingga awal tahun 2013. Juga kemungkinan terjadi hingga pertengahan 2013. Meskipun dikatakan hujan relatif normal namun sangat berpotensi banjir pada kota metropolitan, misalnya Makassar dan Jakarta. Kekhawatiran tersebut sudah mulai dirasakan secara perlahan-lahan sejak akhir November 2012. Melirik kedua kota ini sebagai contoh kasus seharusnya perlu didiskusikan secara mendalam oleh pemerintah pusat. Banjir akan selalu berkelanjutan dan semakin parah dari tahun ke tahun jika tidak ada kesadaran dini yang tersistematis.

Dampak Pembangunan
Pembangunan kota besar di Indonesia dapat diacungi jempol. Beberapa kota besar sudah masuk sebagai kota dunia masa depan. Sayangnya, pembangunan kota yang meningkat tidak dibarengi dengan pelestarian lingkungan sekitar. Ada semacam indikasi mengabaikan dampak pembangunan.
Boleh dikatakan pemerintah cenderung melakukan pembangunan tidak sustainable. Hanya memperhatikan keuntungan sesaat dibandingkan kelangsungan hidup jangka panjang. Kawasan sekitar kota yang awalnya dijadikan sebagai daerah resapan air. Berubah menjadi perumahan dan bangunan megah yang menjulang setinggi langit. Wilayah yang awalnya sebagai selokan untuk menampung air hujan disulap menjadi jalan raya. Memang terlihat keindahan kota yang mengagumkan. Namun, disisi lain akan memilukan dikala musim hujan tiba. Kota yang dipaksakan indah berbalik menjadi lautan kumuh.
Jika daerah resapan air tiap tahun berkurang maka potensi banjir di musim basah pasti meningkat. Logika sederhananya, air hujan mudah terserap jika tanah terbuka sangat luas. Sebaliknya, air akan mudah tergenang jika beton bangunan sudah melapisisi permukaan tanah. Kemungkinan solusi alternatifnya ialah membuat selokan, kanal, bendungan atau memperluas dan memperdalam Daerah Aliran Sungai (DAS).
Faktanya hal ini kurang diperhatikan dalam pembangunan tata kota. DAS/kanal sebagai kunci penentu antisipasi luapan air tidak terkontrol dengan baik. Akhirnya DAS/kanal tidak mampu menampung air yang ada karena semakin dangkal. Terbukti beberapa DAS/kanal hanya dijadikan tempat pembuangan sampah.  
Disamping itu, idealnya setiap pembangunan kota harus memperhatikan ruang terbuka hijau (RTH). Pihak yang paling bertanggungjawab menentukan RTH adalah pemerintah. Pengalokasian RTH ini diandalkan oleh pakar tata ruang kota sebagai pembangunan berawawasan lingkungan. Lagi-lagi, sangat jarang kota yang mampu memenui RTH secara penuh sesuai dengan aturan yang berlaku.

Evolusi Lingkungan
Kepedulian lingkungan merupakan isu dunia yang menggglobal sejak dilaksanakannya Konferensi Stockholm tahun 1972. Diperkuat oleh argumen seorang environmentalis Leonardo DiCaprio yang mengatakan ‘alarm planet kita sudah berbunyi, ini waktunya bangun dan ambil tindakan’. Dunia memandang rusaknya lingkungan sebagai ancaman masa depan. Sampai saat ini isu lingkungan hangat diberitakan di dunia internasional. Isu lingkungan sangat erat kaitannya dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Keterkaitan tersebut terproses pada sebuah evolusi lingkungan yang berjalan secara sistematis.
Kunci yang paling efektif menanggulangi masalah banjir adalah kepedulian lingkungan. Semakin peduli dengan lingkungan hidup sama halnya peduli terhadap masalah banjir untuk jangka panjang. Karena banjir merupakan kelalaian bersama maka sudah saatnya memperbaiki kelalaian yang dilakukan selama ini. Aksi konkritnya berada pada diri setiap manusia yang sadar akan pembangunan berkelanjutan. Kesadaran tersebut akan membantu kelangsungan hidup generasi berikutnya. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakuan perlu berwawasan lingkungan.
Pembangunan yang peduli terhadap masa depan sudah mendesak untuk disegerakan. Lebih lanjut, pembangunan berawawasan lingkungan anti banjir merupakan harapan masa depan. Setidaknya apa yang dirasakan sekarang terkait masalah banjir. Itu adalah siklus sederhana dari akumulasi kelalaian demi kelalaian yang rutin dilakukan. Jika kita tidak ingin berputar pada kondisi yang sama maka mari galakkan gerakan cinta lingkungan sejak dini.***

Oleh;
Nasrulhaq Syarif
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulsel

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved