Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Lady Gaga vs Norma Agama

Melalui musik pula, budaya permisif, liberal dan hedonis juga ditransfer kepada para idola dan penikmat musik.

Tayang:
Editor: Aldy
Melalui musik pula, budaya permisif, liberal dan hedonis  juga ditransfer kepada para idola dan penikmat musik. Cepat atau lambat kehidupan seperti ini akhirnya melahirkan gaya hidup yang berkiblat pada sang idola, khususnya pada kalangan generasi muda. Jadi, musik tidaklah bersifat universal karena di dalamnya terkandung nilai-nilai dari ideologi tertentu yang menjadi pijakannya.

Kontoversi tentang boleh tidaknya Lady Gaga manggung di Jakarta masih terus berlanjut. Berbagai kalangan, baik kalangan pro maupun kontra saling mengajukan alasan masing-masing. Namun, meski masih kontroversi dan masalah perizinan belum mendapat kejelasan, puluhan ribu tiketnya telah laku dan masih terus dijual. Bahkan tiketnya yang dihargai mulai empat ratusan ribu hingga dua juta lebih itu sudah laris manis bak kacang goreng.
Jika diklasifikasikan, setidaknya terdapat tiga kelompok yang saling berkontroversi terkait rencana konser penyanyi yang diberi gelar Mother Monster itu. Kelompok pertama adalah para fans, kaum liberal, dan tentu saja promotor yang telah merencanakan terselenggaranya acara itu. Mereka adalah kelompok pendukung Gaga sepenuhnya. Kelompok kedua adalah kalangan tokoh, politisi dan mungkin juga para pejabat. Kalangan ini –dengan ketokohan dan jabatan politisnya, banyak memberikan komentar seputar rencana konser si Gaga.
Pemikiran para tokoh dan politisi ini ada yang mengarah ke sikap mendukung, dan ada juga yang sebaliknya, tetap menolak. Bagi tokoh dan politisi yang mendukung, mereka umumnya mencoba menawarkan solusi kompromistis yang bisa menampung aspirasi kalangan yang pro dan kontra. Misalnya ada yang memberikan solusi dengan membiarkan saja Lady Gaga tetap konser namun dengan catatan dia memakai busana yang lebih ‘sopan’ sesuai budaya Indonesia. Bahkan parahnya, salah seorang politisi mengusulkan jika Lady Gaga memakai ‘jilbab’ saja saat konser. Selain itu ada juga politisi yang berkomentar bahwa penolakan terhadap Lady Gaga sebagai hal yang tidak masuk akal.    
Kelompok ke tiga adalah kalangan ormas Islam dan kalangan lainnya yang menolak kehadiran Lady Gaga secara mutlak. Alasan yang diungkapkan adalah persoalan mendasar yaitu aqidah/ideologi.
            Bahasa Universal?
“Musik, bahasa universal!” Kalimat ini seringkali kita dengar dari kalangan pecinta musik. Sepintas, tidak bisa diingkari bahwa musik –dengan berbagai jenisnya- memang bisa diterima oleh banyak kalangan nyaris dari seluruh lapisan masyarakat mulai anak-anak hingga kaum dewasa. Bisa dikatakan, setiap orang punya pilihan musik sesuai selera masing-masing. Lalu apakah ini kemudian cukup untuk mengatakan bahwa musik adalah bahasa universal?
Nyatanya, musik tak hanya soal nyanyian, tapi juga mengusung ideologi tertentu di balik lirik-lirik yang dinyanyikan. Begitupun dengan perilaku si penyanyi, juga akan terkait erat dengan ideologi yang dianutnya. Tentang bagaimana dia berbusana dan beratraksi di atas panggung, juga tidak bisa dilepaskan dari ideologi yang diyakininya.
Dalam kaitannya dengan Lady Gaga, penyanyi asal Amerika ini juga tak bisa dilepaskan dari landasan ideologinya. Menurut Gerakan Umat Anti Maksiat (GUMAM) yang juga menolak konsernya digelar, menyebutkan setidaknya ada 10 alasan umat Islam harus menolak kehadiran Lady Gaga. Beberapa di antaranya adalah; 1) Penampilan Lady Gaga yang secara vulgar menampilkan lambang Iluminati, sekte Luciferian (iblis) yang memiliki arti Sang Pembawa Cahaya, 2) Penyebar gaya hidup gay, lesbian, dan transgender. Salah satu lirik lagu Gaga, Born This Way –yang merupakan tema konser dalam Asia Tour kali ini-, berbunyi, “No matter gay, straight, or lesbian, transgendered life, I’m on the right track, baby I was born to survive.” (Tidak peduli gay, lurus, atau lesbian, kehidupan transgender, saya di jalur yang benar). 3) Penyebar kesyirikan yang nyata; dll.
Selain itu, hal lainnya yang terkenal dari Lady Gaga adalah soal kepornoan. Tampil dengan pakaian seronok dan atraksi-atraksi panggung yang erotis dan vulgar. Jelas, ini juga tidak bisa dilepaskan dari ideologi kapitalisme yang memandang perempuan tak lebih hanya sebagai pajangan yang tak berharga. Perempuan hanya dilihat dari kecantikan fisik dan sejauh mana dia mampu tampil menarik di ruang publik dengan mempertontonkan keindahan tubuhnya.
Melalui musik pula, budaya permisif, liberal dan hedonis  juga ditransfer kepada para idola dan penikmat musik. Cepat atau lambat kehidupan seperti ini akhirnya melahirkan gaya hidup yang berkiblat pada sang idola, khususnya pada kalangan generasi muda.
Jadi, musik tidaklah bersifat universal karena di dalamnya terkandung nilai-nilai dari ideologi tertentu yang menjadi pijakannya. Lebih dari itu, musik saat ini juga menjadi alat propaganda Barat untuk melakukan invasi budaya kepada negara lainnya termasuk Indonesia. Dan bagi seorang muslim, menjadikan kehidupan para artis yang identik dengan permisivisme jelas bertentangan dengan Islam yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat/tunduk patuh pada aturan-aturan yang sudah diturunkan Allah swt.
Tolak Gaga!
Belakangan, opini-opini yang mengarah kepada pembelaan Mother Monster itu mulai bermunculan. Sementara para penolak kedatangannya dianggap intoleran, munafik, tidak menghargai perbedaan dan tidak mengikuti arus globalisasi. Bahkan penolakan kaum Muslim kemudian menjadi alat stigmatisasi baru yang dilancarkan terhadap umat Islam dengan berbagai julukan semacam ektrimisme, dan lain-lainnya.
Sejatinya, Islam memiliki patokan hukum yang jelas dalam menilai sesuatu itu baik atau buruk. Standarnya semata-mata adalah dari Allah swt, bukan berdasarkan pertimbangan  seni atau pun budaya.
Di sisi lain, para pembeli tiket atau fans Lady Gaga, atas nama hak asasi dan kebebasan berekspresi bisa saja beralasan bahwa orang lain memang ‘tak berhak’ melarang untuk menonton konser Mother Monster itu. Toh, uang yang Anda gunakan memang uang Anda sendiri sehingga bisa menjadi dalih untuk membenarkan tindakan Anda.
Walau begitu, ingatlah bahwa hidup di dunia ini tidak selamanya. Akan pasti datang saatnya ketika kita meninggalkan dunia ini dan selanjutnya kelak kita akan pertanggungjawabkan seluruh amalan di dunia. Jika terhadap manusia, masih bisa mengajukan alasan, maka masihkah bisa lolos dari hari penghitungan amal di akherat? Sementara semua yang telah kita lakukan di dunia ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
Kepada pihak-pihak yang mendukung kedatangan Gaga, baik dari kalangan liberal, idola, tokoh, politisi, dengan komentar-komentar dukungannya, jika di dunia begitu gigih membela Gaga, lalu apakah di akhierat kelak ketika Allah meminta pertanggungjawaban atas ucapan-ucapan pembelaan itu, mungkinkah Lady Gaga akan datang membela? Sebagaimana kedatangannya dibela-bela pada saat ini? Yakinlah, bahwa Gaga tak akan datang menjadi pembela sebagaimana Anda telah membelanya pada saat ini.  
Kepada generasi muda muslim di seluruh penujuru dunia yang telah menjadikan musik Barat sebagai bagian dari gaya hidup, nampaknya ‘wasiat’ dari Chauncey Lamont Hawkins alias Loon patut diperhatikan. Mantan rapper papan atas Amerika yang kini memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan berganti nama menjadi Amir Junaid Muhaddith berpesan: Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu Barat dan perilaku mereka serta apa saja yang dilakukan oleh penyanyi Amerika atau Barat lainnya. Berbanggalah dengan Islam dan agama ini yang sekarang sedang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal Islam, mereka akan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutu dan berguna .(media-umat.com)
Maka, membiarkan Lady Gaga berkonser, sama artinya dengan menjerumuskan para generasi negeri ini ke dalam gaya hidup liberal yang kian hedonis dan permisif. Sudah saatnya generasi negeri ini diselamatkan dari kesia-siaan dan perilaku maksiat yang diajarkan oleh para selebritis, termasuk Lady Gaga. ***

Oleh;
Undiana
Muslimah HTI Kota Makassar

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved