Home » Opini
Angieku Sayang, Angieku Malang
Tribun Timur - Senin, 20 Februari 2012 20:00 WITA
Share |
Nurmal-Idrus.jpg
dok. tribun
Mahasiswa Pascasarjana Unismuh Makassar
Kisah hidup Angie mulai berubah. Ia tak lagi dikejar-kejar sebagai seorang selebritis tapi kini dikejar dengan cecaran pertanyaan wartawan mengenai statusnya itu. Halaman depan rumahnya yang dulu sering dipenuhi jurnalis infotainment, kini berganti dirondai oleh jurnalis berita yang ingin mengetahui perkembangan kasusnya.

Siapapun pasti mengenalnya. Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau yang akrab dikenal dengan Angelina "Angie" Sondakh. Angie lahir di Australia pada 28 Desember 1977 dari pasangan Prof. Lucky Sondakh dan Sjul Kartini Dotulong. Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Nama Angel terinspirasi dari serial televisi Charlie's Angels. Orangtuanya ingin Angie menjadi sosok wanita yang cantik, memiliki kecerdasan, keberanian, dan kepahlawanan.
Angie menembus langit selebritas tanah air ketika ia dengan mantap memenangi pemilihan Puteri Indonesia 2001. Di malam final , yang berlangsung di JHCC, Angie menyisihkan dua rivalnya, Helena Yorantina Souissa  dari Maluku dan Ni Wayan Eka Ciptasari yang mewakili Bali.
Predikat itu membuatnya memperoleh tiket mengikuti ajang kontes kecantikan dunia Miss Universe yang akan digelar di Puerto Rico. Sayangnya, tekanan luar biasa dari dalam negeri yang tak setuju dengan keikutsertaan Indonesia di ajang itu, membuat Angie harus rela melepas kesempatannya untuk melanjutkan kiprahnya di tingkat internasional.
Bisa dikatakan, Angie termasuk perempuan yang  kelahirannya dirahmati oleh sang pencipta. Ada banyak perempuan cantik di negeri ini dengan tubuh sempurna bak bidadari, tapi tak banyak yang di antara mereka yang memiliki kecantikan otak. Angie dirahmati karena memiliki keduanya. Bahkan, saat itu Angie bisa disebut mewakili kesempurnaan perempuan yang memiliki tiga sekaligus syarat perempuan sempurna yang memiliki Brain, Behavior and Beauty. (Otak encer, kecantikan dan tingkah laku).  
Otaknya memang encer. Lihatlah riwayat pendidikan dan prestasinnya yang meninggalkan jejak luar biasa. Masa sekolah dijalani Angie berpindah-pindah antara Australia dan Manado. Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dijalani di Manado. Kemudian sempat mengenyam tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) di Australia, tapi kemudian ke Indonesia dan lulus dari SMU Negeri 2 Manado.
Angie menjalani kuliah S-l di Unika Atma Jaya Jakarta di Fakultas Ekonomi Pemasaran. Tapi, tidak berhenti sampai di tingkat S-l. Pada tahun 2009, Angie meraih gelar master usai menjalani S-2 Manajemen Komunikasi Politik di Universitas Indonesia.
Banyak prestasi telah diraih bahkan sejak masa sekolah. Salah satunya outstanding effort in maths, textile & design, and scripture dari Presbyterian Ladies College Sidney pada 1993. Ketika di Manado, Angie kerap mengikuti berbagai perlombaan, baik lomba bertema pemilihan putra-putri dan lomba pidato atau debat. Saat mengakhiri masa jabatan sebagai Putri Indonesia, Angie meluncurkan buku berjudul Kecantikan Bukan Modal Utama Saya.
Kecerdasannya itu berpadu sempurna dengan penampilan fisiknya yang menawan. Angie dianugerahi wajah dan tubuh indah hasil dari bibit Kawanua yang memadukan kecantikan eksotis Indonesia dan Eropa Filipina. Kecantikan itu pulalah yang kemudian membuat ia dengan mudah masuk kalangan selebritis di Jakarta. Meski jarang digosipkan dekat dengan seorang pria, namun Angie termasuk salah satu selebritis yang paling diidolai jutaan pria Indonesia.

Suara Fantastis
Kesuksesan Angie tak berhenti disitu. Ia kemudian terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota Partai Demokrat. Kepopulerannya kemudian membantunya meraih satu kursi DPRRI meski tak mewakili daerah asalnya, Sulawesi Utara. Ia terpilih dari daerah pemilihan VIII Jawa Tengah dengan suara fantastis, 145.159 suara.  
Perolehan itu mencengangkan karena selain Angie tak berasal dari wilayah itu, ia juga mampu mengungguli para politisi jagoan di Jawa Tengah seperti politisi PKB, Abdul Kadir Karding. Perolehan suara Angie menyumbang hampir separuh dari total perolehan Partai Demokrat di daerah itu yang sebesar 320.275 suara.
Kiprah dipolitik itu pulalah yang mempertemukannya dengan aktor yang juga selebritis dan politisi, Adjie Massaid. Duda yang ketika itu baru bercerai dengan penyanyi Reza Artamevia, memesona Angie dan kemudian memacarinya lalu menikah pada tahun 2009. Dari pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Keanu Jabbar Massaid.
Adjie sendiri telah memiliki dua orang anak, Zahwa dan Aaliyah dari pernikahan sebelumnya dengan Reza Artamevia. Namun, hanya dua tahun setelah menikahi Adjie, Angie harus kehilangan pria yang disebutnya sebagai cinta terakhirnya itu. Tanggal 5 Februari 2011, Adjie meninggal secara mendadak karena serangan jantung usai berolahraga.
Setelah kehilangan Adjie itu, Angie meraih simpati publik dan kemudian banyak yang iba dan sayang kepadanya. Keteguhannya dalam menghadapi kepergian Adjie, serta kesetiaan cinta yang selalu dikatakan dan diperlihatkan di layar kaca, menghipnotis jutaan pemirsa televisi di Indonesia terutama para ibu-ibu muda. Betapa tidak, dengan modal kecantikan, kehidupan mapan, posisi yang strategis dan usia yang masih muda, Angie dianggap terlalu sayang menyebutkan Adjis sebagai cinta dan pelabuhan hati terakhirnya. Pasalnya, ada ribuan pria lain yang mendambakan dekat dengannya pasca kepergian Adjie.
Kepergian Adjie ternyata awal dari kemalangan seorang Angie. Hanya berselang dua bulan setelah kedukaan itu, Angie mulai terseret kasus maha berat setelah Sekertaris Kemenpora Wafid Muharram tertangkap tangan oleh KPK di kantornya karena dugaan suap Wisma Atlet di Palembang.

Status Baru
Namanya mulai banyak disebut terutama oleh anak buah mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, Mindo Rosalina Manulang, yang juga tersangka perempuan ini menyebut Angie banyak menerima uang dari dirinya untuk memuluskan berbagai proyek di DPRRI. Setelah hampir setahun namanya terus menghiasi pemberitaan kasus korupsi Wisma Atlet itu, KPK akhirnya benar-benar menyeret Angie dengan menetapkannya sebagai tersangka pada tanggal 3 Februari 2012 lalu.
Dari sini, kisah hidup Angie mulai berubah. Ia tak lagi dikejar-kejar sebagai seorang selebritis tapi kini dikejar dengan cecaran pertanyaan wartawan mengenai statusnya itu. Halaman depan rumahnya yang dulu sering dipenuhi jurnalis infotainment, kini berganti dirondai oleh jurnalis berita yang ingin mengetahui perkembangan kasusnya.
Sekali lagi, banyak yang iba dengan status baru Angie itu. Saat tampil menjadi saksi dalam persidangan atas terdakwa Muhammad Nazaruddin, di Pengadilan Tipikor, 15 Februari 2012, yang disiarkan langsung berbagai televisi nasional, untuk pertamakalinya ada banyak ibu-ibu yang mengikutinya sampai tuntas.
Para ibu-ibu yang biasanya menyenangi sinetron dan berita infotainment itu seakan tak peduli dengan kasus Angie dan hanya merasa iba pada perempuan ini. Iba karena merasakan betapa menderitanya Angie yang belum setahun ditinggal sang suami namun harus menghadapi masalah berat seperti itu. Iba karena mengingat Angie seorang ibu muda yang punya anak kecil yang masih memerlukan perhatian. Juga iba karena tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika sang Puteri Indonesia yang menawan ini harus hidup di  balik jeruji besi.
Tapi, tentu saja hukum harus ditegakkan. Kita memang sangat iba dengan semua yang harus ditanggung Angie terutama karena statusnya yang single parent. Tapi, kita juga marah dengan semua perbuatannya jika memang nanti terbukti ia melakukan semua yang dituduhkan kepadanya. Hati kita juga serasa ingin memberontak jika semua yang dipaparkan di KPK kepada Angie benar adanya karena dilakukan ketika kehidupan bangsa ini masih belum stabil.
Para ibu-ibu muda yang menjadi fans Angie selama ini mungkin juga bisa marah andai mereka menyimak bagaimana Angie bisa dengan cepat melupakan cinta dan pelabuhan terakhirnya Adjie Massaid dengan rumor kedekatannya dengan salah seorang penyidik KPK. Ya, mungkin Tuhan ingin menghukumnya dan memperlihatkan kekuatannya atas segala nikmat dan anugerah hidup yang diberikan kepada Angie selama ini.***

Editor : Adyn