Kemarau Sulsel
El Nino Godzilla Ancam Nelayan Wajo, Ikan Bermigrasi, Hasil Tangkapan Turun
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pihaknya aktif berkoordinasi dengan penyuluh dan kelompok nelayan.
Penulis: M. Jabal Qubais | Editor: Ansar
TRIBUNTIMUR.COM, WAJO — Dinas Perikanan Kabupaten Wajo menyebut fenomena El Nino “Godzilla” berpotensi berdampak pada sektor perikanan tangkap.
Kepala Dinas Perikanan Wajo, Andi Cakunu, mengimbau nelayan agar mengutamakan keselamatan saat melaut.
“El Nino Godzilla memang bisa berdampak pada subsektor perikanan tangkap. Cuaca panas ekstrem bisa mengubah ekosistem, ikan akan bermigrasi mencari tempat yang lebih dingin,” ujarnya melalui sambungan WhatsApp kepada Tribun-Timur.com, Rabu (1/4/2026).
“Itu akan membuat nelayan lebih sulit menangkap ikan karena harus melaut lebih jauh dan biaya operasional menjadi lebih besar. Belum lagi panas ekstrem meningkatkan risiko saat melaut,” sambungnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pihaknya aktif berkoordinasi dengan penyuluh dan kelompok nelayan.
“Kami terus memberikan update informasi cuaca dan kondisi perairan. Kami juga mengimbau nelayan untuk mengutamakan keselamatan saat melaut,” katanya.
Ia menambahkan, fenomena El Nino juga berpotensi berdampak pada petani tambak.
“Kalau El Nino, kemungkinan ada dampak pada petani tambak jika air pasang kecil,” jelasnya.
Khusus nelayan di pesisir Danau Tempe, Kabupaten Wajo, ia menyebut sebagian besar akan beralih profesi saat musim kemarau.
“Nelayan di sekitar Danau Tempe biasanya beralih menjadi petani palawija seperti ubi, jagung, dan kacang-kacangan,” sebut Andi Cakunu.
Meski demikian, ia menegaskan dampak kekeringan tidak akan berpengaruh besar terhadap Danau Tempe secara keseluruhan.
“Danau Tempe selama ini tidak pernah kering karena adanya bendungan gerak. Sudah menjadi rutinitas nelayan beralih menjadi petani saat musim kemarau,” tegasnya.
“Ada beberapa titik air surut di pesisir danau saat kemarau, dan itu dimanfaatkan warga untuk bertani,” tambahnya.
Salah seorang pakkaja (nelayan) setempat, Abdul Rahman (51), mengaku kerap beralih menjadi petani saat musim kemarau.
“Kalau musim kemarau memang kami jarang dapat ikan, jadi beralih ke palawija,” tuturnya.
“Sudah rutin setiap tahun seperti ini. Penghasilannya tidak jauh berbeda, setidaknya bisa menyambung hidup,” tandasnya. (*)
| Kemarau 2026 Lebih Cepat, Luwu Hadapi Risiko Gagal Panen dan Kebakaran Lahan |
|
|---|
| BMKG: Musim Kemarau 2026 di Maros Lebih Cepat dan Berpotensi Lebih Kering |
|
|---|
| Petani di Sinjai Selatan Terancam Gagal Panen Dampak El Nino |
|
|---|
| Siap-siap! Musim Kemarau Panjang Mengintai, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak |
|
|---|
| Petani Bone Terpuruk, Kemarau Panjang Picu Hama dan Turunkan Hasil Panen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/KEMARAU-PANJANG-Kepala-Dinas-Perikanan-Kabupaten-Wajo-Andi-Cakunu.jpg)