Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Nekat! Bocah Asal Luwu Gasak Mobil Dinas Polisi Berisi Senpi, Kabur hingga Morowali

Kapolres Luwu, AKBP Adnan Pandibu, menjelaskan peristiwa itu bermula Selasa, 19 Agustus 2025 dini hari.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/Muh Sauki
ANAK CURI MOBIL POLISI - Kantor Polres Luwu, Seorang anak di bawah umur nekat membawa kabur mobil operasional reskrim yang menyimpan senjata api dinas jenis SS1 di Polsek Walenrang. (Sumber: tribun timur) 

“Pelaku masih anak di bawah umur dan tidak bersekolah. Identitasnya tidak bisa kami sebutkan,” tegas alumni Akpol 2004 itu.

Adnan menambahkan, sejak awal polisi hanya berniat membantu anak itu agar tidak mengalami hal buruk di kampung orang, mengingat mobilnya sudah berhari-hari terparkir di jalan.

Kasus anak di bawah umur yang membawa kabur mobil dinas polisi di Luwu dinilai tak bisa dilepaskan dari faktor sosial dan pendidikan.

Sosiolog Universitas Negeri Makassar (UNM), Idham Irwansyah, menjelaskan perilaku menyimpang pada remaja umumnya dipengaruhi oleh faktor struktural, ekonomi, keluarga, hingga lingkungan sosial.

Faktor psikologis juga berperan, terutama di usia remaja yang masih dalam proses pencarian jati diri.

“Informasi yang kita tahu sejauh ini adalah pelaku seorang anak di bawah umur dan tidak bersekolah. Kondisi tidak bersekolah membuat akses terhadap norma sosial, norma hukum, dan keterampilan non-teknis menjadi sangat terbatas,” kata Idham, Rabu (27/8/2025).

Menurutnya, sekolah berfungsi sebagai institusi kontrol sosial primer yang menanamkan nilai kolektif dan melatih kepatuhan terhadap aturan.

Tanpa pendidikan formal, anak kehilangan proses internalisasi norma, termasuk larangan mencuri.

Selain itu, pendidikan juga membuka jalur legitimasi ekonomi dan jaringan pekerjaan.

"Ketika pintu itu tertutup, jalan pintas seperti tindakan melanggar hukum seringkali jadi pilihan,” jelasnya.

Idham menambahkan, kondisi anak yang tidak bersekolah kerap berkaitan dengan keluarga yang tidak utuh atau broken home.

Termasuk lemahnya pengawasan orang tua, atau faktor ekonomi.

Kurangnya kontrol sosial internal membuat perilaku menyimpang lebih mudah muncul, apalagi jika lingkungan sekitar justru menampilkan contoh perilaku melawan hukum.

“Kalau di sekitar rumah ada figur atau role model yang sering melanggar aturan, anak bisa menirunya. Itu makin diperkuat oleh tekanan psikologis khas usia remaja,” tandasnya.

 

 

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved