Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kemarau Sulsel

BMKG: Waspada Cuaca Panas!

Kondisi ini diperparah dengan potensi fenomena El Nino berintensitas lemah, diperkirakan mulai terasa pada Juli 2026.

Tribun Timur
PODCAST TRIBUN TIMUR - Rizky Yudha Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG IV Makassar dan I Luh Devi Sania Host Tribun Timur dalam program bicang cuaca. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca panas di Kabupaten Maros.

Dalam tiga hari terakhir, suhu udara tercatat hingga 33 derajat Celcius.

Ketua Tim Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, menyebut Maros diperkirakan memasuki musim kemarau pada dasarian kedua Mei.

Suhu panas saat ini dipicu berkurangnya tutupan awan.

Dalam tiga hari terakhir, suhu siang berkisar 31–33 derajat Celcius, sedangkan malam hari turun hingga sekira 23 derajat Celcius.

“Jika cuaca cerah berawan, maka siang hari akan terasa panas dan malam hari lebih dingin,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, suhu udara berpotensi meningkat saat musim kemarau mulai berlangsung.

Bahkan, suhu bisa mencapai 34 hingga 35 derajat Celcius.

Kondisi ini diperparah dengan potensi fenomena El Nino berintensitas lemah, diperkirakan mulai terasa pada Juli 2026.

Dampaknya, kata Rizky Yudha musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Awal musim kemarau tahun ini diprediksi lebih cepat, maju sekira tiga dasarian dibandingkan tahun lalu.

Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus dan berlangsung hingga Oktober 2026.

BMKG mengimbau warga melakukan mitigasi sejak dini, terutama menghadapi potensi berkurangnya curah hujan.

Warga juga diminta menjaga kesehatan, seperti menggunakan pelindung diri atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi El Nino.

Ia mengingatkan warga agar tidak membakar sampah atau lahan sembarangan guna mencegah kebakaran.

“Pastikan juga peralatan dapur dan listrik dimatikan saat rumah ditinggalkan,” katanya.

BPBD Maros juga telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk penyaluran air bersih ke wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.

Sejumlah wilayah diperkirakan terdampak cukup parah, seperti Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.

Bahkan, dampaknya bisa meluas ke delapan hingga sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung.

Wilayah Bontoa disebut menjadi salah satu daerah paling rentan karena keterbatasan akses air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun air tanah.

“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki, dan tahun ini kemungkinan meningkat,” katanya.

Kemarau Ekstrem

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulukumba, mulai mempersiapkan peralatan menghadapi puncak musim kemarau 2026.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan bantuan bagi masyarakat yang berpotensi terdampak kekeringan.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni pengecekan armada, terutama mobil tangki pengangkut air bersih.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Bulukumba, Abd Haris, mengatakan persiapan ini dilakukan sebagai antisipasi kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

“Kami mulai mempersiapkan peralatan untuk mengantisipasi kemarau panjang atau dampak El Nino,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, kendaraan mobil tangki menjadi fokus utama dalam pengecekan.

Namun, sejumlah unit dinilai membutuhkan perawatan, khususnya pada bagian sasis agar siap digunakan saat puncak kemarau.

Menurutnya, beberapa wilayah di Bulukumba hampir setiap tahun terdampak kekeringan.

Di antaranya permukiman padat di Kassimpureng, Kecamatan Ujung Bulu, serta wilayah di Kecamatan Gantarang, Rilau Ale, dan Bontobahari yang masuk kategori rawan.

Persiapan ini dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino.

Dalam kondisi tersebut, BPBD Bulukumba rutin menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami kekurangan.

Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran Bulukumba juga memastikan kesiapan armada untuk mengantisipasi potensi kebakaran.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Damkar Bulukumba, Andi Baso Sullewatan, menyebut pengecekan kendaraan dilakukan setiap hari.

“Kami pastikan kendaraan dalam kondisi baik dan siap digunakan,” katanya.

Saat ini, lima unit kendaraan pemadam kebakaran dinyatakan siap beroperasi jika terjadi kebakaran selama musim kemarau.

Di sisi lain, Pemkab Bulukumba melalui Bupati A Muchtar Ali Yusuf telah menginstruksikan seluruh dinas terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino.

Kepala Bidang Humas Pemkab Bulukumba, Andi Ayatullah, mengatakan meski dampak El Nino diperkirakan tidak terlalu besar, langkah antisipasi tetap diperkuat.

“Pak Bupati tetap meminta kesiapsiagaan ditingkatkan,” ujarnya.

Di sisi lain, fenomena El Nino juga membawa dampak positif bagi sektor tertentu.

Petani garam tradisional di wilayah pesisir seperti Jeneponto dan Pangkep diperkirakan mengalami peningkatan produksi.

Nelayan tangkap juga berpotensi diuntungkan karena fenomena upwelling yang meningkatkan ketersediaan ikan di permukaan laut.

Rizky mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan mitigasi sejak dini.

Di sektor pertanian, petani disarankan menggunakan varietas tanaman tahan terhadap kekeringan.

Sementara di sektor sumber daya air, pemerintah diminta mengoptimalkan waduk dan cadangan air.

Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau lahan, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Selain itu, warga diimbau menjaga kesehatan selama periode cuaca panas dengan mencukupi kebutuhan cairan minimal dua liter per hari dan menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.

Untuk mendapatkan informasi resmi, masyarakat dapat mengakses aplikasi Info BMKG, situs resmi bmkg.go.id, serta kanal media sosial BMKG.

Modifikasi Cuaca

BPBD Sulsel merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mencegah dampak kekeringan akibat musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini.

Langkah tersebut disiapkan sebagai bentuk antisipasi dini, seiring prakiraan kemarau yang melanda Sulawesi Selatan secara bertahap.

Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, mengatakan pihaknya mulai menyusun berbagai langkah mitigasi.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah penerapan OMC.

OMC dinilai menjadi salah satu solusi untuk menjaga curah hujan di tengah potensi kekeringan.

Selain itu, teknologi ini juga diharapkan dapat menjaga produksi pertanian serta mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Jika memungkinkan, selama masih ada bibit awan, kita akan upayakan langkah teknologi OMC,” kata Amson, belum lama ini.

Menurut dia, ketersediaan air dan pencegahan karhutla menjadi fokus utama pemerintah daerah selama musim kemarau.

Hal ini karena kebutuhan air baku, khususnya untuk air minum, selama ini masih bergantung pada sumber air permukaan.

Karena itu, BPBD Sulsel mulai menjajaki alternatif sumber air lain yang bisa dimanfaatkan.

Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pengelola sumber daya air serta perusahaan daerah air minum (PDAM) di kabupaten/kota.

“Ini penting untuk mencari sumber air selain air permukaan, termasuk penyiapan sumur bor,” ujarnya.

Amson menyatakan pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam menghadapi musim kemarau.

Pada tahun-tahun sebelumnya, sejumlah program seperti pembangunan sumur bor untuk pertanian telah dilakukan.

Selain itu, kerja sama dengan TNI juga pernah dilakukan untuk penyediaan sumber air di wilayah permukiman.

Langkah serupa, termasuk pembangunan embung sebagai penampung air, akan dioptimalkan lagi menghadapi kemarau tahun ini.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved