KLB Campak
Langkah Dinas Kesehatan Sulsel Atasi Kasus Suspek Campak
Campak mungkin hanya dianggap bagian dari masa kecil. Datang, lalu pergi. Namun ketika ia kembali dalam skala yang lebih luas, ceritanya berubah.
Cermin dari lemahnya cakupan imunisasi, terbatasnya edukasi, atau bahkan minimnya kehadiran negara di titik-titik paling rentan.
Pemerintah memang telah bergerak.
Imunisasi tambahan digencarkan.
Puskesmas disiagakan.
Baca juga: Bulukumba Percepat Cakupan Imunisasi Campak
Namun KLB tidak terjadi dalam semalam.
Ia tumbuh perlahan, dari celah-celah yang dibiarkan.
Dari kelalaian yang luput diperbaiki.
Karena itu, status KLB tidak boleh lagi direspons secara reaktif.
Tidak cukup hanya mengejar kasus yang sudah muncul.
Dibutuhkan langkah yang lebih tegas.
Lebih menyeluruh dan lebih konsisten.
Campak memiliki gejala khas, di antaranya demam tinggi mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius.
Gejala ini biasanya disertai batuk kering, pilek, serta mata merah atau konjungtivitis.
Selain itu, muncul ruam merah pada kulit yang umumnya timbul 3 hingga 5 hari setelah gejala awal.
Ruam biasanya dimulai dari belakang telinga atau wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260413-Vaksinasi-Campak-di-Bulukumba.jpg)