Poadcast Tribun Timur
Kisah Nyata Keluarga Korban Westerling: Kakek Ditembak, Tante Ditawan
Keluarga korban pembantaian Westerling di Parepare kembali mengungkap kisah kelam 1947, saat kakek dan tante Musyafir Kelanaan menjadi korban..
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Sukmawati Ibrahim
Ringkasan Berita:
- Pembantaian Westerling 1946–1947 di Sulsel menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban.
- Musyafir Kelanaan menceritakan kakeknya ditembak mati di Parepare, sementara tantenya ditawan namun selamat karena larangan eksekusi perempuan.
- Sejarawan Herlina menyebut jumlah korban ribuan jiwa, meski angka 40 ribu muncul dari Kahar Muzakkar sebagai simbol besarnya pengorbanan pejuang.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pembantaian Westerling menyisakan cerita suram bagi keluarga korban.
Kisah itu masih tersimpan di benak, Musyafir Kelanaan, keluarga korban pembantaian Westerling.
"Bagi kami keluarga, peristiwa itu nyata," kata Musyafir Kelanaan dalam podcast berjudul Sejarah Hitam Pembantaian 40.000 Jiwa Westerling di Sulsel (1946 - 1947) di Redaksi Tribun-Timur.com, Rabu (10/12/2025).
Tepatnya Februari 1947, kakek Musyafir Kelanaan ditembak mati saat Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan.
Di keluarganya, ada dua orang korban.
Kakek dan tante Musyafir.
Rumah kakek Musyafir merupakan titik perkumpulan pejuang laskar Ganggawa.
Musyafir bercerita, kakeknya memang sudah ditargetkan oleh Detasemen Speciale Troepen (DST).
Kakeknya sebagai pejuang kemerdekaan dilihat sebagai seorang tokoh mampu mengumpulkan pejuang.
"Rumahnya kakek ini jadi markas di Pare-pare di situlah tempat mereka (berkumpul). Tentunya pihak lawankan sudah pintar sudah mengetahui keluarga menjadi target sasaran mereka. Inilah yang terjadi pada saat itu dan penembakannya di antara kawan-kawannya," ujar Westerling.
Kakeknya ditembak mati di sekitar terminal. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Raya Parepare.
Kakek Musyafir ditembak dalam keramaian.
Diantara anggota-anggota pejuang.
"Kakek saya itu kan penembakannya di terminal kan. Itu monumen itu (40 Ribu Jiwa) terminal dulu. Samping masjid raya sekarang Pare-pare, itu terminal dulu. Eksekusinya di situ. Jadi di hadapan keramaian," ujarnya.
Setelah itu, dimakamkan di Jl Kusuma dalam satu liang lahat.
| Nurdin Halid: Kegagalan KUD Harus Jadi Pelajaran di Koperasi Desa Merah Putih |
|
|---|
| Tak Sekadar Charity, BMH Sulsel Sasar Kelompok Rentan hingga Bantuan untuk Palestina |
|
|---|
| Mudahkan Umat, BMH Sulsel Terapkan Sistem Blockchain untuk Transparansi Zakat |
|
|---|
| Pilkada 'Mini', Tantangan Pemilihan RT/RW di Era Munafri–Aliyah |
|
|---|
| Profesi Mulia yang Terus Teruji: PGRI Kupas Ancaman Kriminalisasi Guru di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-10-WERTERLING-12.jpg)