Prof Nurhayati Rahman: Soppeng Kehilangan Identitas Kebudayaan
Padahal, Soppeng memiliki sejarah besar dan peran penting dalam peradaban Bugis-Makassar di Sulsel.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Alfian
TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR - Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Nurhayati Rahman, menilai Kabupaten Soppeng sedang mengalami krisis identitas kebudayaan.
Padahal, Soppeng memiliki sejarah besar dan peran penting dalam peradaban Bugis-Makassar di Sulsel.
Pernyataan itu disampaikan Prof Nurhayati dalam dialog publik bertajuk Membaca Soppeng Kontemporer: Sebuah Refleksi Publik yang digelar di ruang redaksi Tribun Timur, Jalan Cenderawasih, Makassar, Selasa (10/2/2026) sore.
Menurut Prof Nurhayati, masyarakat Bugis memiliki keunikan yang jarang ditemukan di belahan dunia lain.
Ia berpendapat, sistem pemerintahan tradisional Bugis tidak lahir dari penaklukan atau peperangan, melainkan dari kontrak sosial antara pemimpin dan rakyat.
“Kita sudah tahu, satu-satunya bentuk pemerintahan tradisional di dunia yang tidak dilakukan melalui penaklukan dan perang, tetapi melalui kontrak sosial, itu ada di Sulsel. Bahkan, kontrak sosial tertua di dunia ini melampaui Barat,” ujarnya.
Baca juga: Konflik DPRD dan BKPSDM Disorot, Asratillah: Jangan Korbankan Masa Depan Soppeng
Ia menjelaskan, konsep tersebut juga hidup di Soppeng melalui figur To Manurung, yang menjadi simbol awal terbentuknya tatanan pemerintahan Bugis.
Dalam catatan sejarah, saat Kerajaan Gowa melakukan ekspansi besar-besaran, tiga kerajaan Bugis yakni Bone, Wajo, dan Soppeng memilih bersatu.
Persatuan itu kemudian dikenal sebagai aliansi Bosowa.
“Bosowa ini adalah representasi kebudayaan Bugis di Sulsel. Soppeng adalah salah satu kerajaan besar, karena ia bagian dari aliansi itu. Persatuan tersebut dikenal melalui sumpah Lamung Patue di Timurung,” jelas Prof Nurhayati.
Namun, ia menilai kebesaran sejarah tersebut kini tidak tercermin secara simbolik di Soppeng.
Prof Nurhayati bahkan mengaku pernah menyampaikan keberatannya kepada bupati sebelumnya, Andi Kaswadi Razak, terkait absennya simbol kebesaran kerajaan di daerah itu.
“Saya pernah protes, Soppeng ini satu-satunya kerajaan besar di Sulsel yang tidak punya istana. Kalau kita ke Luwu, ada ikon istananya. Ke Gowa juga ada istana sebagai penanda bahwa di situ pernah ada kekuasaan. Sementara di Soppeng, itu tidak ada,” ungkapnya.
Menurutnya, hilangnya simbol dan penanda sejarah membuat Soppeng perlahan kehilangan identitas kebudayaannya.
Kondisi ini, kata dia, berdampak pada rapuhnya kohesi sosial dan meningkatnya kerentanan konflik.
| Kala Menteri Haji dan Umrah Gus Irfan Hitung Gelang dan Cincin Jamaah Haji Soppeng |
|
|---|
| Pasir Putih Lasonrai Beach Jadi Primadona saat Libur Idul Adha |
|
|---|
| Warung Cabe Andalan Soppeng, Sajikan Menu Lezat Harga Ramah Kantong Mahasiswa |
|
|---|
| Prof Aminuddin Ilmar Bongkar Permasalahan Good Governance dalam Bukunya |
|
|---|
| 1.475 Hewan Kurban Disembelih di Soppeng: Prabowo Sumbang 1, Suwardi Haseng 3, dan Selle 1 Sapi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260210-Prof-Nurhayati-Rahman.jpg)