Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Berawal dari Pandemi, Jamu Racikan Warga Bone Ini Jadi Oleh-oleh hingga Jakarta

Perempuan yang merintis usaha rumahan bernama Berjamu itu menawarkan beragam minuman tradisional hasil racikan sendiri.

Tayang:
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Hardiyanti Kamaluddin
USAHA JAMU - Hj Ani menjual minuman tradisional di Car Free Day (CFD) di Taman Arung Palakka, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Minggu (7/6/2026). Usaha Berjamu yang ia rintis 2020 lalu di Bone, kini telah dikenal luas di Makassar hingga Jakarta sebagai oleh-oleh.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Suasana Car Free Day (CFD) di Taman Arung Palakka, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Minggu (7/6/2026), tak hanya dipenuhi warga yang berolahraga.

Aroma rempah-rempah khas jamu tradisional juga menarik perhatian pengunjung yang ingin memulai hari dengan minuman sehat dan menyegarkan.

Di antara deretan pelaku usaha yang memadati kawasan CFD, lapak milik Hj Ani menjadi salah satu yang ramai dikunjungi.

Perempuan yang merintis usaha rumahan bernama Berjamu itu menawarkan beragam minuman tradisional hasil racikan sendiri.

Mulai dari jamu, sarabba, jamu celup, hingga minuman bunga telang.

“Banyak jenis minuman tradisional yang saya jual. Ada jamu, sarabba, jamu celup, bunga telang, dan sebagainya,” ujar Hj Ani.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, jamu bukan sekadar minuman tradisional.

Jamu telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun dan dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan.

Bahan-bahan alami seperti jahe, kunyit, temulawak, serai, dan kayu manis dipercaya dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu juga dapat menghangatkan badan, melancarkan pencernaan, hingga membantu meredakan keluhan ringan seperti masuk angin dan pegal-pegal.

Momentum pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik awal berkembangnya usaha yang dijalankan Hj Ani.

Saat itu, masyarakat mulai mencari berbagai minuman herbal untuk menjaga kebugaran tubuh, terutama yang berbahan dasar jahe merah.

“Saya memulai usaha ini saat awal pandemi. Ketika itu banyak orang mencari minuman tradisional berbahan jahe merah untuk menjaga kesehatan,” katanya.

Dari usaha rumahan sederhana, Berjamu terus berkembang.

Produk-produknya kini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Bone, tetapi juga telah menembus pasar yang lebih luas.

Bahkan, sejumlah toko besar seperti Hypermart dan pusat oleh-oleh di Makassar mulai memasarkan produk tersebut.

Salah satu produk unggulannya adalah jamu celup kemasan yang dijual dengan harga Rp45 ribu.

Praktis dan mudah disajikan, produk ini menjadi pilihan wisatawan yang ingin membawa pulang cita rasa rempah khas Sulawesi Selatan.

“Jamu celup yang dulunya hanya dikenal oleh masyarakat Bone, kini sudah dikenal lebih luas hingga Jakarta dan sering dijadikan oleh-oleh,” tambahnya.

Hj Ani menunjukkan bahwa warisan kuliner tradisional masih memiliki tempat di tengah modernisasi.

Di saat berbagai minuman kekinian terus bermunculan, jamu tetap bertahan karena menawarkan sesuatu yang tak lekang oleh waktu.

Cita rasa alami, nilai budaya, dan manfaat kesehatan.

Dari secangkir jamu yang diseduh di pagi hari, tersimpan harapan.

Agar tradisi leluhur tetap hidup sekaligus menjadi peluang ekonomi yang mampu mengangkat produk lokal Bone ke panggung yang lebih luas (*)

Laporan Reporter: Hardiyanti Kamaluddin

 
 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved