Ramadan 1447 H
Tradisi Mabbaca-baca Sambut Ramadan di Mampotu Bone Sulsel
warga Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali di Kabupaten Bone kembali menghidupkan tradisi Mabbaca-baca
Penulis: Wahdaniar | Editor: Muh Hasim Arfah
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, warga Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali di Kabupaten Bone kembali menghidupkan tradisi Mabbaca-baca.
Mabbaca-baca merupakan ritual lisan masyarakat Bugis yang berisi doa syukur dan keselamatan sebagai bentuk permohonan berkah kepada Tuhan.
Tradisi Mabbaca-baca, dalam bahasa Bugis artinya membaca doa.
Tetapi tradisi Mabbaca-baca ini tidak seperti membaca doa pada umumnya.
Doa dibacakan oleh seorang pembaca (orang yang dipercaya).
Tradisi Mabbaca-baca dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti pada hari lebaran, selamatan setelah panen padi, selamatan ketika membeli motor atau mobil baru, selamatan naik rumah baru.
Tradisi ini banyak dijumpai di berbagai wilayah yang ditempati oleh masyarakat suku Bugis.
Proses pelaksanaan tradisi Mabbaca-baca disetiap daerah harusnya seragam jika mengacu pada pelaksanaan tradisi.
Tradisi lisan masyarakat Bugis ini dilakukan dengan menyiapkan hidangan seperti nasi, sokko, ayam, pisang, serta dupa di setiap rumah warga.
Baca juga: Munafri Arifuddin Pilih Kurma dan Air Putih saat Sahur
Hidangan tersebut kemudian dibacakan doa oleh seorang ustaz sebelum disantap bersama keluarga.
Suasana desa tampak khusyuk, karena hampir seluruh rumah melaksanakan ritual tersebut secara serentak.
Warga percaya Mabbaca-baca merupakan perpaduan adat Bugis dan nilai Islam yang harus tetap dijaga keberlangsungannya.
Salah satu warga, Darma (35), mengatakan tradisi ini sudah dilakukan sejak masa orang tua mereka.
“Ini memang sudah turun temurun, setiap mau Ramadan kami selalu lakukan Mabbaca-baca. Tujuannya untuk syukur dan berharap berkah dari Allah,” ujarnya sambil menata makanan yang akan di doakan, Rabu (18/2/2026).
Menurut Darma, tradisi ini juga menjadi momen keluarga untuk berkumpul sebelum memasuki ibadah puasa.
Warga lainnya, Sitti (42), mengaku Mabbaca-baca membuat suasana desa terasa lebih hangat.
“Kalau sudah Mabbaca-baca, suasana kampung jadi beda. Semua rumah ramai doa, lalu makan bersama. Rasanya lebih dekat satu sama lain,” kata Sitti.
Ia berharap tradisi ini tidak hilang dan dapat terus diwariskan kepada anak cucu.(*)
| Celengan Masjid Agung Bulukumba Selama Ramadan Capai Rp 207 Juta, Islamic Center Rp16 Juta |
|
|---|
| Ramadan ke-28: I’tikaf Anak Muda, Menjemput Lailatul Qadar Menuju Fitrah |
|
|---|
| ARW Bantu Warga Sambut Lebaran, 2.200 Paket Sembako Disalurkan |
|
|---|
| Ramadan Berbagi, Dharma Wanita UPBU Arung Palakka Salurkan Sembako ke Panti Hidayatullah Bone |
|
|---|
| Gerindra Makassar Buka Puasa, Eric Horas: Anggota DPRD Alat Komunikasi Wujudkan Kebutuhan Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260218_MABBACA-BACA_tradisi-mabbaca-baca-Bone.jpg)