Salam Tribun Timur
Pesta Ekonomi Rakyat 2026
Piala Dunia memang selalu punya sihirnya sendiri. Ia sanggup membuat orang tidur subuh demi satu pertandingan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Piala Dunia 2026 (Pildun 2026) memang masih beberapa hari lagi.
Tetapi denyutnya mulai terasa di Sulawesi Selatan.
Bukan di stadion.
Bukan di lapangan rumput.
Melainkan di warkop, kafe, hotel, hingga halaman permukiman warga.
Ratusan komunitas, pelaku UMKM, warung kopi, hingga hotel mulai mendaftarkan diri menjadi lokasi resmi nonton bareng (nobar) melalui program Bola Gembira TVRI.
Piala Dunia memang selalu punya sihirnya sendiri.
Ia sanggup membuat orang tidur subuh demi satu pertandingan.
Membuat orang yang tak saling kenal mendadak berpelukan saat gol tercipta.
Bahkan mampu mengubah warung kopi kecil menjadi “stadion mini” penuh teriakan.
Nobar sepak bola sudah menjadi budaya urban sekaligus budaya kampung di Sulsel.
Dari hotel berbintang sampai pos ronda.
Dari lobi mewah sampai tikar depan rumah.
Karena itu, meningkatnya antusiasme nobar Pildun 2026 sesungguhnya bukan sekadar soal olahraga.
Ini juga soal ekonomi rakyat.
Warkop hidup.
Penjual kopi bergerak.
UMKM makanan ringan mendapat pembeli tambahan.
Hotel menyiapkan paket menginap sekaligus nobar.
Bahkan pusat kuliner bisa ikut bergairah hanya karena satu pertandingan berlangsung tengah malam.
Dalam bahasa ekonomi, ini disebut multiplier effect.
Dalam bahasa warga “ada rezeki tambahan.”
Komunitas, RT/RW, UMKM, hingga kegiatan sosial diberi izin gratis nobar Pildun 2026 selama non-komersial.
Ini penting agar masyarakat bisa menikmati euforia sepak bola tanpa dibayang-bayangi persoalan hak siar.
Tetapi ada satu catatan penting.
Euforia jangan sampai berubah menjadi euforia tanpa tertib.
Makassar dan banyak daerah di Sulsel punya pengalaman panjang: nobar besar kadang berakhir pada keributan kecil.
Jalanan macet.
Sampah berserakan.
Suporter berlebihan.
Bahkan gesekan antarpendukung tim.
Padahal Piala Dunia seharusnya menjadi ruang kebersamaan, bukan arena pertengkaran.
Karena itu, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga penyelenggara nobar perlu mulai menyiapkan mitigasi.
Parkir harus diatur.
Jam operasional diperjelas.
Pengamanan ringan di titik keramaian perlu disiapkan tanpa berlebihan.
Yang juga penting: jangan sampai UMKM kecil justru tersingkir.
Jangan hanya hotel besar dan tempat elite yang menikmati berkah Piala Dunia.
Warkop kecil, pedagang gorengan, penjual kopi sachet, hingga lapak kaki lima juga harus ikut merasakan denyut ekonominya.
Sebab sesungguhnya Piala Dunia bukan hanya tentang siapa juara.
Di Sulsel, Piala Dunia juga tentang siapa yang kebagian rezeki.
Dan jika dikelola baik, mungkin tahun ini kita tidak hanya menyaksikan pesta sepak bola dunia.
Tetapi juga pesta ekonomi rakyat. Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260604-Ini-Syarat-RTRW-di-Sulsel-Bisa-Nobar-Gratis-Piala-Dunia-2026.jpg)