Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Literasi Ulama

Haul ke-9 AGH Bakri Kadir

Beliau salah satu pendiri Pesantren Pondok Madinah dan Pesantren Al-Fakhriyah Makassar, wafat pada hari Rabu, 24/5/2017.

Tayang:
Ist
OPINI - Firdaus Muhammad, Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin, dan Pengurus MUI Sulsel 

Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin, dan Pengurus MUI Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Haul ke-9 atas wafatnya Anregurutta Haji (AGH) Bakri Kadir (1950-2017) diperingati para santri.

Beliau salah satu pendiri Pesantren Pondok Madinah dan Pesantren Al-Fakhriyah Makassar, wafat pada hari Rabu, 24/5/2017.

Beliau adalah ulama NU yang loyal untuk pengembangan jamiyah.

Ayah kandung Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, LC, MA itu berhasil membina anak-anaknya, para santri dan khidmat pada umat.

AGH. Bakri Kadir dilahirkan di Soppeng, 1 Januari 1950, tepatnya 67 tahun silam.

Abdul Kadir, ayahnya, seorang petani yang memiliki perhatian tinggi terhadap pendidikan agama.

Sebagai tokoh agama, Abdul Kadir mendirikan Perguruan Ganra di Soppeng.

Salah satu santrinya adalah Bakri Kadir, putranya.

Sejumlah ulama yang mengajar di perguruan tersebut diantaranya AGH. Rahman Pakanna (ayah Prof. Dr. Jalaluddin Rahman), dan AGH. Nasir masing-masing alumni Pesantren As’adiyah yang diajar AGH Muh. As’ad dan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, saat masih mukim di Sengkang.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Ganra Soppeng, AGH. Bakri Kadir merantau ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Beliau kemudian terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Arab dan merupakan angkatan ketiga pada Fakultas Adab IAIN Alauddin Makassar.

Selain aktif kuliah, AGH. Bakri Kadir, juga aktif berorganisasi yakni PMII dan NU dan giat menjaga nilai-nilai aswaja.

Pernah menjabat khatib syuriah NU Makassar.

Selain itu, kecintaannya pada pengajian kitab kuning senantiasa ditunaikan ditandai keaktifannya mengikuti pengajian kitab kuning pada al-Allamah Nasirussunnah AGH. Muhammad Nur dan AGH. Abdul Kadir Khalid, MA.

Mengaji kitab kuning pada kedua ulama tersebut dan AGH. Mustafa Nuri cukup mewarnai keilmuannya.

Beliau mengaji bersama-sama AGH. Muh. Harisah AS.

Berlatar belakang pendidikan pesantren, maka sehari-hari beliau tidak terlepas dari kegiatan dakwah dan pendidikan.

Prof. Dr. KH. Muammar Bakri Lc, MA, Putra tertuanya, mengisahkan kiprah ayahmnya.

Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami itu, menyebut ayahnya merupakan salah seorang pendiri Pesantren Pondok Madinah Makassar.

Awalnya, H. Sappe menemuinya dengan niatan membangun masjid.

Namun kemudian AGH. Bakry Kadir mengusulkan untuk mendirikan pesantren sehingga usul diterima.

Selain beliau, kepoloporan AGH. Dr (Hc) Sanusi Baco Lc, Pesantren Pondok Madinah eksis hingga kini.

Selain membina Pesantren Pondok Madinah, juga membina Pesantren Al-Fakriah Bulurokeng bersama putra-putranya.

Sisi keteladanannya dalam mendidik anak, selain soal hafal al-Qur’an, AGH. Bakri Kadir “mewajibkan” anak-anaknya belajar di Universitas al-Azhar Kairo Mesir.

Impian beliau terwujud, enam putra-putrinya lulusan Al-Azhar, bahkan semua menantunya juga lulusan dari Universitas Al-Azhar, Mesir.

Keahliannya di bidang qawaid dan sehari-hari mengabdikan diri untuk ilmu.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved