Salam Tribun Timur
Mencari Murid Berprestasi dengan Cara Lebih Adil
Ada pula yang gelisah melihat nilai anak, sambil berharap pintu sekolah impian tetap terbuka.
Sebaliknya, ada pula yang sangat baik di ujian, tetapi kurang stabil dalam proses pembelajaran harian.
Di sinilah pentingnya keseimbangan.
Ketika nilai TKA dipadukan dengan rapor, sekolah sedang diajak melihat siswa secara lebih utuh.
Tidak hanya kemampuan menjawab soal dalam beberapa jam, tetapi juga jejak belajar selama bertahun-tahun.
Pemerintah Kota Makassar tampaknya ingin mengirim pesan: prestasi bukan soal sekali tampil hebat, tetapi tentang konsistensi.
Dalam kasus ini, Dinas Pendidikan Kota Makassar layak mendapat apresiasi karena mencoba membangun sistem yang lebih komprehensif.
Apalagi langkah ini tetap berada dalam koridor regulasi nasional, namun disesuaikan dengan kebutuhan lokal agar lebih adil.
Yang juga menarik, jalur prestasi non-akademik tetap diberi ruang jelas.
Prestasi olahraga, seni, maupun kompetisi lain tetap dihargai.
Tetapi dengan standar verifikasi yang lebih ketat.
Sertifikat harus berasal dari lembaga resmi, masa berlakunya dibatasi, dan hanya satu capaian terbaik yang digunakan.
Ini penting untuk menjaga kredibilitas sistem.
Karena pengalaman selama ini menunjukkan, polemik penerimaan siswa sering kali lahir bukan dari sistemnya, melainkan dari ruang abu-abu yang terlalu longgar.
Tentu, tidak ada sistem yang sempurna.
Selalu ada kritik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SPMB-SULSEL-Sistem-Penerimaan-Murid-Baru-SPMB-Sulsel.jpg)