Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Waisak: Dharma dan Perdamaian Dunia

Tahun ini, Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE.) atau Tarikh Buddhis (TB.) diperingati pada tanggal 31 Mei 2026.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Miguel Dharmadjie penulis Opini Tribun Timur. 

Oleh: Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®, CCDd®
Dhammaduta

TRIBUN-TIMUR.COM - Tahun ini, Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE.) atau Tarikh Buddhis (TB.) diperingati pada tanggal 31 Mei 2026.

Momen puncak peringatan Waisak saat bulan purnama mencapai titik tertingginya; yang dikenal sebagai Detik-Detik Waisak 2570; jatuh pada pukul 15.44.44 WIB.

Hari Tri Suci Waisak merupakan satu dari empat hari suci agama Buddha.

Waisak dikenal sebagai Hari Buddha.

Memperingati tiga peristiwa suci, agung, dan mulia dalam kehidupan Buddha Gotama.

Yang terjadi saat purnama raya di bulan Waisak; pada hari yang sama, namun tahun yang berbeda.

Saat kelahiran Pangeran Siddharta Gotama di Taman Lumbini, Nepal (623 SM).

Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Buddha di Bodhgaya, India (588 SM).

Serta Kemangkatan Buddha Gotama (Parinibbana) di Kusinara, India (543 SM).

Bagi umat Buddha, peringatan Waisak bukan sekadar seremoni keagamaan tahunan.

Tetapi menjadi momen refleksi merenungkan keteladanan Guru Agung Buddha Gotama.

Sebagai motivasi dan semangat agar semakin tekun mempraktikkan nilai-nilai luhur Kebenaran Universal (Dhamma).

Dhamma merupakan bahasa Pali, sedangkan dalam bahasa Sansekerta dikenal sebagai Dharma.

Dhamma memuat nilai-nilai universal yang sangat penting dalam peningkatan kualitas batin.

Karenanya, Dhamma menjadi penuntun dan pedoman hidup luhur dalam praktik kehidupan bersesama.

Baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

Peringatan Waisak menjadi momentum bagi umat Buddha untuk senantiasa mengintrospeksi diri.

Melihat ke dalam diri sendiri, sejauh mana telah mempraktikkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun ini, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Ditjen Bimas Buddha) Kementerian Agama RI menetapkan “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia” sebagai tema nasional peringatan Waisak 2570.

Tema ini menjadi sangat relevan dengan kondisi global saat ini.

Di mana situasi dunia penuh persaingan.

Beragam konflik muncul akibat dari hasrat kebencian yang terus dituruti.

Kedamaian hidup dan perdamaian dunia pun sulit tercipta.

Konflik berujung pada penderitaan, membuat kecemasan batin dan kegelisahan pun semakin bertambah.

Waisak mengingatkan kembali umat Buddha.

Bahwa kedamaian sejati lahir dari kesadaran di dalam diri sendiri, bukan lahir dari luar.

Membangun kesadaran di dalam diri diawali dengan mempraktikkan nilai-nilai Dhamma yang universal.

Dengan mempraktikkan Dhamma, umat Buddha turut berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia.

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menekankan pentingnya  Dhamma sebagai penuntun kehidupan manusia.

Pesan Waisak Menteri Agama RI ini  diunggah pada WhatsApp Channel Ruang Kesadaran pada tanggal 16 Mei 2026.

“Peringatan Waisak tahun ini mengangkat tema yang berfokus pada Dharma dan perdamaian dunia. Hal ini mengingatkan kita bahwa Dharma bukan sekadar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia untuk tetap teguh dalam nilai-nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan di tengah dinamika zaman,” kata Menteri Agama RI.

Sementara itu, Dikasteri untuk Dialog Interreligius Dewan Kepausan dalam “Pesan Hari Raya Waisak 2026”.

Menekankan pentingnya membersihkan hati kita dari permusuhan, untuk melampaui sekat-sekat yang membatasi, dan untuk saling mengenali sebagai anggota dari satu keluarga manusia.

Ucapan-ucapan Buddha menawarkan jalan yang penuh wawasan.

Sang Buddha mengajarkan: “Kebencian tidak pernah diredakan oleh kebencian; hanya dengan tidak membenci kebencianlah kebencian diredakan. Ini adalah hukum abadi.” (Dhammapada 5).

Dan lagi: “Janganlah ada yang menipu orang lain atau menghina makhluk apa pun… Janganlah ada yang karena amarah atau niat jahat menginginkan keburukan bagi orang lain.” (Sutta Nipata 1.8 – Metta Sutta). 

“Membina perdamaian tanpa senjata dan melucuti senjata juga berarti memelihara sumber-sumber terdalamnya: doa, kontemplasi, dan transformasi batin. Ini adalah perdamaian yang dijalani setiap hari dalam tindakan kebaikan, dalam kesabaran, dalam penolakan kebencian dan balas dendam, dan dalam keberanian untuk berharap. Karena perdamaian bukanlah ilusi atau cita-cita yang jauh; itu adalah kemungkinan nyata yang sudah berada dalam jangkauan kita, menunggu untuk disambut dan dibagikan. Hal ini menunjukkan pentingnya hati yang dilucuti dari kebencian. Yang dimulai dari hati kita setiap hari, sedikit demi sedikit, melucuti dirinya dari kebencian,” tulis Pesan Waisak dari Vatican bertanggal 1 Mei 2026.

Tema Waisak dan Pesan Waisak 2570 BE. dari Ditjen Bimas Buddha, Menteri Agama RI, dan Dikasteri untuk Dialog Interreligius Dewan Kepausan, semakin menegaskan pentingnya Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan dalam menjaga perdamaian dunia.

Dharma adalah kesadaran untuk memilih kebaikan di tengah dunia yang mendorong manusia untuk menjadi egois.

Dharma menjadi sumber moral dan kebijaksanaan.

Karenanya, Dharma menjadi sangat relevan untuk membangun kedamaian batin.

Termasuk dalam kondisi global saat ini.

Dharma mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran.

Karena manusia yang sadar tidak akan mudah menyakiti makhluk lain.

Guru Agung Buddha mengajarkan bahwa akar penderitaan manusia berasal dari tiga kekotoran batin.

Yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha).

Kekotoran batin itulah yang membuat manusia mudah egois, tersinggung, iri, marah, hingga tersulut permusuhan, pertikaian hingga peperangan.

Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian.

Kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih.

Merupakan pesan Guru Agung Buddha yang sangat mendalam, yang ditekankan pula dalam Pesan Waisak 2026 dari Vatican.

Ajaran Buddha menekankan pentingnya melatih dan mempraktikkan kemoralan (sila) dalam kehidupan sehari-hari.

Kemoralan menjadi fondasi penting bagi terciptanya kedamaian hidup.

Kemurnian moral merupakan permulaan untuk melatih pengembangan konsentrasi (samadhi) dan kebijaksanaan (panna).

Kebijaksanaan sebagai dasar kualitas batin membuat seseorang dengan jelas mengetahui dan membedakan: hal yang benar ataupun hal yang tidak benar, hal yang baik ataupun hal yang tidak baik, hal yang nyata ataupun hal yang tidak nyata.

Kebijaksanaan memiliki peranan penting dalam peningkatan kualitas batin seseorang, sehingga Guru Agung Buddha mendorong untuk melatih dan mengembangkan kebijaksanaan.

Karena kebijaksanaan kunci menciptakan hubungan harmonis kehidupan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Sesungguhnya kemenangan terbesar manusia bukanlah ketika berhasil mengalahkan orang lain.

Melainkan ketika mampu mengalahkan ego, keserakahan, kebencian, dan kemarahan dalam diri sendiri.

Kedamaian batin menjadi fondasi untuk mencapai perdamaian dunia yang lebih luas.

Kedamaian batin di dalam diri setiap individu harus lebih dulu terjamin, sebelum membangun kedamaian di dunia luar.

Perdamaian dunia lahir dari perdamaian batin setiap individu.

Perdamaian lahir dari hati manusia yang terbebas dari kebencian.

Perdamaian lahir dari manusia yang memiliki hati dan kesadaran.

Jika manusia tekun mempraktikkan Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan, maka dunia akan lebih damai.

Karena perdamaian dunia dimulai dari hati yang tenang.

Mari jadikan Waisak sebagai momentum bagi umat Buddha untuk memperkuat tekad dalam mempraktikkan Dhamma, menjalankan ajaran Guru Agung Buddha.

Menjadikan Dharma sumber moral dan kebijaksanaan untuk menjaga perdamaian dunia.

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 TB. / 2026.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Sang Tiratana, selalu melindungi.

Semoga semua makhluk berbahagia.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved