Salam Tribun Timur
Aspal Ikut Panas
Bukan hanya harga BBM dan gas elpiji yang melonjak. Kini aspal ikut menjulang. Masa depan pembangunan ikut mendidih.
TRIBUN-TIMUR.COM - Bukan hanya harga BBM dan gas elpiji yang melonjak.
Kini aspal ikut menjulang.
Ketika aspal mulai mahal, sesungguhnya yang sedang ikut memanas bukan cuma jalan raya.
Masa depan pembangunan ikut mendidih.
Tiba-tiba harga aspal menjadi isu sensitif di negeri ini.
Karena aspal bukan sekadar cairan hitam penutup jalan.
Aspal adalah urat nadi proyek infrastruktur.
Ia menentukan apakah jalan mulus bisa terwujud atau tinggal janji dalam baliho proyek.
Sulawesi Selatan sedang berada di tengah proyek multiyears jalan senilai Rp3,7 triliun.
Lima paket besar sedang berjalan. Jalan-jalan penghubung daerah sedang dibangun.
Tetapi dunia global yang “kurang bersahabat”, meminjam istilah Kadis BMBK Sulsel, ikut menyeret harga aspal ke langit.
Kontraktor sudah menjerit.
Harga aspal yang sebelumnya berkisar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp24 ribu sampai Rp33 ribu.
Naiknya bukan sedikit.
Lebih dari 50 persen.
Dan yang lebih menakutkan: harga berubah-ubah nyaris tanpa kepastian.
Supplier mulai menahan distribusi. Kontraktor kesulitan membeli stok besar.
Semua menunggu.
Semua berhitung ulang.
Di titik ini, proyek jalan mulai memasuki fase paling rawan: antara mempertahankan kualitas atau mengurangi kuantitas.
Pemerintah Sulsel masih berhati-hati.
Regulasi pusat sedang ditunggu.
Opsi revisi gambar mulai dibicarakan.
Artinya jelas: panjang jalan bisa berkurang.
Karena anggaran tetap, tetapi harga material melompat jauh.
Krisis global kini benar-benar sudah turun ke jalan.
Bukan lagi sekadar angka minyak dunia atau perang di Timur Tengah.
Dampaknya sudah terasa di proyek-proyek daerah.
Di jalan yang belum selesai.
Di alat berat yang mulai berhitung.
Di kontraktor yang mulai waswas.
Ironinya, masyarakat biasanya baru sadar pentingnya aspal ketika jalan rusak.
Padahal sebelum jalan berlubang, yang lebih dulu berlubang adalah perencanaan anggaran.
Karena itu pemerintah tidak boleh lambat membaca keadaan.
Jika kenaikan ini memang force majeure global, maka pusat harus segera memberi kepastian regulasi.
Jangan biarkan daerah dan kontraktor menggantung di tengah proyek.
Evaluasi harga satuan harus cepat dilakukan.
Skema penyesuaian kontrak harus jelas.
Dan yang paling penting: kualitas jalan jangan dikorbankan demi mengejar volume proyek.
Karena jalan yang dibangun terburu-buru biasanya hanya mulus saat peresmian.
Setelah itu retak. Lalu ditambal lagi. Lalu dianggarkan lagi.
Sulsel membutuhkan jalan yang tahan lama, bukan proyek yang hanya tahan kamera drone.
Krisis boleh datang. Harga boleh melonjak. Tetapi pembangunan tidak boleh kehilangan arah.
Sebab jika aspal saja sudah terasa panas, maka pemerintah harus memastikan kepala publik tidak ikut mendidih.
Wassalam.
| Liga 'Polisi' Super Lucu: Penjaga Lebih Banyak Daripada yang Dijaga |
|
|---|
| Tergantung Pak Polisi |
|
|---|
| Antimager vs Antidemo: Antara Gerak yang Dirayakan dan Gerak yang Dikendalikan |
|
|---|
| Leave Your Mark: 22 Tahun Berjejak Bersama Tribun Timur Lokal Bercerita Menjangkau Dunia |
|
|---|
| Jalan Sehat Anti Mager vs Jalan Sehat Anti Malas Mikir dalam Mental Pejabat yang Selalu Mau Dikagumi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260331-perbaikan-jalan-Seko-Sulsel-kini-diaspal.jpg)