Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Solusi Sampah dari Kampus

Kampus bukan sekadar ruang akademik, melainkan juga miniatur masyarakat yang memiliki sistem tata kelola, populasi besar, dan budaya kolektif.

Tayang:
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Hafiz Elfiansya Parawu, Dosen FISIP dan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar 

Kampus negeri seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada telah mengembangkan program zero waste campus dan pengelolaan sampah terpadu.

Kampus swasta seperti Universitas Muhammadiyah Makassar juga telah turut andil dengan mendirikan Sustainable Waste Solutions Centre (SWSC) sebagai pusat pengelolaan sampah berkelanjutan guna mendukung visi kampus hijau (green campus), edukasi lingkungan, dan ekonomi sirkular.

Hal ini juga sebagai upaya untuk tidak menambah beban Pemerintah Kota Makassar yang saat ini sedang mengatasi timbulan sampah yang mencapai 800-1.000 ton per hari.

Namun, untuk menjadikan kampus sebagai solusi sistemik, diperlukan dukungan kebijakan yang lebih konkret.

Pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang mewajibkan setiap perguruan tinggi memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

Insentif fiskal maupun non-fiskal bagi kampus yang berhasil mengurangi timbulan sampah secara signifikan juga patut diberikan.

Integrasi pengelolaan sampah dalam kurikulum dan kegiatan kemahasiswaan juga harus didorong melalui kebijakan nasional pendidikan tinggi.

Pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara kampus, pemerintah daerah, dan sektor swasta dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah.

Dan, penting juga membangun sistem monitoring dan evaluasi berbasis data digital agar kinerja pengelolaan sampah di kampus dapat diukur secara transparan dan akuntabel.

Pendekatan berbasis data ini akan menjadi kunci dalam memastikan efektivitas kebijakan.

Solusi atas krisis sampah memang tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan teknis atau struktural semata, tetapi juga membutuhkan suatu perubahan budaya.

Kampus memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya tersebut.

Jika mahasiswa terbiasa memilah sampah hari ini, maka mereka akan menjadi pemimpin yang memiliki kesadaran lingkungan di masa depan.

Dengan demikian, menjadikan kampus sebagai pusat solusi sampah bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan sebuah keniscayaan.

Dari kampus, perubahan dapat dimulai, dan dari mahasiswa, masa depan pengelolaan lingkungan di negeri ini dapat ditentukan.

(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved