Runtuhnya Dinding Ego
Mengapa ego ada? Secara ilmiah-populer, ego dapat dipahami sebagai mekanisme psikologis untuk mempertahankan diri.
Runtuhnya Dinding Ego
Oleh: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
TRIBUN-TIMUR.COM - Ego adalah dinding yang tak terlihat, tetapi terasa. Ia berdiri di dalam diri manusia. Kokoh, diam-diam, dan sering kali tak disadari. Ia membisikkan keunggulan, menumbuhkan rasa lebih, dan perlahan menjauhkan manusia dari sesamanya, bahkan dari Tuhannya.
Mengapa ego ada? Secara ilmiah-populer, ego dapat dipahami sebagai mekanisme psikologis untuk mempertahankan diri. Sebuah sistem yang membantu manusia menjaga identitas, harga diri, dan eksistensinya.
Ia diperlukan agar manusia tidak rapuh, tidak mudah hancur oleh penolakan atau kegagalan. Namun, ketika ego tumbuh melampaui batas, ia berubah dari pelindung menjadi penghalang. Dari penjaga diri menjadi penjara batin.
Dalam perspektif spiritual, ego bukan sekadar bagian dari kepribadian. Ia adalah benih kesombongan. Akar dari banyak kerusakan yang tak kasatmata.
Sejarah spiritual manusia bahkan dimulai dengan peristiwa ego.
Ketika manusia pertama tergelincir dari surga, bukan semata karena pelanggaran, tetapi karena bisikan yang menyentuh inti ego berwujud keinginan menjadi “lebih”.
Lebih tahu, lebih tinggi, lebih seperti Tuhan. Dan sebelum itu, dalam kisah yang lebih purba, ada penolakan yang lahir dari kesombongan yang telanjang: “Aku lebih baik darinya.”
Kalimat ini bukan sekadar pembangkangan, melainkan deklarasi ego yang paling jujur dan paling berbahaya.
Di situlah terlihat bahwa dosa pertama bukan sekadar tindakan, tetapi sikap batin. Ego yang menolak tunduk.
Ego membuat manusia sulit menerima kebenaran jika datang dari orang lain. Ia menghalangi permintaan maaf, memperkeras hati untuk memberi maaf, dan membisikkan pembenaran atas kesalahan sendiri. Ia menjadikan manusia sibuk mempertahankan citra, bukan memperbaiki diri.
Akibatnya tidak selalu tampak dramatis, tetapi merembes pelan. Relasi menjadi renggang, empati menipis, dan kepekaan sosial memudar. Dalam skala yang lebih luas, ego melahirkan konflik, ketimpangan, bahkan kerusakan lingkungan—karena manusia merasa berhak mengambil lebih dari yang seharusnya.
Ego, pada akhirnya, adalah akar dari keterasingan.
Lalu, mengapa puasa mampu meruntuhkan dinding itu?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/OPINI-Muliadi-Saleh-5.jpg)