Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Langit Ramadan

Satu Tanggal untuk Satu Dunia Islam

Cara ini disebut Rukyat. Rukyat murni ialah melihat hilal dengan mata telanjang tanpa bantuan perkakas.

Editor: Sudirman
TRIBUN-TIMUR.COM
FORUM DOSEN - Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Qasim Mathar, saat kegiatan Dialog Forum Dosen : Mengenang Almarhum Dr Aswar Hasan di Kantor Redaksi tribun Timur, Kota Makassar, Selasa (19/8/2025). Prof Qasim kenang kedekatan dengan Aswar Hasan. 

Oleh: M. Qasim Mathar

TRIBUN-TIMUR.COM - Ternyata negeri-negeri Islam, negeri yang warga muslimnya mayoritas atau cukup banyak, belum seragam di dalam menetapkan datangnya bulan baru Qamariyah (Hijriah) untuk memulai dan mengakhiri ibadah puasa Ramadan, dan ber-Hari Raya Idul Fitri serta hari berhaji dan ber-Hari Raya Idul Adha.

Dahulu pada masa Nabi Muhammad saw., untuk menetapkan masuknya bulan Ramadan, ummat Islam melihat horizon di mana matahari akhir bulan Sya'ban akan tenggelam,  seraya mengamati akankah bulan sabit (hilal) akan muncul pas matahari tenggelam.

Cara ini disebut Rukyat. Rukyat murni ialah melihat hilal dengan mata telanjang tanpa bantuan perkakas.

Ketika teropong (teleskop) pertama kali dipatenkan di Belanda oleh Hans Lippershey pada 1908, perkakas itu belum dipakai untuk keperluan menetapkan tanggal 1 Ramadan untuk memulai puasa, tanggal 1 Syawal untuk ber-Idul Fitri, dan 9 Zulhijjah untuk wukuf (berhaji).

Meskipun pada masa klasik Islam ilmu matematika dan ilmu falak sudah dikembangkan oleh sarjana muslim, nanti setelah 1000 tahun dari masa Nabi Muhammad saw. teleskop itu ditemukan di Belanda.

Pada 1609 Galileo Galilei menyempurnakan teleskop dan menggunakannya untuk observasi astronomi (bulan, planet, dll).

Meskipun ilmu astronomi sudah pesat berkembang pada masa kemajuan Islam klasik, ilmu tersebut dipakai untuk membantu rukyat yang masih menjadi cara utama untuk melihat hilal.

Begitu pula teleskop (teropong), perkakas ini dipakai untuk memudahkan praktik melihat (Rukyat) hilal.

Hisab murni (tanpa Rukyat) baru benar-benar dipraktikkan oleh sebagian komunitas muslim pada abad 19–20 M.

Contohnya, di Turki modern (warisan sistem astronomi Utsmani). Juga sebagian ulama Syafi’iyah muta’akhirin.

Organisasi modern seperti Muhammadiyah di Indonesia, memakai Hisab murni.

Kini, berkembang sistem Kalender Hijriah Global. Yaitu: satu sistem kalender untuk semua dunia Islam.

Satu tanggal = satu hari yang sama untuk satu dunia Islam. Tidak mustahil!

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Yokohama

 

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved