Opini Anno Suparno
Warga Bantu Warga: Kekuatan Bangsa Hadapi Bencana
Beberakali juga media asing mampir di timeline kita ikut mengetengahkan angle lain tentang korban dan dampak banjir bandang di Aceh dan Sumatera
Oleh: Ano Suparno
Penulis, Jurnalis dan kerap terjun dalam misi kemanusiaan setiap bencana di Tanah Air
TRIBUN-TIMUR.COM - Menjelang penghujung tahun 2025 bencana dahsyat melanda Indonesia. Hingga hari ketujuh belas longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat jumlah korban meninggal dunia mencapai 990 orang, korban hilang 222 jiwa serta jutaan warga masih mengungsi. Tercatat sebagai bencana terdahsyat tahun 2025.
“Orang-orang sudah depresi, nangis, lapar. Sampai sekarang belum ada pasokan bantuan makanan. Ada anak kecil minum pakai air hujan yang ditampung untuk bertahan”, seorang pengungsi di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh yang bercerita kepada BBC News Indonesia. Dia bercerita pada hari Jumat 28 November 2025 atau dua hari pasca bencana banjir bandang memporak porandakan sebagian Aceh, Tapanuli Selatan dan Sumatera Barat, Rabu 26 November 2025.
Begitulah sekelumit rintihan berasal dari korban bencana banjir yang kemudian menghiasi halaman halaman digital di Indonesia baik media sosial pula media mainstream. Beberakali juga media asing mampir di timeline kita ikut mengetengahkan angle lain tentang korban dan dampak banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Tentu berbeda dari apa yang ramai di media media kita, salah satunya adalah penampilan validasi, pencitraan dari para pejabat di tanah air, data yang berseliweran, informasi penanggulangan yang carut marut serta simpang silangnya komentar dan pendapat dari pejabat di tanah air. Terakhir ketika Menteri Sosial dan seorang anggota DPR RI menyoroti bantuan kemanusiaan dari kelompok sipil.
Tengok pernyataan Menteri Sosial Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pada dasarnya setiap orang maupun lembaga boleh menggalang dana publik untuk disalurkan kepada korban banjir Aceh dan Sumatera. Tetapi menggarisbawahi bahwa siapapun yang mengumpulkan donasi itu sebaiknya mengajukan izin kepada pemerintah terlebih dahulu. Pernyataan Gus Iful merespons gerakan artis, masyarakat sipil dan influencer yang memberikan donasi untuk korban bencana di Provinsi Aceh, Sumatera, Utara serta Sumatera Barat.
Pernyataan lain juga datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) asal Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menyinggung donasi warga untuk korban bencana Sumatera yang viral meski angkanya lebih kecil dari bantuan pemerintah.
Meskipun pada akhirnya kedua pejabat negara ini menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Sebenarnya bantuan kemanusiaan dari warga untuk warga ini bukanlah kali pertama kali terpantik di Indonesia. Jauh sebelum bencana banjir melanda Aceh dan Sumatera solidaritas kemanusiaan dari warga sipil kerap kali kita saksikan ketika terjadi bencana di tanah air. Solidaritas kemanusiaan itu lahir tak memandang suku, agama hingga daerah sehingga sepatutnya negara atau pemerintah menjadikan solidaritas kemanusiaan sebagai kekuatan dalam menghadapi gelombang gelombang bencana yang kerap kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Kita tahu bersama bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kedua negara paling rawan bencana di dunia menurut World Risk Report 2024. Fakta tersebut menegaskan bahwa kolaborasi lintas di mana salah satunya adalah solidaritas kemanusiaan itu harus menjadi kekuatan bagi bangsa.
Tak ada pilihan lain sebagai negara yang letak geografis berada di antara dua benua, beserta wilayah Indonesia dilalui oleh Sirkum Pasifik atau Cincin Api Pasifik, dilewati sabuk Alpide, dan daerahnya berada di wilayah tropis (garis khatulistiwa). Sehingga berpotensi mengalami bencana alam, seperti gempa bumi, gunung berapi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan lainnya. Kita harus menerima fakta seperti di atas sehingga bangsa ini menempatkan kewaspadaan bencana sebagai bagian penting dalam perjalanan ke depan. Kita tak berharap terjadinya kegagapan menghadapi bencana seperti yang nampak dalam pandangan mata saat pemerintah menangani bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Seharusnya dengan berbagai bencana yang pernah terjadi di tanah air maka bangsa ini pula sudah memahami SOP penanganan bencana, rapi dan taktis dalam hal penanganannya. Tak ada lagi miskoordinasi, kesalahan data, pola penyaluran bantuan yang buntu di lapangan serta penanganan teknis di lapangan.
Sebagai negara rawan bencana maka secara alamiah pula bangsa ini dianugerahi warga yang memiliki nilai empati yang tinggi, rasa solidaritas yang dalam, rasa di mana ingin selalu membantu saudara saudaranya yang sedang dilanda bencana. Pemandangan solidaritas kemanusiaan tersebut terlihat jelas diawali ketika bencana Tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera pada tahun 2004. Seluruh pelosok di tanah air, organisasi kemasyarakatan, pemuda, swasta dan negeri ikut membentuk lembaga atas nama kemanusiaan untuk memberikan bantuan penanganan bencana pada saat itu. Bahkan ikut serta dalam misi kemanusiaan, menolong para korban bencana, menggotong mayat, membentuk posko, dapur umum hingga membantu merawat korban.
Mari kita melirik setiap bencana dahsyat yang terjadi di Indonesia. Tsunami Pangandaran 2006, Gempa Bumi Tektonik di Yogyakarta dan Semarang 2006, Mentawai 2010, Palu 2018. Kejadian bencana tsunami besar ini melahirkan solidaritas nasional yang tumbuh di berbagai daerah. Termasuk ketika terjadi bencana tingkat provinsi seperti banjir bandang, tanah longsor hingga kebakaran dahsyat maka dapat dipastikan solidaritas antar warga pun tumbuh berkembang sesuai skala bencana yang tengah terjadi pada saat itu.
Sehingga tagar Warga Bantu Warga yang kali ini tumbuh banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil, artis, influencer, media dan lainnya merupakan hal yang sangat lumrah bagi dunia kebencanaan saat ini di Indonesia. Bukan sesuatu yang baru apalagi menjadi persoalan bagi penanganan bencana. Justru negara harus memberikan apresiasi kepada mereka, termasuk menciptakan strategi agar bantuan mereka benar benar dapat tersalurkan dengan aman dan lancar. Mereka bukan tidak percaya kepada pemerintah tetapi begitulah Tuhan menciptakan manusia di Indonesia yang memiliki nilai empati yang sangat tinggi pada sisi kemanusiaan.
Maka jangan heran jika rasa solidaritas kemanusiaan tersebut Indonesia menduduki peringkat pertama dalam World Giving Index selama tujuh tahun berturut-turut, sebagai Negara Paling Dermawan di dunia di mana sembilan dari sepuluh warga menyumbangkan uang dan enam dari sepuluh menyumbangkan waktu mereka untuk membantu orang lain.
Opini Tribun Timur
Anno Suparno
mitigasi bencana
Saifullah Yusuf
Warga Bantu Warga
World Giving Index
| Antrean Panjang Kendaraan di SPBU, DPRD Bone Sebut BBM Tak Langka, Penyebab Lain Diungkap |
|
|---|
| Eks PSM Makassar Sulit Bantu Persipal Palu Lolos dari Zona Degradasi, Sriwijaya Menunggu di Liga 3 |
|
|---|
| Hari Pertama Berkantor, Chaidir Syam Mutasi 129 Pejabat Pemkab Maros |
|
|---|
| 2 Mahasiswa Asal BTP Makassar Terseret Arus Sungai Kalimborang Belum Ditemukan, Pencarian Diperluas |
|
|---|
| Gus Ipul Pimpin Persiapan Muktamar NU 2026, Konbes dan Munas Jadi Pemanasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/12122025AnnoSuparno.jpg)