Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Anno Suparno

Warga Bantu Warga: Kekuatan Bangsa Hadapi Bencana

Beberakali juga media asing mampir di timeline kita ikut  mengetengahkan angle lain  tentang korban dan dampak banjir bandang di Aceh dan Sumatera

Editor: AS Kambie
citizen reporter/dok.tribun
PENULIS OPINI - Anno Suparno tersenyum dalam balutan jaket merah, foto yang diterima Tribun-Timur.com pada 12 Desember 2025. Anno Suparno adalah penulis Opini Tribun Timur 

Oleh: Ano Suparno 

Penulis, Jurnalis dan kerap terjun  dalam misi kemanusiaan setiap  bencana di Tanah Air

TRIBUN-TIMUR.COM - Menjelang penghujung tahun 2025 bencana dahsyat melanda Indonesia. Hingga hari ketujuh belas longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat jumlah korban meninggal dunia mencapai  990 orang, korban hilang 222 jiwa serta jutaan warga masih mengungsi. Tercatat sebagai bencana terdahsyat tahun 2025. 

“Orang-orang sudah depresi, nangis, lapar. Sampai sekarang belum ada pasokan bantuan makanan. Ada anak kecil minum pakai air hujan yang ditampung untuk bertahan”, seorang pengungsi di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh  yang bercerita kepada BBC News Indonesia. Dia bercerita pada hari Jumat 28 November 2025 atau dua hari pasca bencana banjir bandang memporak porandakan sebagian Aceh, Tapanuli Selatan dan Sumatera Barat, Rabu 26 November 2025. 

Begitulah sekelumit rintihan berasal dari korban bencana banjir yang kemudian menghiasi halaman halaman digital di Indonesia baik media sosial pula media mainstream. Beberakali juga media asing mampir di timeline kita ikut  mengetengahkan angle lain  tentang korban dan dampak banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Tentu berbeda dari apa yang ramai di media media kita, salah satunya adalah penampilan validasi, pencitraan  dari para pejabat di tanah air, data yang berseliweran, informasi penanggulangan yang carut marut serta simpang silangnya komentar dan pendapat dari pejabat di tanah air. Terakhir ketika Menteri Sosial dan seorang anggota DPR RI menyoroti bantuan kemanusiaan dari kelompok sipil. 

Tengok pernyataan Menteri Sosial  Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pada dasarnya setiap orang maupun lembaga boleh menggalang dana publik untuk disalurkan kepada korban banjir Aceh dan Sumatera. Tetapi menggarisbawahi bahwa siapapun yang mengumpulkan donasi itu sebaiknya mengajukan izin kepada pemerintah terlebih dahulu. Pernyataan Gus Iful merespons gerakan artis, masyarakat sipil  dan influencer yang memberikan donasi untuk  korban bencana di Provinsi Aceh, Sumatera, Utara serta Sumatera Barat.

Pernyataan lain juga datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) asal  Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menyinggung donasi warga untuk korban bencana Sumatera yang viral meski angkanya lebih kecil dari bantuan pemerintah.

Meskipun pada akhirnya kedua pejabat negara ini menyampaikan permintaan maaf kepada publik. 

Sebenarnya bantuan kemanusiaan dari warga untuk warga ini bukanlah kali pertama kali terpantik di Indonesia. Jauh sebelum bencana banjir melanda Aceh dan Sumatera  solidaritas kemanusiaan dari warga sipil kerap kali kita saksikan ketika terjadi bencana di tanah air. Solidaritas kemanusiaan itu lahir tak memandang suku, agama hingga daerah  sehingga sepatutnya negara atau pemerintah menjadikan solidaritas kemanusiaan sebagai kekuatan dalam menghadapi gelombang gelombang bencana yang kerap kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Kita tahu bersama bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kedua negara paling rawan bencana di dunia menurut World Risk Report 2024. Fakta tersebut menegaskan  bahwa kolaborasi lintas di mana salah satunya adalah solidaritas kemanusiaan itu harus menjadi kekuatan bagi bangsa. 

Tak ada pilihan lain sebagai negara yang letak  geografis berada di antara dua benua, beserta wilayah Indonesia dilalui oleh Sirkum Pasifik atau Cincin Api Pasifik, dilewati sabuk Alpide, dan daerahnya berada di wilayah tropis (garis khatulistiwa). Sehingga berpotensi mengalami bencana alam, seperti gempa bumi, gunung berapi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan lainnya. Kita harus menerima fakta seperti di atas sehingga bangsa ini menempatkan kewaspadaan bencana sebagai bagian penting dalam perjalanan ke depan. Kita tak berharap terjadinya kegagapan menghadapi bencana seperti yang nampak dalam pandangan mata saat pemerintah menangani bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Seharusnya dengan berbagai bencana yang pernah  terjadi di tanah air maka bangsa ini pula sudah memahami SOP penanganan bencana, rapi dan taktis dalam hal penanganannya. Tak ada lagi miskoordinasi, kesalahan data, pola penyaluran bantuan yang buntu di lapangan serta penanganan teknis di lapangan. 

Sebagai negara rawan bencana maka secara alamiah pula bangsa ini dianugerahi warga yang memiliki nilai empati yang tinggi, rasa solidaritas yang dalam, rasa di mana ingin selalu membantu saudara saudaranya yang sedang dilanda bencana. Pemandangan solidaritas kemanusiaan tersebut terlihat jelas diawali ketika bencana Tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera pada tahun 2004. Seluruh pelosok di tanah air, organisasi kemasyarakatan, pemuda, swasta dan negeri ikut membentuk lembaga atas nama kemanusiaan untuk memberikan bantuan penanganan bencana pada saat itu. Bahkan ikut serta dalam misi kemanusiaan, menolong para korban bencana, menggotong mayat, membentuk posko, dapur umum hingga membantu merawat korban. 

Mari kita melirik setiap bencana dahsyat yang terjadi di Indonesia.  Tsunami Pangandaran 2006, Gempa Bumi Tektonik di Yogyakarta dan Semarang 2006, Mentawai 2010, Palu 2018. Kejadian bencana tsunami besar ini melahirkan solidaritas nasional yang tumbuh di berbagai daerah. Termasuk ketika terjadi bencana tingkat provinsi seperti banjir bandang, tanah longsor hingga kebakaran dahsyat maka dapat dipastikan solidaritas antar warga pun tumbuh berkembang sesuai skala bencana yang tengah terjadi pada saat itu. 

Sehingga tagar Warga Bantu Warga yang kali ini tumbuh banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil, artis, influencer, media dan lainnya merupakan hal yang sangat lumrah bagi dunia kebencanaan saat ini di Indonesia. Bukan sesuatu yang baru apalagi menjadi persoalan bagi penanganan bencana. Justru negara harus memberikan apresiasi kepada mereka, termasuk menciptakan strategi agar bantuan mereka benar benar dapat tersalurkan dengan aman dan lancar. Mereka bukan tidak percaya kepada pemerintah tetapi begitulah Tuhan menciptakan manusia di Indonesia yang memiliki nilai empati yang sangat tinggi pada sisi kemanusiaan. 

Maka jangan heran jika rasa solidaritas kemanusiaan tersebut Indonesia menduduki peringkat pertama dalam World Giving Index selama tujuh tahun berturut-turut, sebagai Negara Paling Dermawan di dunia di mana sembilan dari sepuluh warga menyumbangkan uang dan enam dari sepuluh menyumbangkan waktu mereka untuk membantu orang lain.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved