Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kisah Dua Menara: Renungan Tentang Arah Kemajuan Kampus

Namun di balik itu, ada menara kedua: menara kesejahteraan dan kebahagiaan sivitas akademika.

Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
TRIBUN OPINI - Dr drg Eka Erwansyah MKes SpOrt. Dalam Opini Tribun-Timur, Eka Erwansyah bahas kisah dua menara, renungan tentang arah kemajuan kampus. 

Penulis: Eka Erwansyah
Akademisi

Di setiap kampus besar, selalu ada dua menara yang tumbuh.

Yang satu menjulang tinggi, tampak dari kejauhan.

Yang lainnya berdiri di dalam hati—tak kasat mata, tapi sesungguhnya jauh lebih menentukan arah perjalanan universitas itu sendiri.

Menara pertama adalah menara fisik: gedung-gedung baru, fasilitas modern, rumah sakit megah, laboratorium canggih, dan berbagai simbol kemajuan yang bisa difoto dan dipamerkan.

Untuk membangunnya, dibutuhkan visi besar, dukungan anggaran, serta pengorbanan banyak pihak. 

Ia adalah lambang nyata dari kerja keras dan capaian kelembagaan.

Namun di balik itu, ada menara kedua: menara kesejahteraan dan kebahagiaan sivitas akademika.

Ia tidak tampak di mata, tapi terasa dalam suasana kampus yang hangat, dalam hubungan yang saling menghargai, dalam rasa cukup dosen dan tenaga pendidik yang merasa jerih payahnya dihargai.

Menara ini dibangun bukan dari beton dan baja, melainkan dari keadilan, empati, dan rasa kebersamaan.

Menara pertama sering kali menjadi pusat perhatian: tinggi, kokoh, dan membanggakan.

Tapi menara kedua sering terabaikan karena tak memiliki wujud yang bisa difoto.

Padahal, bila menara hati runtuh, menara fisik pun kehilangan makna.

Kampus yang hanya sibuk membangun gedung tanpa memperhatikan kesejahteraan penghuninya ibarat membangun istana megah di atas pondasi yang retak.

Sementara kampus yang menumbuhkan kesejahteraan tanpa arah kemajuan fisik akan kehilangan daya saing.

Keduanya harus tumbuh beriringan.

Satu menara menatap langit, menantang masa depan.

Menara satunya menatap ke dalam, menjaga kemanusiaan.

Refleksi Universitas Hasanuddin 

Sesungguhnya Unhas telah memiliki bahan untuk membangun kedua menara itu secara seimbang.

Ia memiliki rumah sakit besar, lahan luas, laboratorium, dan sumber daya manusia yang unggul.

Tapi juga memiliki cita rasa kearifan lokal yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan nilai kemanusiaan.

Di sinilah tantangan setiap pemimpin kampus — bukan hanya meninggikan menara yang bisa difoto, tapi juga membangun menara yang hanya bisa dirasakan.

Bukan hanya mengukur keberhasilan dengan angka dan grafik, tapi juga dengan senyum, semangat, dan rasa memiliki dari seluruh warganya.

Karena sejatinya, universitas bukan sekadar tempat mencetak ijazah atau membangun gedung, melainkan tempat membangun peradaban.

Dan peradaban yang tinggi hanya lahir dari dua pondasi: kemajuan dan kesejahteraan.

Penutup

Menara pertama adalah simbol visi.

Menara kedua adalah simbol hati.

Jika keduanya tumbuh bersama, maka kampus akan tegak tidak hanya karena beton, tetapi karena cinta dan keikhlasan orang-orang di dalamnya.

Dan mungkin, kelak sejarah akan mencatat bahwa kampus yang benar-benar besar bukanlah yang paling tinggi menaranya, melainkan yang paling hangat cahaya kemanusiaannya. (*)

 

 

 

 

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved