Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dari Ruang Kelas hingga Meja Makan, 6 Jam Jurnalis Al-Jazeera Berbagi Tips Liputan Perubahan Iklim

Lyndal Rowlands dari Al-Jazeera bertemu dengan 4 jurnalis asal Makassar dalam workshop peliputan perubahan iklim di Melbourne, Australia.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Alfian | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Monash CliComm
KRISIS IKLIM - Jurnalis Al-Jazeera Lyndal Rowland saat memaparkan hasil liputannya di workshop peliputan perubahan iklim yang diselenggarakan Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm)  di Monash University, Caulfiled, Melbourne, Australia, Rabu (13/5/2026). Selama dua hari empat jurnalis asal Makassar berkesempatan bertukar pengalaman bersama jurnalis Australia dan pakar perubahan iklim Monash University. 

Ringkasan Berita:
  • Di hari pertama workshop peliputan perubahan iklim di Monash University, Rabu (13/5/2026), empat jurnalis asal Indonesia termasuk penulis yang mewakili Tribun Timur, berjumpa dengan Lyndal Rowlands dari Al-Jazeera.
  • Workshop tersebut difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.

TRIBUN-TIMUR.COM, MELBOURNE - Bertukar pikiran dan pengalaman liputan bersama jurnalis media internasional seperti Al-Jazeera jadi pengalaman berharga bagi penulis saat berkunjung ke Melbourne, Australia.

Di hari pertama workshop peliputan perubahan iklim di Monash University, Rabu (13/5/2026), empat jurnalis asal Indonesia termasuk penulis yang mewakili Tribun Timur, berjumpa dengan Lyndal Rowlands dari Al-Jazeera.

Workshop tersebut difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.

Lyndal hadir pada sesi kedua workshop hari pertama bersama jurnalis Australia lainnya Zacharias Szumer dari Special Broadcasting Service (SBS).

Di awal pertemuan, Lyndal dengan pengalaman liputan belasan tahun di berbagai negara tak sungkan memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan seluruh peserta.

"Senang bertemu dengan kalian, ini pengalaman yang sangat baik untuk saya," katanya diiringi dengan senyum dan jabat tangan yang cukup erat.

Tak lama kemudian, ia bersama Zacharias diberikan kesempatan mempresentasikan pengalaman liputannya, terkhusus liputan mendalam mengenai perubahan iklim.

Ekspektasi awal penulis, Lyndal akan langsung pada pemaparan liputan investigasinya.

Tapi rupanya, ia tak memulai dengan 'pamer' pengalaman.

Dari laptopnya yang disambungkan ke monitor berukuran 75 inch, slide awal terpampang kolasi foto anak kecil dan burung Galbuin atau biasa disebut burung kecapi.

"Yah itu saya, saat masih anak-anak. Dan saya akan memulai dari akar dimana saya memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis," ucapnya.

Cerita Lyndal, ia dulunya tinggal di salah satu wilayah pertambangan emas di Australia.

Di belakang rumahnya, terdapat galian besar tambang emas.

Dengan berbagai persoalan ekologis di masa lalu itulah yang salah satunya membentuk cara berpikir Lyndal.

Dalam satu kesempatan lain, Lyndal yang sudah beranjak dewasa  berjumpa dengan burung Galbuin.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved