Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

FSAI 2026

60 Alumni Australia di Indonesia Timur ke Makassar Ramaikan FSAI 2026

Film Force of Nature: The Dry 2 (2024) menjadi film pembuka Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 

Tayang:
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/Kaswadi Anwar
FSAI 2026 - Konsul Jenderal (Konjen) Australia di Makassar, Todd Dias (kelima dari kiri) berfoto bersama dengan alumni Australia sebelum pemutaran film dalam Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 di XXI Trans Studio Mal (TSM), Jl Metro Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulsel, Jumat (15/5/2026) malam. FSAI 2026 menjadi kesembilan kali digelar di Makassar. 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Film Force of Nature: The Dry 2 (2024) menjadi film pembuka Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 

Film disutradarai Robert Connolly ini diputar pada hari pertama FSAI, di bioskop XXI, Trans Studio Mall, Makassar, Sulsel, Jumat (15/5/2026).

Pada hari pertama, hanya 1 film ditayangkan dan penontonnya hanya kalangan undangan dan alumni.

Pada hari kedua, Sabtu (16/5/2026), 3 film akan ditayangkan untuk publik, yakni Kangaroo (2025), 200 Percent Wolf (2024), serta Rangga dan Cinta (2025).

Penayangan Force of Nature: The Dry 2 dihadiri 60-an alumni Australia di Indonesia Timur.

“Jadi mereka ikut hari ini. Ada hiburan bagi mereka melalui film-film Australia. Kami sangat bangga FSAI bisa kembali digelar di Makassar,” kata Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias saat ditemui sebelum pemutaran film, Jumat malam.

Baca juga: Sinopsis 4 Film Diputar di Festival Sinema Australia Indonesia di Makassar Pekan Ini

Todd tampil mengenakan batik berwarna merah dipadukan dengan celana panjang hitam.

Todd menyebut, sejumlah alumni Australia kini juga telah berkiprah sebagai produser film.

Bahkan, pada beberapa tahun sebelumnya, FSAI turut menampilkan film pendek karya sineas asal Makassar.

“Ini menjadi contoh bagaimana FSAI bisa meningkatkan kerja sama dan kemitraan, khususnya di dunia perfilman antara Australia dan Indonesia, terutama Indonesia dan Makassar,” ucapnya.

Todd Dias menuturkan pihaknya juga memiliki program hibah yang membuka peluang kolaborasi bagi sineas Indonesia maupun Australia.

“Jadi ada kemitraan, misalnya antara sutradara atau aktor di Indonesia, Makassar, dan Australia. Mereka bisa mengajukan proposal,” tuturnya.

Baca juga: Sinematografer Andrew Commis: Kamera Canggih Bukan Modal Utama Bikin Film, tapi Rasa Ingin Tahu

FSAI 2026 juga dirangkaikan dengan reintegration workshop bagi alumni yang baru menyelesaikan pendidikan di Australia.

Kegiatan tersebut menjadi wadah memperluas jaringan antarlumni dari berbagai wilayah Indonesia Timur, mulai dari Palu hingga Ternate.

“Ini menjadi kesempatan bagi mereka bukan hanya menikmati film Australia, tetapi juga membangun jejaring dan saling membantu sesama alumni,” kata Todd.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved