Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mustamin Raga

Publik yang Mudah Jatuh Cinta

Cinta publik kita seperti bunga flamboyan yang mekar di pinggir jalan: mencuri perhatian, tapi cepat gugur sebelum musim berganti.

Tayang:
Editor: AS Kambie
dok.tribun
PENULIS OPINI - Foto Mustamin Raga ini dikirim ke Tribun-Timur.com pada Kamis, 16 Oktober 2025, untuk melengkapi naskah opini Tribun Timur yang Mustamin Raga. Pria yang biasa disapa Agra ini alumnus Unhas yang juga Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa 

Kita pun berulang kali terseret dalam siklus yang sama: terpesona,  mengagumi,  memuja,  kecewa, mencari idola baru.

Cinta publik kita seperti bunga flamboyan yang mekar di pinggir jalan: mencuri perhatian, tapi cepat gugur sebelum musim berganti.

Padahal, bangsa besar tidak dibangun oleh figur yang karismatik, melainkan oleh sistem yang kuat, transparansi yang nyata, dan publik yang kritis. Kita memerlukan lebih banyak rakyat yang paham bagaimana anggaran daerah dikelola, bukan hanya rakyat yang tahu siapa yang paling pandai berpidato.

Maka dalam konteks “persimpangan cinta” antara Purbaya dan Kang Dedy, kita perlu menahan diri. Tak perlu memilih siapa yang paling benar berdasarkan perasaan. Mari belajar melihat duduk persoalan dengan jernih: bagaimana dana publik seharusnya dikelola, siapa yang bertanggung jawab, dan apa dampaknya bagi rakyat kecil. Mengagumi boleh, tapi jangan menuhankan.

Mendukung boleh, tapi tetap dengan nalar. Kritik bukan tanda benci, dan pujian bukan tanda setia.

Bangsa ini sudah terlalu sering “kasmaran politik” hingga lupa membangun logika publik yang sehat. Setiap kali muncul sosok baru yang tampak menjanjikan, kita menaruh seluruh harapan padanya — seakan negeri ini hanya bisa diselamatkan oleh satu orang, bukan oleh kerja kolektif yang disiplin dan terukur. Padahal, jika kita mau jujur, cinta publik yang terlalu cepat sering kali justru menjadi beban bagi sang idola. Publik menuntut terlalu banyak dalam waktu terlalu singkat. Begitu ia tersandung sedikit saja, mereka berbalik menyerang dengan kemarahan yang sama besar dengan cinta yang dulu diberikan.

Mungkin, inilah saatnya kita belajar mencintai dengan cara yang lebih matang. Cinta yang tak buta oleh pesona, tapi terbuka pada data.

Cinta yang tidak hanya melihat wajah, tapi menilai kinerja.

Cinta yang bukan pada figur, tapi pada gagasan dan integritas. Cinta publik yang sehat adalah cinta yang menuntut sistem bekerja, bukan hanya pemimpinnya bicara. Cinta yang tidak berubah arah hanya karena musim politik berganti. Sebab yang dibutuhkan negeri ini bukan sekadar sosok untuk dikagumi, melainkan publik yang cerdas dan sadar bahwa cinta yang dewasa adalah cinta yang kritis. Dan semoga, dalam setiap pergantian idola yang akan datang — entah siapa pun nanti yang menjadi primadona baru — kita tak lagi jatuh cinta karena silau pesona, tetapi karena percaya pada kerja nyata. Karena cinta yang sejati bagi negeri ini bukanlah cinta kepada sosok orang, melainkan cinta kepada kebenaran dan kemajuan bersama.

Gerhana Alauddin, tanggal tua Oktober, 2025

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved