Headline Tribun Timur
Kerusuhan 298 Beda 1998, Motif dan Pemicunya
Dua gedung parlemen dibakar dan dijarah: DPRD Makassar (Rp253 miliar) dan DPRD Sulsel (Rp340 miliar).
Qasim Mahtar
Guru Besar UINAM Prof Qasim Mahtar, menegaskan kondisi sosial politik Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan era-era sebelumnya.
Menurutnya, kehadiran teknologi digital telah mengubah cara masyarakat bergerak dan berinteraksi.
“Demonstrasi di jalanan sudah tidak lagi efektif. Sekarang ini era teknologi digital. Cara-cara yang dulu kami lakukan saat mahasiswa, sudah berbeda dengan kondisi sekarang,” ujarnya.
Prof Qasim yang kini berusia 78 tahun mengaku beruntung bisa merasakan perubahan zaman yang begitu ekstrem.
Ia menyoroti kerusuhan yang terjadi belakangan ini, termasuk di Makassar, di mana aksi massa berujung pada penjarahan dan pembakaran fasilitas umum.
Menurutnya, peristiwa itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuatan yang menguasai teknologi informasi.
“Kalau rakyat bicara, kita bisa menduga. Tapi siapa yang benar-benar menggerakkan kerusuhan sulit ditunjuk, kecuali mereka yang menguasai teknologi. Pelaku bisa bebas karena tidak mudah diidentifikasi,” jelasnya.
Dalam paparannya, Prof Qasim juga menyinggung dinamika politik nasional sejak era Presiden Joko Widodo hingga diteruskan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut Prabowo masih mendapatkan dukungan mayoritas rakyat karena dianggap sebagai kelanjutan dari kebijakan Jokowi.
“Prabowo itu militer, dan dia merasa Jokowi punya jasa besar. Tidak mungkin ada militer yang mengkhianati loyalitasnya. Digitalisasi boleh saja mengaduk-aduk, tapi suara mayoritas tetap ke mereka,” ujarnya.
Ia mengingatkan kelompok berideologi anti-Pancasila, anti-demokrasi, dan anti-NKRI masih aktif bergerak secara diam-diam dengan memanfaatkan era digital.
“Semua kekuatan berideologi yang pernah digilas di masa lalu masih melakukan kaderisasi. Tapi tanggal 29 kemarin sudah tercium. Presiden juga sudah tahu, tinggal bagaimana menindak tanpa menimbulkan keributan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Prof Qasim mengkritik sejumlah guru besar yang kerap mengeluarkan pernyataan politik partisan. Menurutnya, hal itu tidak membawa manfaat bagi bangsa.
“Ada guru besar sampai gila-gilaan mendukung capres tertentu. Mana perasaan dan independensi itu? Tidak ada gunanya guru besar kumpul hanya untuk bikin pernyataan politik,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Diskusi-ini-mengangkat-tema-Pemulihan-Bangsa.jpg)