Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hujan Ringan Masih Berlanjut di Maros, Suhu Mencapai 31 Derajat Celcius

Kondisi ini terjadi meski wilayah tersebut mulai memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.

Tayang:
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Tribun-timur.com
HUJAN RINGAN - Berdasarkan data prakiraan cuaca, Senin (4/5/2026), hujan ringan diprediksi masih turun di 14 kecamatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Hujan ringan masih mendominasi cuaca di sejumlah wilayah Kabupaten Maros dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini terjadi meski wilayah tersebut mulai memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.

Berdasarkan data prakiraan cuaca, Senin (4/5/2026), hujan ringan diprediksi masih turun di 14 kecamatan.

Di antaranya Mandai, Camba, Bantimurung, Maros Baru, Bontoa, hingga Tanralili.

Selain hujan, cuaca berawan juga mendominasi hampir di seluruh wilayah.

Pada beberapa hari tertentu, kondisi cerah diperkirakan muncul, namun tidak berlangsung lama.

Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan kondisi ini merupakan ciri khas masa peralihan musim.

Baca juga: BMKG: Waspada Cuaca Panas!

Ia menyatakan, musim kemarau di Maros diprediksi akan datang lebih awal tahun ini.

"Maros diperkirakan mulai masuk musim kemarau pada dasarian pertama bulan Mei," ujarnya.

Suhu udara di Maros tercatat berada pada kisaran 20 hingga 31 derajat Celcius.

Sementara itu, tingkat kelembapan udara cukup tinggi, berkisar antara 70 hingga 99 persen.

Kondisi ini membuat udara terasa lebih lembap, terutama saat hujan turun.

Wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Tompobulu, Mallawa, dan Camba cenderung memiliki suhu lebih rendah.

Di wilayah tersebut, suhu bisa mencapai 20 hingga 25 derajat Celcius saat hujan.

Sementara di wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Kecamatan Maros Baru, Bontoa, dan Lau, suhu relatif lebih hangat.

Meski demikian, hujan ringan tetap berpotensi terjadi secara merata.

Perubahan cuaca dari hujan ke berawan hingga cerah diperkirakan berlangsung secara fluktuatif.

Kondisi ini menjadi ciri khas masa pancaroba yang masih berlangsung di Maros.

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat.

Terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, warga juga diminta menjaga kesehatan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Rizky menjelaskan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Pada periode tersebut, cuaca diprediksi akan lebih panas dengan curah hujan yang menurun.

BMKG memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada semester kedua tahun ini.

Fenomena tersebut diperkirakan mulai terasa sejak Juli.

"Kalau El Nino, pengaruhnya biasanya mengurangi curah hujan," katanya.

Dengan kondisi ini, musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Durasi kemarau diperkirakan terjadi hingga Oktober 2026.

Rizky mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Terutama dalam menghadapi potensi berkurangnya curah hujan.

"Sudah perlu menyiapkan mitigasi menghadapi curah hujan rendah," katanya.

Imbau Warga Waspada Kebakaran

Kepala BPBD Maros Towadeng mengatakan pihaknya telah sosialisasi terkait potensi kemarau.

Ia menyebut suhu udara saat musim kemarau berpotensi mencapai 38 derajat Celcius.

Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko kebakaran.

"Jangan membakar sampah atau lahan sembarangan," ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat memastikan kondisi rumah tetap aman saat ditinggalkan.

"Pastikan peralatan dapur dan listrik dimatikan untuk mencegah potensi kebakaran," katanya.

BPBD Maros juga telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan.

Salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak.

Sejumlah kecamatan diperkirakan akan terdampak cukup parah.

Di antaranya Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.

Selain itu, dampak kekeringan juga berpotensi meluas ke wilayah lain.

"Bisa sampai delapan sampai sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung," jelasnya.

Towadeng menyebut wilayah Bontoa menjadi salah satu daerah paling rentan.

Hal ini karena keterbatasan akses air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun sumber air tanah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, penyaluran air dari luar wilayah menjadi solusi utama.

"Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki," ujarnya.

Ia memperkirakan jumlah itu berpotensi meningkat pada tahun ini, tergantung kondisi di lapangan.

Pemerintah daerah pun diminta terus bersiaga menghadapi potensi kemarau yang lebih cepat dan lebih kering tahun ini.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved