Kemarau Sulsel
Suhu Udara Maros Capai 33 Derajat Celcius, BMKG: ke Depan Cuaca Lebih Panas Lagi
Ia menyebutkan suhu udara panas disebabkan akibat tutupan awan yang mulai berkurang.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Kabupaten Maros Sulawesi Selatan belum memasuki musim kemarau.
Namun, suhu udara belakangan ini terasa sangat menyengat pada siang hari.
Sebaliknya, suhu udara saat malam hari justru terasa lebih dingin.
Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan Kabupaten Maros baru akan memasuki musim kemarau pada dasarian kedua bulai Mei.
Ia menyebutkan suhu udara panas disebabkan akibat tutupan awan yang mulai berkurang.
Ia menyebutkan dalam tiga hari terakhir, suhu udara berkisar 31-33 derajat celcius.
Sementara saat malam hari suhu turun menjadi 23 derajat celcius.
"Saat ini, tutupan awan mulai berkurang, jika cuaca umumnya cerah berawan, maka siang hari akan terasa panas dan malam hari akan terasa lebih dingin," bebernya, Kamis (16/4/2026).
Rizky menuturkan, saat memasuki musim kemarau, suhu udara bisa lebih panas lagi.
Apalagi terdapat potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada semester kedua tahun ini.
Fenomena tersebut diperkirakan mulai terasa sejak Juli mendatang.
"Suhu bisa naik ke 34-35 derajat celcius," sebutnya.
Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dan lebih lama dibandingkan biasanya.
Ia menjelaskan, jika dibandingkan tahun sebelumnya, awal musim kemarau tahun ini maju sekitar tiga dasarian atau hampir satu bulan lebih cepat.
Menurutnya, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Ia menyebut durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Rizky pun mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.
Terutama dalam menghadapi potensi berkurangnya curah hujan.
“Sudah perlu menyiapkan mitigasi menghadapi curah hujan rendah,” katanya.
Ia juga mengingatkan warga untuk menjaga kesehatan saat cuaca mulai panas.
"Salah satunya dengan menggunakan pelindung diri seperti tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait fenomena ini el nino.
Ia pun meminta warga untuk lebih berhati-hati, terutama untuk mencegah kebakaran.
“Jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” katanya.
Ia juga mengimbau warga memastikan kondisi rumah aman saat ditinggalkan.
“Pastikan peralatan dapur dan listrik dimatikan untuk mencegah potensi kebakaran,” lanjutnya.
Pihaknya pun juga telah menyiapkan langkah antisipasi.
Salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
Mantan Kadis Kopumdag Maros itu diprediksi ada beberapa wilayah yang akan terdampak cukup parah di antaranya Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
Selain itu, dampak kekeringan juga diperkirakan bisa meluas ke wilayah lain.
“Bisa sampai delapan sampai sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung,” bebernya.
Ia menambahkan, wilayah Bontoa menjadi salah satu daerah yang paling rentan.
Hal ini karena keterbatasan akses air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun air tanah.
Untuk itu, penyaluran air dari luar wilayah menjadi solusi utama.
“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki,” ujarnya.
Ia menyebut, jumlah tersebut kemungkinan akan meningkat tahun ini, tergantung kondisi di lapangan.
| Daftar 6 Wilayah Makassar Rawan Kekeringan Tahun ini |
|
|---|
| BPBD Bulukumba Siaga Kemarau, Peralatan dan Mobil Tangki Mulai Disiapkan |
|
|---|
| El Nino Godzilla Ancam Nelayan Wajo, Ikan Bermigrasi, Hasil Tangkapan Turun |
|
|---|
| Kemarau 2026 Lebih Cepat, Luwu Hadapi Risiko Gagal Panen dan Kebakaran Lahan |
|
|---|
| BMKG: Musim Kemarau 2026 di Maros Lebih Cepat dan Berpotensi Lebih Kering |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/KEMARAU-PANJANG-ilustrasi-musim-kemarau-dengan.jpg)