Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tangis di Desa Pucak, Serda Hamdani Gugur di Tanah Papua

Sanak keluarga memenuhi halaman rumah, menanti kedatangan jenazah lelaki 36 tahun itu yang gugur saat bertugas di Papua Tengah.

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
GUGUR DI NABIRE - Hamka memperlihatkan foto anaknya, Serda Hamdani yang menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah. Keluarga kini menanti kedatangan jenazah almarhum di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Suasana hening dan duka menyelimuti kediaman Serda Hamdani di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2026).

Sanak keluarga memenuhi halaman rumah, menanti kedatangan jenazah lelaki 36 tahun itu yang gugur saat bertugas di Papua Tengah.

Serda Hamdani tewas dalam aksi penyerangan di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Sabtu (21/2/2026).

Ayah korban, Hamka, mengenang momen ketika pertama kali menerima kabar duka pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita.

“Saya lihat tanggal lahirnya, langsung tahu itu anak saya,” ujarnya, menahan pilu.

Tak ada firasat sebelumnya. Namun sehari sebelum kabar duka, Hamka merasa ada yang berbeda. Ia menatap lama foto putranya yang tergantung di dinding rumah.

 “Baru kali itu saya tatap fotonya lama. Setelah itu baru saya terima kabar,” katanya.

Komunikasi terakhir dengan almarhum terjadi 15 Februari 2026. Serda Hamdani mengirim uang kepada ayahnya menjelang Ramadan.

“Saya bilang terima kasih, dia bilang itu untuk persiapan Ramadan,” kenang Hamka.

Sementara itu, istri korban, Marwah, sempat berbicara dengannya sekitar pukul 13.00 Wita pada hari kejadian.

Saat itu, Serda Hamdani hanya berpamitan untuk beristirahat. 

Beberapa jam kemudian, kabar duka sampai ke keluarga.

Serda Hamdani telah bertugas di Papua lebih dari satu tahun sejak pertengahan 2024.

Sebelumnya, ia pernah menjadi Babinsa di Kabupaten Soppeng, bertugas di Batalyon 726 Bone, mengikuti pendidikan Secaba, dan ditempatkan di Kodam Cenderawasih sebelum ditugaskan di Nabire.

Hamka mengenang perjalanan karier putranya yang dimulai pada 2010. Setelah lulus SMA, Serda Hamdani sempat menganggur dua tahun karena keterbatasan ekonomi.

Terinspirasi teman-temannya, ia memutuskan mendaftar sebagai prajurit TNI.

“Alhamdulillah, sekali daftar langsung lulus. Bahkan menjadi lulusan terbaik saat pendidikan dasar, meski posturnya kecil. Medalinya masih saya pajang di rumah,” ujar Hamka.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Serda Hamdani dikenal keluarga sebagai pribadi baik dan taat beribadah.

“Setiap pulang kampung selalu salat berjemaah di masjid dan rajin mengaji. Saat Ramadan bisa khatam Al-Qur’an hingga tiga kali,” kata Hamka.

Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Pertemuan terakhir Hamka dengan putranya terjadi enam bulan lalu saat Serda Hamdani cuti. 

“Saat itu sangat bahagia karena sudah lama tidak bertemu,” ungkapnya.

Hingga kini, keluarga masih menunggu informasi resmi terkait pemulangan jenazah.

“Kami berharap bisa dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Pucak,” kata Hamka.

Meski berat, keluarga telah mengikhlaskan kepergian Serda Hamdani dan mendoakan almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved