Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sosok Serda Hamdani Prajurit TNI Asal Maros Gugur Diserang KKB di Nabire

Ayah korban, Hamka pertama kali mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita

Tayang:
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
PEGANG FOTO - Hamka memperlihatkan foto anaknya, Serda Hamdani yang menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah. Keluarga kini menanti kedatangan jenazah almarhum di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. 
Ringkasan Berita:
  • Serda Hamdani prajurit TNI Asal Maros menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah
  • Anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih itu gugur saat bertugas di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire
  • Ayah korban, Hamka pertama kali mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita

 

TRIBUNMAROS.COM, MAROS — Suasana duka menyelimuti kediaman Serda Hamdani di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2026).

Serda Hamdani menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah.

Anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih itu gugur saat bertugas di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Sabtu (21/2/2026).

Nampak sanak keluarga datang dan memenuhi halaman rumah almarhum.

Mereka menanti kedatangan jenazah lelaki berusia 36 tahun itu.

Ayah korban, Hamka pertama kali mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita.

Ia langsung yakin setelah melihat data identitas yang menyebut tanggal lahir putranya, 30 Agustus 1990.

“Saya lihat tanggal lahirnya, langsung saya tahu itu anak saya,” ujarnya.

Hamka mengatakan tidak memiliki firasat khusus sebelumnya, namun sempat merasa berbeda ketika sepulang salat Dzuhur sehari sebelum kabar duka diterima.

Ia menatap lama foto anaknya yang tergantung di dinding rumah.

“Baru kali itu saya tatap fotonya lama. Setelah itu baru saya terima kabar,” katanya saat ditemui di rumah duka.

Komunikasi terakhir dengan almarhum terjadi melalui pesan singkat pada 15 Februari 2026.

Saat itu, Serda Hamdani mengirim uang kepada ayahnya menjelang Ramadan.

“Saya bilang terima kasih, dia bilang itu untuk persiapan Ramadan,” bebernya.

Sementara itu, istri korban sempat berbicara dengan almarhum pada hari kejadian sekitar pukul 13.00 Wita.

Saat itu korban berpamitan untuk beristirahat.

Beberapa jam kemudian, keluarga menerima kabar duka dari rekan-rekan korban.

Hamka menyebut putranya telah bertugas di Papua selama lebih dari satu tahun sejak pertengahan 2024.

Sebelumnya, almarhum pernah bertugas sebagai Babinsa di Kabupaten Soppeng setelah berdinas di Batalyon 726 Bone.

Ia kemudian mengikuti pendidikan Secaba dan ditempatkan di Kodam Cenderawasih sebelum akhirnya ditugaskan di Nabire.

Hamka juga menceritakan awal mula putranya masuk TNI pada tahun 2010.

Setelah lulus SMA, Serda Hamdani sempat menganggur selama dua tahun karena keterbatasan ekonomi keluarga sehingga tidak melanjutkan kuliah.

Ia kemudian memutuskan mendaftar sebagai prajurit TNI setelah melihat temannya ikut seleksi.

“Dia bilang mau daftar tentara. Saya bilang terserah kemauannya. Alhamdulillah sekali daftar langsung lulus,” katanya.

Hamka bahkan menyebut putranya menjadi lulusan terbaik saat pendidikan dasar, meski memiliki postur tubuh kecil.

“Medalinya masih saya pajang di rumah,” ujarnya.

Serda Hamdani merupakan anak pertama dari dua bersaudara.

Ia meninggalkan seorang istri, Marwah, serta dua anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Di mata keluarga, almarhum dikenal sebagai pribadi yang baik dan taat beribadah.

"Setiap pulang kampung selalu salat berjemaah di masjid dan rajin mengaji. Bahkan saat Ramadan ia bisa khatam Al-Qur’an hingga tiga kali," tururnya.

Terakhir kali Hamka bertemu putranya sekitar enam bulan lalu saat almarhum pulang cuti.

Saat itu ia merasa sangat bahagia karena sudah lama tidak bertemu setelah putranya bertugas di Papua.

Hingga kini, keluarga mengaku masih menunggu informasi resmi terkait jadwal pemulangan jenazah.

“Kami berharap bisa dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Pucak,” katanya.

Ia mengatakan keluarga telah mengikhlaskan kepergian putranya dan berharap almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved