Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kiriman Terakhir Serda Hamdani untuk Sang Ayah Sebelum Gugur di Nabire

Serda Hamdani mentransfer uang kepada sang ayah untuk dipakai sahur dan buka puasa jadi momen komunikasi terakhir

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
GUGUR DI NABIRE - Hamka memperlihatkan foto anaknya, Serda Hamdani yang menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah. Keluarga kini menanti kedatangan jenazah almarhum di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. 

Ringkasan Berita:
  • Serda Hamdani mentransfer uang kepada sang ayah untuk dipakai sahur dan buka puasa.
  • Nahas momen itu jadi komunikasi terakhir Serda Hamdani dengan sang ayah
  • Anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih itu gugur saat bertugas di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS -- Minggu 15 Februari 2026 jadi komunikasi terakhir Hamka dengan putranya, Serda Hamdani.

Serda Hamdani mentransfer uang kepada sang ayah untuk dipakai sahur dan buka puasa.

Nahas. Momen itu jadi komunikasi terakhir Serda Hamdani dengan sang ayah.

Enam hari berselang, Sabtu (21/2/2026), anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih itu gugur saat bertugas di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire.

Serda Hamdani menjadi korban dalam aksi penyerangan di wilayah Papua Tengah.

“Anak saya terakhir kirim ulang Minggu lalu. Saya bilang terima kasih, dia bilang itu untuk persiapan Ramadan,” kenang Hamka kepada Tribun Timur di kediamannya di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Minggu (22/2/2026).

 sanak keluarga datang dan memenuhi halaman rumah almarhum.

Mereka menanti kedatangan jenazah lelaki berusia 36 tahun itu.

Ayah korban, Hamka, menuturkan ia pertama kali mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita.

Ia mengaku langsung yakin setelah melihat data identitas yang menyebut tanggal lahir putranya, 30 Agustus 1990.

“Saya lihat tanggal lahirnya, langsung saya tahu itu anak saya,” ujarnya.

Hamka mengatakan tidak memiliki firasat khusus sebelumnya, namun sempat merasa berbeda ketika sepulang salat Dzuhur sehari sebelum kabar duka diterima.

Ia menatap lama foto anaknya yang tergantung di dinding rumah.

“Baru kali itu saya tatap fotonya lama. Setelah itu baru saya terima kabar,” katanya saat ditemui di rumah duka.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved