Dari Gondola ke Jembatan Harapan, Kisah Warga Tompobulu Menanti Akses Layak
Bebatuan tersusun acak di dasar sungai menjadi halang rintang bagi kaki-kaki kecil anak sekolah.
TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik di balik perbukitan Tompobulu, suara gesekan katrol sudah terdengar di atas Sungai Pallaka.
Itu suara yang akrab bagi Farel, siswa kelas 3 SD di Dusun Katoang, Desa Bonto Matinggi, Kabupaten Maros.
Tangannya yang kecil menggenggam sling gondola, menarik perlahan kotak besi yang akan membawanya menyeberang ke sekolah.
Di bawahnya, air sungai mengalir tenang saat cuaca bersahabat.
Tapi ketika hujan turun di hulu, air berubah warna dan suara.
Arusnya menguat, menggeram, dan tak lagi ramah.
“Kalau hujan, tidak berani mi naik,” kata Farel pelan.
Selama bertahun-tahun, Sungai Pallaka bukan hanya bentang alam.
Ia adalah batas.
Batas antara Dusun Katoang dan Dusun Makmur di Desa Bonto Manurung. Batas antara rumah dan sekolah.
Antara sawah dan pasar. Antara hasil panen dan uang belanja dapur.
Tak ada jembatan.
Anak-anak terbiasa menanggalkan sepatu, menggulung celana, lalu melompati batu-batu licin di dasar sungai.
Para ibu memanggul hasil kebun. Para ayah menuntun motor melawan arus.
Jika hujan deras turun, semuanya berhenti.
Sekolah libur bukan karena kalender, tapi karena alam.
Dua tahun terakhir, gondola menjadi pilihan.
Sebuah kotak besi sederhana yang digerakkan manual.
Bergoyang di atas arus.
Satu per satu warga naik, berharap selamat sampai di seberang.
Bagi orang luar, itu mungkin terlihat ekstrem.
Bagi warga, itu biasa saja. Karena tidak ada jalan lain.
Alternatifnya hanya satu, menyusuri jalan setapak di hutan bambu selama tiga jam berjalan kaki.
“Anak-anak kasihan kalau harus lewat hutan. Jauh sekali,” ujar Mustakim, Kepala Desa Bonto Manurung.
Tak jarang, saat musim hujan panjang datang, sebagian anak harus dititipkan ke keluarga di desa seberang agar tak tertinggal pelajaran.
Sawah warga pun terpisah di dua sisi sungai.
Hasil panen harus diangkut melewati air atau digondola pelan-pelan.
Jika air tinggi, mereka menunggu. Sehari. Dua hari. Kadang sampai sepekan.
Usulan jembatan selalu muncul dalam Musrenbang desa.
Namun bertahun-tahun, ia hanya menjadi catatan di atas kertas.
Hingga suatu hari, suara mesin dan denting besi mulai terdengar di tepi Sungai Pallaka.
Kodim 1422/Maros memulai pembangunan jembatan gantung sepanjang 100 meter dengan lebar 1,2 meter.
Jembatan untuk pejalan kaki dan motor.
Untuk anak sekolah, petani, ibu rumah tangga.
Sedikit demi sedikit, pondasi ditanam di tanah yang selama ini hanya menjadi pijakan sementara.
Sling baja direntangkan. Bronjong disusun menahan tebing.
Tiang pylon berdiri, menantang langit Tompobulu.
Sebanyak 21 personel Yonzipur bersama Babinsa dan warga bekerja bahu membahu.
Material bahkan harus diangkut menggunakan gondola yang sama, simbol keterbatasan yang kelak akan digantikan.
Cuaca menjadi tantangan. Hujan bisa menghentikan pekerjaan kapan saja.
Material sling khusus didatangkan dari Kalimantan, menempuh perjalanan panjang sebelum tiba di Maros.
Namun harapan tak lagi sekadar wacana.
Targetnya sebelum Lebaran, jembatan itu bisa dilalui.
Bagi warga, jembatan itu bukan hanya soal menyeberang sungai. Ia tentang waktu tempuh yang lebih singkat.
Tentang anak-anak yang tak lagi menggigil menunggu air surut.
Tentang petani yang tak lagi cemas melihat langit mendung saat hasil panen siap dijual.
Kelak, gondola akan dilepas.
Farel tak perlu lagi menarik sling setiap pagi.
Tangannya bisa lebih fokus menggenggam buku tulis, bukan kawat baja.
Dan ketika takbir Lebaran menggema tahun ini, warga Tompobulu mungkin akan merayakan dua kemenangan sekaligus, kemenangan setelah sebulan berpuasa, dan kemenangan karena akhirnya bisa melintasi Sungai Pallaka tanpa rasa takut. (*)
| Sosok Bripda Ahriadi dan Ahmad Kabir, Polisi Qari dan Hafidz 30 Juz Utusan Bulukumba di MTQ Sulsel |
|
|---|
| PMII UMMA Maros Rayakan Harlah ke-66, Tegaskan Peran Strategis Kader |
|
|---|
| 31 Kafilah Makassar Lolos ke Final MTQ Sulsel: Soppeng, Toraja Utara, dan Tana Toraja Nihil |
|
|---|
| Tiga Peserta Hifzil Quran Pangkep Lolos Final MTQ Sulsel, Andalkan Murojaah dan Sholat Malam |
|
|---|
| Final Tilawah Remaja MTQ Sulsel, Kontingen Pangkep Bidik Juara Pertama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/JEMBATAN-GANTUNG-Proses-pembangunan-jembatan.jpg)