JEC Orbita Makassar
JEC ORBITA Makassar Hadirkan Layanan Koreksi Presbiopia dengan Teknologi PRESBYOND
Berdasarkan data BPS Makassar 2024, jumlah penduduk kota ini sekira 1,48 juta jiwa. 65,74 persen di antaranya kelompok usia kerja 15-59 tahun.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Abdul Azis Alimuddin
MAKASSAR, TRIBUN - Rumah Sakit Mata JEC ORBITA Makassar hadirkan layanan koreksi presbiopia melalui teknologi PRESBYOND Laser Blended Vision.
Teknologi ini menjadi inovasi terbaru untuk membantu pasien mengalami gangguan penglihatan dekat akibat pertambahan usia dan kini tersedia pertama kali di Indonesia Timur.
Kehadiran PRESBYOND sekaligus memperkuat layanan kesehatan mata berbasis teknologi yang dikembangkan JEC ORBITA Makassar.
Teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat mengenai solusi modern untuk mengatasi presbiopia yang umumnya mulai dirasakan setelah usia 40 tahun.
Hadirnya PRESBYOND dinilai relevan dengan karakteristik Kota Makassar sebagai salah satu pusat ekonomi dan layanan di Indonesia Timur yang didominasi masyarakat usia produktif.
Direktur RS Mata JEC ORBITA Makassar, Dr. Mirella Afifudin, SpM, M.Kes, mengatakan kehadiran PRESBYOND merupakan langkah penting untuk memperluas akses masyarakat Indonesia Timur terhadap layanan koreksi penglihatan modern.
“Makassar sebagai hub ekonomi Indonesia Timur memiliki banyak masyarakat usia produktif yang tetap aktif bekerja, berinteraksi, dan menjalani mobilitas harian yang tinggi,” katanya, Selasa (9/6/2026).
“Ketika kemampuan melihat dekat mulai menurun, dampaknya tidak hanya terasa saat membaca, tetapi juga pada produktivitas dan kenyamanan beraktivitas,” ujarnya.
Menurut Mirella, melalui PRESBYOND, JEC ORBITA Makassar menghadirkan pilihan koreksi penglihatan yang lebih personal dan relevan bagi pasien presbiopia agar dapat menjalani aktivitas harian dengan lebih nyaman.
Sementara itu, Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC ORBITA Makassar, Dr. Andi Akhmad Faisal, SpM, M.Kes, menjelaskan bahwa presbiopia bukan sekadar kondisi mata plus sebagaimana yang sering dipahami masyarakat.
"Seiring bertambahnya usia, lensa alami mata mengalami penurunan kemampuan akomodasi sehingga seseorang mulai membutuhkan bantuan untuk melihat dekat," kata Akhmad.
Ia menjelaskan, PRESBYOND tidak menghentikan proses penuaan alami pada mata.
Namun, teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengompensasi perubahan tersebut dengan memperluas rentang fokus penglihatan.
"Dengan begitu, pasien dapat merasa lebih nyaman saat melihat jauh, bekerja di depan layar, maupun membaca dalam jarak dekat," tambahnya.
Meski diperuntukkan bagi pasien yang mulai mengalami presbiopia, prosedur PRESBYOND tidak dapat dilakukan pada semua orang.
Setiap pasien harus menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kelayakan tindakan.
Pemeriksaan meliputi kondisi kornea, ketebalan kornea, kualitas permukaan mata, ukuran pupil, dominansi mata, kondisi lensa mata, hingga kebutuhan visual sehari-hari.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan hasil tindakan tidak hanya membantu pasien melihat lebih jelas, tetapi juga tetap nyaman dalam berbagai situasi.
Secara umum, kandidat PRESBYOND memiliki kriteria yang hampir serupa dengan prosedur koreksi refraksi lainnya seperti LASIK atau SMILE.
Di antaranya kornea yang sehat, ketebalan kornea yang memadai, tidak terdapat kelainan kornea, serta tidak mengalami mata kering berat.
Namun demikian, PRESBYOND memerlukan evaluasi tambahan terkait kemampuan sistem visual pasien untuk beradaptasi terhadap pengaturan fokus pada kedua mata.
"Keputusan tindakan tidak hanya ditentukan oleh angka resep kacamata. Kami juga menilai bentuk dan ketebalan kornea, besarnya silinder, kondisi permukaan mata, ukuran pupil, dominansi mata hingga kondisi lensa," jelas Akhmad.
Menurutnya, pada pasien usia tertentu juga perlu dipastikan tidak terdapat katarak yang dapat memengaruhi hasil penglihatan.
Karena itu, evaluasi menyeluruh menjadi bagian penting sebelum tindakan dilakukan.
Andi menambahkan, PRESBYOND juga dapat menjadi pilihan bagi pasien yang sebelumnya tidak memiliki minus maupun silinder, tetapi mulai terganggu karena harus menggunakan kacamata baca.
Selama hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mata memenuhi syarat, pasien dengan keluhan utama presbiopia tetap dapat menjadi kandidat untuk menjalani prosedur tersebut.
Melalui kehadiran PRESBYOND, RS Mata JEC ORBITA Makassar memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan koreksi penglihatan yang lebih personal, presisi, dan sesuai dengan kebutuhan pasien pada berbagai tahapan usia.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu masyarakat Indonesia Timur menjalani aktivitas sehari-hari dengan penglihatan yang lebih nyaman serta kualitas hidup yang lebih baik.
Selama lebih dari 42 tahun, JEC Group terus memperluas akses layanan kesehatan mata di Indonesia melalui 16 cabang yang tersebar di Jabodetabek dan sejumlah wilayah lainnya.
Komitmen tersebut turut tercermin melalui penghargaan yang diraih pada Healthcare Asia Awards 2026, yakni Clinical Service Initiative of the Year – Indonesia dan Specialty Clinic of the Year (Ophthalmology) – Indonesia.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan berstandar internasional, JEC Group juga tengah membangun JEC Bali Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dengan konsep Blue Hospital yang mengedepankan desain pendukung proses penyembuhan, teknologi medis modern, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan.
Data BPS Makassar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar tahun 2024, jumlah penduduk Kota Makassar mencapai sekitar 1,48 juta jiwa.
Sebanyak 65,74 persen di antaranya berada pada kelompok usia kerja 15 hingga 59 tahun.
Sementara itu, data Databoks Katadata mencatat terdapat sekitar 971.480 penduduk usia kerja di Makassar pada 2024.
Adapun proyeksi UN World Urbanization Prospects 2024 memperkirakan populasi kawasan aglomerasi perkotaan Makassar mencapai sekitar 1,77 juta jiwa pada 2026.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kelompok masyarakat aktif yang berpotensi mengalami presbiopia.
Kondisi ini umumnya mulai muncul setelah usia 40 tahun, ketika kemampuan mata untuk melihat objek pada jarak dekat mulai menurun.
Presbiopia merupakan kondisi berkurangnya kemampuan mata untuk berakomodasi atau memfokuskan penglihatan pada jarak dekat.
Akibatnya, berbagai aktivitas sehari-hari seperti membaca pesan di telepon genggam, melihat menu makanan, bekerja di depan komputer, maupun membaca dokumen menjadi kurang nyaman tanpa bantuan kacamata baca.
Secara global, presbiopia menjadi salah satu persoalan kesehatan mata yang cukup besar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 826 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan dekat yang belum tertangani akibat presbiopia.
Selain itu, studi global yang dipublikasikan dalam jurnal Ophthalmology memperkirakan jumlah penderita presbiopia mencapai sekitar 1,8 miliar orang pada 2015 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2,1 miliar orang pada 2030.
Berbeda dengan prosedur LASIK maupun SMILE yang umumnya ditujukan untuk mengoreksi minus, silinder, atau plus agar penglihatan jauh menjadi lebih jelas, PRESBYOND dikembangkan secara khusus untuk membantu pasien presbiopia.
Teknologi ini menggabungkan koreksi refraksi dengan peningkatan depth of focus atau rentang fokus penglihatan.
Dengan pendekatan tersebut, pasien diharapkan memperoleh kenyamanan visual yang lebih baik pada jarak jauh, menengah, maupun dekat.
Kebutuhan terhadap solusi presbiopia juga terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pilihan koreksi penglihatan yang lebih personal.
Beberapa pendekatan yang dikenal antara lain LASIK monovision, EDOF IOL, hingga berbagai inovasi koreksi presbiopia lainnya.
Secara prinsip, PRESBYOND menggunakan metode Laser Blended Vision, yakni pengaturan fokus yang berbeda pada kedua mata.
Pada metode ini, mata dominan diarahkan untuk penglihatan jauh, sedangkan mata non-dominan dibantu untuk penglihatan dekat.
Namun, berbeda dari monovision konvensional yang dapat membuat salah satu mata terasa lebih buram dan berpotensi mengganggu persepsi kedalaman, PRESBYOND dirancang untuk menciptakan transisi fokus yang lebih halus melalui desain ablasi asferik khusus.
Pendekatan tersebut memungkinkan kedua mata tetap bekerja secara bersamaan dengan lebih nyaman dan membantu mempertahankan fungsi penglihatan binokular.
Sejumlah studi klinis juga menunjukkan tingkat adaptasi dan kepuasan pasien yang tinggi pada kandidat yang sesuai untuk prosedur ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/JEC-ORBITA-Makassar-09062026.jpg)