Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dosen dan Alumni Unhas Harus Peka terhadap Silent Burnout Mahasiswa

Diskusi ini dihadirkan oleh Ikatan Alumni Manajemen FEB Unhas atau I AM FEB Unhas.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Rudi Salam
SILENT BURNOUT - Anggota Departemen Kajian Keilmuan Strategis dan Kebijakan Publik Ikatan Alumni Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (I AM FEB Unhas), Yukiko Hiro Mantu, dalam diskusi publik di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih No 430, Makassar, Kamis (21/5/2026). Yukiko dalam kesempatan itu menekankan peran dosen hingga alumni dalam mendeteksi serta mendampingi mahasiswa yang mengalami silent burnout. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dosen hingga alumni dinilai berperan penting dalam mendeteksi serta mendampingi mahasiswa yang mengalami silent burnout.

Demikian penekanan Anggota Departemen Kajian Keilmuan Strategis dan Kebijakan Publik Ikatan Alumni Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (I AM FEB Unhas), Yukiko Hiro Mantu, dalam diskusi publik bertajuk “Mahasiswa, Prestasi, dan Silent Burnout: Menghidupkan Kembali Kampus yang Menguatkan”.

Diskusi publik tersebut berlangsung di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih No 430, Makassar, Kamis (21/5/2026), dan disiarkan secara langsung melalui YouTube Tribun Timur.

Diskusi ini dihadirkan oleh Ikatan Alumni Manajemen FEB Unhas atau I AM FEB Unhas.

Yukiko menyebut dosen merupakan pihak pertama yang paling dekat dengan mahasiswa dalam kehidupan kampus sehari-hari.

“Dosen sebagai pintu pertama memberikan pertolongan. Karena setiap hari berjumpa, bertatap muka, dan berinteraksi dengan mahasiswa,” sebutnya.

Menurutnya, perhatian sederhana dari dosen dapat menjadi langkah awal mendeteksi kondisi psikologis mahasiswa.

Mulai dari menyapa, menanyakan kabar, memperhatikan nilai, tugas, hingga pola interaksi mahasiswa dengan teman-temannya.

Ia juga menilai dosen perlu hadir sebagai pendengar yang baik tanpa menghakimi mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan.

“Bagaimana kita bisa membaca bahasa tubuh mereka. Karena banyak mahasiswa tertutup, pemalu, atau introvert. Mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi,” lanjutnya.

Yukiko menambahkan, apabila dosen menemukan mahasiswa dengan persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, maka mahasiswa perlu diarahkan ke layanan profesional seperti konselor atau psikolog.

Bahkan, menurutnya, dosen perlu dibekali keterampilan Psychological First Aid atau pertolongan pertama psikologis.

Selain menyoroti peran dosen, Yukiko juga mengajak alumni untuk mengubah pola hubungan dengan mahasiswa dari yang bersifat transaksional menjadi relasional.

Ia menilai selama ini kegiatan alumni lebih banyak berfokus pada seremoni, reuni, hingga jejaring karier semata.

“Nah sekarang kita berusaha mengubah paradigma. Bagaimana kita sebagai alumni menjadi kakak-kakak kehidupan,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved