FSAI 2026 Makassar Putar 4 Film Australia-Indonesia di XXI TSM
Konjen di Makassar, Todd Dias, senang FSAI selalu mendapat sambutan hangat di Makassar.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 hadir lagi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar menghadirkan film terbaik Australia dan Indonesia untuk dinikmati alumni, komunitas dan masyarakat Makassar.
Ada empat film diputar selama dua hari, Jumat-Sabtu (15-16/5/2026).
Yakni, Force of Nature: The Dry 2, Kangaroo, 200 persenWolf serta Rangga dan Cinta.
Di hari pertama, Konsul Australia di Makassar menggelar nonton bareng (Nobar) film Force Of Nature: The Dry 2 di XXI Lantai 2 Trans Studio Mal (TSM), Jl Metro Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulsel, Jumat malam.
Nobar dihadiri langsung oleh Konjen Australia di Makassar, Todd Dias.
Dia memakai batik berwarna merah dengan celana panjang hitam.
Hadir pula alumni dari Australia dari berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Di hari kedua, tiga film diputar di lokasi yang sama.
Yaitu, Kangaroo, 200 % Wolf serta Rangga dan Cinta.
Makassar menjadi kota kelima dari 11 kota tempat pemutaran film FSAI 2026.
Konjen di Makassar, Todd Dias, senang FSAI selalu mendapat sambutan hangat di Makassar.
FSAI ini memasuki pelaksanaan ke-11 secara nasional dan tahun kesembilan di Makassar.
Ia juga menyampaikan, sudah ada 600 alumni Australia di Sulsel.
Pada nobar ini, ada sekira 60 alumni dari Indonesia Timur hadir.
Kebetulan ada reintegration workshop akan diikutI besok.
Jadi nobar ini sekaligus ajang silaturahmi para alumni Australia.
“Jadi mereka ikut hari ini. Ada hiburan bagi mereka dengan film-film Australia. Kami sangat bangga dengan FSAI bisa digelar di Makassar,” katanya saat ditemui sebelum pemutaran film, Jumat malam.
Todd menyebut, FSAI ini menjadi kesempatan memperkuat kerja sama di dunia perfilman.
Selain menghadirkan film populer asal Australia, FSAI juga menayangkan film Indonesia.
Salah satunya Rangga dan Cinta.
Perlu diketahui juga ada alumni dari Australia sudah menjadi produser.
Bahkan beberapa tahun sebelumnya, FSAI turut menampilkan film pendek asal Makassar.
“Ini menjadi contoh dari FSAI untuk meningkatkan kerjasama dan kemitraan, khususnya di dunia perfilman antara Australia dan Indonesia, terkhusus Indonesia dan Makassar,” ucapnya.
Todd Dias menuturkan, pihaknya memiliki program hibah yang membuka peluang kolaborasi bagi sineas Indonesia maupun Makassar.
“Jadi ada kemitraan, misalnya ada sutradara atau aktor di Indonesia, di Makassar dan Australia. Mereka bisa apply,” tuturnya.
FSAI 2026 ini dirangkaikan dengan reintegration workshop bagi alumni yang baru selesai kuliah di Australia.
Kegiatan ini menjadi wadah memperluas jaringan antar alumni dari berbagai wilayah Indonesia Timur seperti Palu hingga Ternate.
“Ini kesempatan bagi mereka bukan hanya menikmati film Australia, tetapi juga untuk membangun jejaring dan saling membantu sesama alumni,” tutupnya.
Film Diputar di FSAI
FSAI 2026 di Makassar memutarkan empat film dari Australia dan Indonesia.
Film pertama diputar adalah Force Of Nature: The Dry 2.
Film berdurasi 112 menit ini menceritakan lima perempuan mengikuti retret eksekutif di sebuah hutan terpencil.
Namun, beberapa hari kemudian hanya empat orang yang kembali.
Agen Polisi Federal, Aaron Falk, kemudian menyelidiki hilangnya salah satu pendaki.
Penyelidikan itu membawanya menelusuri belantara pegunungan yang terpencil.
Di balik pencarian tersebut, Falk menemukan berbagai rahasia tersembunyi serta hubungan rumit dalam persahabatan pribadi maupun profesional para pendaki.
Kecurigaan dan pengkhianatan pun mulai terungkap.
Force Of Nature: The Dry 2 bakal diputar di hari pertama FSAI, Jumat (15/5/2026) pukul 19.00 Wita.
Di hari kedua, Sabtu (16/5/2026), ada tiga film bisa dinikmati.
Yakni, Kangaroo. Film disutradarai oleh Kate Woods ini merupakan film komedi keluarga yang mengisahkan mantan pembawa acara televisi Chris Masterson.
Chris Masterson terjebak di sebuah kota terpencil usai mengalami kecelakaan mobil saat menuju Broome.
Di tempat itu, dia bertemu gadis penduduk asli Australia berusia 11 tahun Charlie.
Pertemuannya berkembang menjadi persahabatan tak terduga ketika keduanya bersama-sama merawat serta menyelamatkan anak-anak kanguru di komunitas pedalaman yang jauh namun memukau.
Pengalaman tersebut kemudian membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Kemudian ada film 200 % Wolf.
Film bergenre animasi keluarga ini menceritakan sosok Freddy Lupin kembali dan kali ini serigala pudel merah muda itu menjalankan misi untuk menyelamatkan roh bulan yang nakal Moopo.
Terakhir, ada film Indonesia Rangga dan Cinta yang digarap oleh Riri Riza.
Film ini berlatar belakang tahun 2001, mengisahkan kehidupan perempuan bernama Cinta.
Kehidupan Cinta begitu ideal.
Dia populer di sekolah, mempunya sahabat yang kompak serta keluarga harmonis.
Namun, semuanya berubah ketika Cinta kalah dalam lomba puisi oleh sosok pendiam yang gemar membaca buku bernama Rangga.
Kesal perlahan, berubah menjadi ketertarikan karena perbedaan karakter mereka justru menimbulkan rasa penasaran.
Saat salah satu sahabatnya tersandung masalah, Cinta harus menentukan pilihan antara mempertahankan persahabatan atau mengikuti perasaan yang sebenarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/fsai-2026-pembukaan-1-1552026.jpg)