Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Kisah Abdul Majid, Pengrajin Emas dan Ketua RT Senior Tempat Mengadu saat Warga Kena Masalah

Pria kelahiran Makassar, 26 Juni 1975 itu mengaku mulai menjabat ketua RT sejak masa kepemimpinan Wali Kota

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
PROFIL RT - Ketua RT 003 RW 005 Kelurahan Malimongan Abdul Majid Jafar difoto di rumahnya di Jalan Datu Museng 1 No.14, Kelurahan Malimongan, Makassar, Sabtu (9/5/2026). Kisah perjalanan Abdul Majid Ketua RT Malimongan, lama jadi pengrajin emas. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sudah puluhan tahun nama Abdul Majid Jafar selalu menjadi andalan warga RT 003 RW 005 Kelurahan Malimongan, Kota Makassar

Di lingkungan kecil yang dihuni sekitar 38 kepala keluarga itu, ia bukan sekadar ketua RT, tetapi juga tempat warga mengadu berbagai persoalan.

Pria kelahiran Makassar, 26 Juni 1975 itu mengaku mulai menjabat ketua RT sejak masa kepemimpinan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin periode kedua.

“Waktu itu gaji RT masih lima puluh ribu,” kata Abdul Majid Jafar kepada Tribun-Timur.com, Minggu (10/5/2026).

Sejak awal menjabat, Abdul Majid dikenal aktif membantu warga, mulai dari urusan administrasi hingga persoalan sosial di lingkungan.

“Kalau ada warga bermasalah, perkelahian, atau perlu dibantu ke kantor polisi, kami bantu juga,” ujarnya.

Sebelum menjadi ketua RT, Abdul Majid lebih dulu menekuni profesi sebagai pengrajin emas tradisional. Keterampilan itu diwarisinya dari orang tua sejak masih kecil.

Di rumah sederhana mereka di Jalan Datu Museng I Nomor 14, ia terbiasa mengolah emas batangan 24 karat menjadi berbagai perhiasan seperti cincin, kalung, dan anting.

“Dulu semua dikerjakan pakai tangan,” katanya.

Usaha tersebut kemudian ia lanjutkan dengan membuka jasa kerajinan emas sendiri di rumahnya.

Namun memasuki awal tahun 2000-an, pesanan mulai menurun.

Harga emas yang terus naik membuat pelanggan berkurang. Di sisi lain, industri perhiasan modern dengan teknologi mesin membuat pengerjaan menjadi jauh lebih cepat dibanding cara manual.

“Kalau kerja tangan bisa seminggu sampai sepuluh hari baru selesai. Kalau mesin cepat sekali,” ujarnya.

Pada 2010, Abdul Majid akhirnya menutup usaha kerajinan emasnya. Meja kerja dan peralatan yang selama bertahun-tahun digunakannya pun dijual.

Kini, ia menjalani usaha kecil-kecilan dengan membantu kerabat membeli kebutuhan di Makassar untuk dikirim ke beberapa daerah seperti Kupang dan Palu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved