Ekonomi Keluarga ATS di Sekolah Rakyat Harusnya Ikut Jadi Perhatian
Kondisi ekonomi yang lemah membuat sebagian anak terpaksa membantu orang tua memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Waode Nurmin
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Sulawesi Selatan (Sulsel) masih menjadi persoalan serius.
Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), tercatat sebanyak 170.433 anak di Sulsel tidak mengenyam pendidikan.
Jumlah tersebut terdiri dari anak yang belum pernah bersekolah, putus sekolah (drop out), maupun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Data itu saat ini masih terus diverifikasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel.
Tingginya angka ATS dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satu yang dominan adalah persoalan ekonomi keluarga.
Kondisi ekonomi yang lemah membuat sebagian anak terpaksa membantu orang tua memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Akibatnya, pendidikan tidak lagi menjadi prioritas meski mereka masih berada pada usia wajib belajar.
Ketua Dewan Pendidikan Sulsel, Prof Arismunandar, menilai persoalan anak tidak sekolah tidak bisa diselesaikan hanya melalui akses pendidikan semata.
Menurutnya, penguatan ekonomi keluarga perlu berjalan beriringan agar anak tidak lagi terbebani kebutuhan ekonomi rumah tangga.
"Kalau menurut saya seharusnya satu paket sekolah rakyat dan penguatan ekonomi keluarga yang bisa dilakukan melalui pelatihan keterampilan hidup, bantuan modal dan penempatan kerja orang tua yang menganggur. Kalau ini dilakukan berpotensi memutus mata rantai kemiskinan keluarga," kata Prof Arismunandar saat dikonfirmasi pada Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, program Sekolah Rakyat yang diinisiasi pemerintah dapat menjadi solusi untuk membuka akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Namun, keberhasilan program tersebut dinilai tetap bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam penanganan ATS di Sulsel.
"Harusnya ada sinergi pusat provinsi dan kabupaten namun untuk kondisi efisiensi sekarang sebaiknya dikoordinasikan saja dengan skema bantuan sosial di bawah kemensos agar supaya lebih mudah koordinasinya," lanjutnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Iqbal Nadjamuddin terus melakukan verifikasi terhadap ATS memastikan penyebab banyaknya anak memilih tidak bersekolah.
| Serius Tangani Anak Putus Sekolah, Wali Kota Munafri Kerahkan Tim ATS Jemput Siswa Kembali Sekolah |
|
|---|
| 174 Ribu Anak Tidak Sekolah di Sulsel, Usia SMA Mendominasi |
|
|---|
| Tim ATS Bakal Sisir Lorong dan Permukiman Makassar, Cari Anak Putus Sekolah |
|
|---|
| Proyek Sekolah Rakyat Sinjai Rp245 Miliar, Libatkan 500 Pekerja dari Pulau Jawa |
|
|---|
| Pekerja Proyek Inap di Masjid Islamic Center Sinjai, Kontraktor Sebut Sudah Diizinkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260304-Prof-Arismunandar-UNM.jpg)