Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dari Desa Kakao ke Harapan Baru: Kisah Perempuan dan Anak di Balik Program Save the Children

Sejak 2020 Save The Children Indonesia melaksanakan program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di berbagai wilayah di Sulsel.

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Siti Aminah
PERLINDUNGAN ANAK - Save the Children Indonesia menggelar Learning Event. Agenda berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar Jl Penghibur, Kecamatan Ujung Pandang, Selasa (31/3/2026). Sejak 2020 Save The Children Indonesia melaksanakan program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di berbagai wilayah di Sulsel. 
Ringkasan Berita:
  • Sejak 2020 Save The Children Indonesia melaksanakan program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di berbagai wilayah di Sulsel.
  • Sebanyak 110 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) berdiri dan menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari kekerasan dan praktik berbahaya.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Save the Children Indonesia menggelar Learning Event sebagai puncak perjalanan panjang program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. 

Agenda berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar Jl Penghibur, Kecamatan Ujung Pandang, Selasa (31/3/2026). 

Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang berbagi pengalaman yang hidup dan penuh makna.

Dari Luwu Utara hingga Luwu Timur, dari Bone, Wajo, hingga Soppeng, para peserta datang membawa kisah perubahan. 

Mereka adalah saksi sekaligus pelaku dari proses panjang yang tidak selalu mudah.

Sejak 2020, langkah-langkah kecil mulai dirajut. 

Program ini tumbuh melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk Mars Indonesia, GrowAsia, PISAgro, serta dukungan GIZ melalui Program GrowHer Kakao.

Di wilayah lain, dukungan Cargill melalui Program Empower ikut memperluas dampak. 

Baca juga: 47 Sekolah di Luwu Utara Jadi Binaan Yayasan Save The Children Program Healthier Smile

Semua pihak bergerak dengan satu tujuan yang sama, memastikan kesejahteraan anak dan perempuan dalam rantai pasok kakao.

Namun, inti dari semua ini adalah masyarakat itu sendiri. 

Program ini tumbuh dengan semangat pelokalan, bekerja bersama mitra seperti Sulawesi Cipta Forum dan Perkumpulan Wallacea.

Pendekatan ini memastikan bahwa setiap inisiatif bukan sekadar datang dari luar, tetapi lahir dari kebutuhan nyata warga. 

Program menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang terasa asing.

Perubahan itu terlihat jelas di tingkat desa. 

Sebanyak 110 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) berdiri dan menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari kekerasan dan praktik berbahaya.

Beberapa di antaranya bahkan telah berkembang menjadi lembaga resmi desa dengan payung hukum. 

Ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak hanya terjadi, tetapi juga mulai mengakar kuat.

Di sisi lain, perempuan menemukan ruang baru untuk tumbuh. 

Sebanyak 423 kelompok simpan pinjam desa (VSLA) hadir sebagai wadah belajar dan berdaya secara ekonomi.

Dari kelompok-kelompok ini, terkumpul dana hingga miliaran rupiah. 

Baca juga: Mars dan Save the Children Perkuat 115 Desa Kakao

Namun lebih dari itu, yang tumbuh adalah kepercayaan diri dan kemampuan perempuan dalam mengelola kehidupan ekonomi keluarga.

Martiani, seorang istri petani kakao, menjadi salah satu cerita nyata dari perubahan tersebut. 

Dengan suara yang tenang, ia membagikan pengalamannya.

“Sebelum mengikuti VSLA, keuangan kami tidak terkelola dengan baik. Setelah berpartisipasi, kami dapat mengelola keuangan dengan lebih baik, bahkan kami bisa menabung setengah dari penghasilan kakao kami,” ujarnya.

Cerita Martiani menggambarkan bagaimana perubahan kecil bisa berdampak besar. 

Dari kebiasaan menabung, lahir harapan baru bagi keluarga.

VSLA juga menghadirkan kekuatan sosial. 

Perempuan tidak lagi berjalan sendiri, tetapi saling mendukung dalam komunitas yang solid.

Dalam pertemuan rutin, mereka belajar, berbagi, dan saling menguatkan. 

Dari sana, tumbuh keberanian untuk mengambil keputusan, baik di rumah maupun di masyarakat.

Dukungan pemerintah menjadi penguat dari semua upaya ini. 

Learning Event ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pihak. 

Pemerintah, organisasi, dan masyarakat duduk bersama, membahas masa depan yang ingin dibangun.

Senior Director Advocacy, Campaign, Goverment Relations, Tata Sudrajat menyampaikan, Learning Event yang digelar Save the Children Indonesia menjadi momentum penting untuk menyampaikan hasil pembelajaran program kepada publik.

Mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi hingga organisasi nonpemerintah.

Kegiatan ini menyoroti upaya peningkatan kapasitas perempuan serta penguatan perlindungan anak di wilayah komunitas kakao di Sulawesi Selatan.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dalam mendukung ekonomi keluarga melalui berbagai peluang usaha.

“Karena sangat penting bagaimana ibu-ibu juga bisa terlibat di dalam ekonomi rumah tangga dan peluang-peluang kegiatan usaha mereka,” ujar Tata Sudrajat.

Perwakilan GrowAsia, Paramita Mentari Kesuma, turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Keberhasilan bisnis komoditas global tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan komunitas petani kakao. Kami berharap model GrowHer Kakao dapat direplikasi di berbagai wilayah,” ujarnya.

Pesan serupa datang dari Save the Children Indonesia yang menekankan pentingnya perlindungan anak dalam rantai pasok. (*) 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved