Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga Cabai Rawit di Makassar Rp60 Ribu per Kg, Bapanas Siapkan Pasokan dari Luar Daerah

Harga cabai rawit dijual Rp60 ribu per kilogram (Kg) di Pasar Terong, Kecamatan Bontoala pada 1 Ramadan lalu.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Faqih Imtiyaaz
CABAI RAWIT - Sekretaris Daerah Sulsel Jufri Rahman saat ditemui di Lobby utama Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumohajo, Kota Makassar pada Jumat (13/3/2026). Jufri Rahman terbuka dengan rencaka Bapanas mengirim cabai rawit dari provinsi lain ke Sulsel. 

Namun terkait distribusi dari daerah penghasil ke pasar-pasar penerima.

Keterlambatan distribusi barang bisa memicu peningkatan harga bahan pangan.

"Inflasi juga ditentukan infrastruktur jalan. Ketika banjir pasti distribusi terhalang," jelasnya.

Selain itu, ada juga kondisi psikologis penjual yang kerap melihat HBK sebagai momen menaikkan harga.

Di sisi lain, masyarakat mulai memaklumi kenaikan tersebut.

Meskipun kenaikan ini sebenarnya dilihat sebagai persoalan memicu inflasi.

Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Brigjen Pol Hermawan menyebut daerah produsen cabai rawit belum maksimal.

Sehingga mempengaruhi suplai di tengah meningkatnya permintaan.

"Untuk cabe rawit kecil masih belum aman dikarenakan memang di Sentra produksi saat ini betul-betul belum maksimal," ujar Brigjen Pol Hermawan saat ditemui di Jl Padjonga Dg Ngalle, Kota Makassar pada Rabu (11/3.2026).

Brigjen Pol Hermawan menyebut hukum ekonomi bermain dalam komoditas cabai rawit.

Harga terpantik imbas suplai dan demand tidak seimbang.

Penyebab utamanya cuaca buruk di Sulsel selama beberapa bulan belakangan.

"cabai itu di musim hujan deras seperti ini pasti produksinya akan menurun karenakan cabai itu pada saat ditanam akarnya tidak boleh tenggelam dalam air itu yang menjadi kendala," ujarnya.

Pejabat Bapanas ini menyebut evaluasi sudah dipikirkan demi menjaga keterjangkauan harga cabai.

Salah satu solusinya dengan melakukan impor dari daerah-daerah produsen cabai rawit di Indonesia.

"Iya ada kemungkinan datang dari luar ya, luarnya itu dari provinsi lain, bukan dari luar negeri," ucapnya.

Secara harga disebutnya masih cukup terjangkau, kenaikan harga belum terlalu signifikan.

Brigjen Pol Hermawan masih memetakan daerah sentra produksi di luar Sulsel.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved