Harga Cabai Rawit di Makassar Rp60 Ribu per Kg, Bapanas Siapkan Pasokan dari Luar Daerah
Harga cabai rawit dijual Rp60 ribu per kilogram (Kg) di Pasar Terong, Kecamatan Bontoala pada 1 Ramadan lalu.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Harga cabai rawit jadi perhatian khusus selama Ramadan 1447 H.
Pasalnya Harga cabai rawit terus bertahan diatas harga rata-rata.
Harga cabai rawit dijual Rp60 ribu per kilogram (Kg) di Pasar Terong, Kecamatan Bontoala pada 1 Ramadan lalu.
Harga itu naik dari sebelum awal Ramadan sekitar Rp 50 ribu per kg.
Kemudian pekan kedua Ramadan,harga cabai naik menjadi Rp 70 ribu per kg.
Lanjut di pekan ketiga harga cabai rawit bertahan di angka Rp 60 ribu.
Selama sebulan, harga terus bertahan di kisaran Rp 60 ribu per kg
Badan Pangan Nasional (Bapanas) sudah mengindikasikan intervensi terhadap ketersediaan cabai rawit.
Bapas berencana mengimpor cabai rawit dari sejumlah provinsi ke Sulsel.
Kabar ini disambut baik Sekretaris Daerah (Sekda) Sulsel Jufri Rahman.
"Kalau betul-betul datang pasti bisa menurunkan harga," kata Jufri Rahman saat dikonfirmasi pada Selasa (18/3/2026).
Naiknya harga cabai rawit memang rawan memicu peningkatan inflasi daerah.
Hal ini sebenarnya umum terjadi pada saat menyambut Hari Besar Keagamaan (HBK)
"Secara konvensional penyebab inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan itu ketersediaan dan distribusi," sambungnya.
Jufri melihat terkadang penyebab kenaikan harga bukan karena ketersediaan barang.
Namun terkait distribusi dari daerah penghasil ke pasar-pasar penerima.
Keterlambatan distribusi barang bisa memicu peningkatan harga bahan pangan.
"Inflasi juga ditentukan infrastruktur jalan. Ketika banjir pasti distribusi terhalang," jelasnya.
Selain itu, ada juga kondisi psikologis penjual yang kerap melihat HBK sebagai momen menaikkan harga.
Di sisi lain, masyarakat mulai memaklumi kenaikan tersebut.
Meskipun kenaikan ini sebenarnya dilihat sebagai persoalan memicu inflasi.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Brigjen Pol Hermawan menyebut daerah produsen cabai rawit belum maksimal.
Sehingga mempengaruhi suplai di tengah meningkatnya permintaan.
"Untuk cabe rawit kecil masih belum aman dikarenakan memang di Sentra produksi saat ini betul-betul belum maksimal," ujar Brigjen Pol Hermawan saat ditemui di Jl Padjonga Dg Ngalle, Kota Makassar pada Rabu (11/3.2026).
Brigjen Pol Hermawan menyebut hukum ekonomi bermain dalam komoditas cabai rawit.
Harga terpantik imbas suplai dan demand tidak seimbang.
Penyebab utamanya cuaca buruk di Sulsel selama beberapa bulan belakangan.
"cabai itu di musim hujan deras seperti ini pasti produksinya akan menurun karenakan cabai itu pada saat ditanam akarnya tidak boleh tenggelam dalam air itu yang menjadi kendala," ujarnya.
Pejabat Bapanas ini menyebut evaluasi sudah dipikirkan demi menjaga keterjangkauan harga cabai.
Salah satu solusinya dengan melakukan impor dari daerah-daerah produsen cabai rawit di Indonesia.
"Iya ada kemungkinan datang dari luar ya, luarnya itu dari provinsi lain, bukan dari luar negeri," ucapnya.
Secara harga disebutnya masih cukup terjangkau, kenaikan harga belum terlalu signifikan.
Brigjen Pol Hermawan masih memetakan daerah sentra produksi di luar Sulsel.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz
| Geng Motor Makassar Serang Asrama Polisi, Kriminolog UNM: Boomerang Bagi Kapolda Sulsel |
|
|---|
| Makassar Ikut Dongkrak Pembiayaan Emas Flexi Gold Nasional |
|
|---|
| Bunda PAUD Makassar Melinda Aksa Dorong Pendidikan Anak Tanpa Diskriminasi |
|
|---|
| Ratusan Peserta Ikuti PIT On The Go Prime di Makassar, Dorong K3 sebagai Investasi |
|
|---|
| Penyerang PSM Makassar Rizky Eka Dipanggil ke Timnas, Ahmad Amiruddin Pesan Cepat Beradaptasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/CABAI-RAWIT-Sekretaris-Daerah-Sulsel-Jufri-Rahman.jpg)