Makmur Idrus: Sahabat Seharusnya Mengingatkan, Bukan Menikmati Kekuasaan
Aktivis sosial dan mantan auditor pemerintah, Makmur Idrus, mengingatkan pentingnya peran lingkungan terdekat dalam menjaga integritas
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Aktivis sosial dan mantan auditor pemerintah, Makmur Idrus, mengingatkan pentingnya peran lingkungan terdekat dalam menjaga integritas pejabat publik.
Menurutnya, dalam banyak kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, seorang pejabat jarang jatuh sendirian karena di sekelilingnya terdapat lingkaran kerabat, kolega, dan sahabat yang ikut menikmati kedekatan dengan kekuasaan.
Makmur Idrus menilai, orang-orang terdekat seharusnya berfungsi sebagai pengingat moral yang berani menegur ketika seorang pejabat mulai keluar dari jalur integritas. “Sahabat dan kolega adalah orang yang paling dekat melihat tanda-tanda penyimpangan. Mereka seharusnya menjadi pihak pertama yang mengingatkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu.
Namun dalam praktiknya, kata dia, kedekatan dengan kekuasaan sering kali menghadirkan berbagai fasilitas, akses, dan keuntungan yang justru membuat orang kehilangan keberanian untuk bersikap jujur.
“Hubungan yang semestinya dilandasi persahabatan berubah menjadi hubungan kepentingan. Nasihat digantikan pujian, dan kritik berubah menjadi pembenaran,” kata Makmur.
Menurutnya, sikap diam dalam situasi seperti itu tidak dapat dianggap sebagai sikap netral. Sebaliknya, diam justru bisa menjadi bentuk persetujuan tidak langsung terhadap penyimpangan yang terjadi.
Makmur menambahkan bahwa sejarah berbagai kasus korupsi di Indonesia menunjukkan bahwa kekuasaan yang tidak diimbangi kontrol moral dari lingkungan terdekat sering kali menjadi awal dari masalah besar.
Baca juga: Fadel Tauphan Ansar Dilantik Jadi Ketua KNPI Sulsel, Makmur Idrus: KNPI Harus Jadi Rumah Bersama
Karena itu, ia menilai perlu ada keberanian dari sahabat dan kolega untuk mengingatkan, bahkan ketika teguran tersebut tidak selalu menyenangkan bagi pihak yang sedang berkuasa.
“Sahabat sejati bukan yang menikmati kedekatan dengan kekuasaan, tetapi yang berani berkata jujur dan menjaga temannya agar tidak jatuh oleh kekuasaan yang dimilikinya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan selalu memiliki daya tarik yang besar, namun tanpa integritas dan kontrol moral dari lingkungan sekitar, kekuasaan justru dapat menjadi penyebab kejatuhan seseorang.
Menurut Makmur, persahabatan dalam lingkaran kekuasaan seharusnya tidak dimaknai sebagai ruang untuk berbagi keuntungan, melainkan sebagai ruang untuk saling menjaga agar tidak terjerumus oleh godaan kekuasaan.
“Pada akhirnya, sahabat yang paling berharga bukanlah yang hadir saat seseorang berada di puncak kekuasaan, tetapi yang berani menjaga agar ia tidak jatuh karena kekuasaan itu sendiri,” katanya.(*)
| Kader Sulsel Dorong Prof KH Nasaruddin Umar Maju Calon Ketum PBNU |
|
|---|
| Sulawesi Tidak Mau Lagi Jadi Penonton, AGH Baharuddin HS Didorong Isi AHWA Muktamar NU |
|
|---|
| Menghentikan Pasar Suara di NU: Saatnya Ketua Umum Dipilih Ulama, Bukan Transaksi |
|
|---|
| Saifullah Yusuf: Sowan Tanpa Panggung, Mencari Restu di Akar NU |
|
|---|
| Ramadan ke-28: I’tikaf Anak Muda, Menjemput Lailatul Qadar Menuju Fitrah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260314_JAGA-INTEGRITAS_jaga-integritas-pejabat-publik.jpg)