Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dialog ICMI Sulsel

La Ode Husen: Konflik AS–Israel vs Iran Bukan Sekadar Konflik Biasa, Melainkan Konflik Geopolitik

Prof La Ode Husen menjelaskan bahwa dalam perspektif sejarah, peradaban Timur pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Sakinah Sudin
Tribun-Timur.com/Rudi Salam
AS-ISRAEL VS IRAN - KONFLIK TIMUR TENGAH - Direktur Pascasarjana UMI, Prof La Ode Husen (kiri) pada acara Dialog Nasional bertajuk “Peta Geopolitik Dunia Islam: Konflik AS–Israel vs Iran dan Implikasinya” di Aula Lantai 3 Pascasarjana UMI, Jl Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Jumat (13/3/2026). Prof La Ode Husen menegaskan konflik tersebut bukan sekadar perang militer, melainkan benturan geopolitik dan peradaban Timur–Barat yang berdampak global. 

Ringkasan Berita:
  • La Ode Husen menilai konflik AS–Israel dan Iran bukan sekadar perang militer, melainkan benturan geopolitik dan peradaban antara Timur dan Barat.
  • Ia menegaskan posisi Indonesia tetap menolak penjajahan dan mendorong diplomasi aktif, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, guna meredam eskalasi konflik global.

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Direktur Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof La Ode Husen menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran bukan sekadar konflik militer biasa. 

Menurutnya, konflik tersebut juga mencerminkan benturan geopolitik sekaligus peradaban antara Timur dan Barat.

Hal tersebut disampaikan Prof La Ode Husen saat menjadi narasumber “Dialog Nasional bertajuk “Peta Geopolitik Dunia Islam: Konflik AS–Israel vs Iran dan Implikasinya” di Aula Lantai 3 Pascasarjana UMI, Jl Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Jumat (13/3/2026).

Dialog nasional ini dihadirkan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) bekerja sama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Forum Dosen Tribun Timur.

Prof La Ode Husen menjelaskan bahwa dalam perspektif sejarah, peradaban Timur pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia. 

Bahkan, kata dia, banyak ilmu yang kemudian berkembang di Barat awalnya dipelajari dari dunia Timur.

“Ini sebenarnya bukan sekadar konflik biasa, tetapi konflik geopolitik sekaligus konflik peradaban. Ini benturan antara peradaban Timur dan Barat,” jelasnya.

Guru Besar Fakultas Hukum UMI ini mengatakan, serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu berpotensi memperbesar eskalasi konflik dan menimbulkan kekhawatiran global. 

Ia menilai situasi tersebut dapat berdampak luas terhadap stabilitas dunia.

“Serangan itu sangat mencemaskan dan berpotensi menimbulkan konflik yang lebih luas dan lebih lama. Dampaknya bisa berimplikasi pada banyak aspek kehidupan, baik secara nasional maupun internasional,” katanya.

Terkait posisi Indonesia, ia menegaskan bahwa sikap negara sudah jelas sebagaimana tertuang dalam konstitusi. 

Indonesia, kata dia, menolak segala bentuk penjajahan dan mendukung perdamaian dunia.

“Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan. Jadi sebenarnya posisi Indonesia sudah sangat jelas,” katanya.

Prof La Ode Husen menilai Indonesia harus menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara nyata dengan berperan dalam upaya menjaga perdamaian internasional.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved