Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ijazah Jokowi

Dosen Unhas Dr Hasrullah Ungkap Penyebab Isu Ijazah Jokowi Masih Ramai

Sejumlah pihak kini menyoroti perkembangan ini, karena berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap isu nasional.

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
IJAZAH JOKOWI - Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Dr Hasrullah dan Jokowi. Hasrullah menilai kasus dugaan ijazah palsu Jokowi dapat dianalisis secara mendalam melalui lensa tiga teori komunikasi digital. 

TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke‑7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), terus menjadi perhatian dan memicu perdebatan publik.

Seorang tersangka, Rismon Sianipar, mengaku menemukan data baru dalam penelitiannya yang kemudian disampaikan kepada penyidik Polda Metro Jaya.

Temuan terbaru ini berhasil menarik perhatian publik.

Juga menjadi pemicu percepatan pembahasan status hukum kasus yang selama ini memicu perdebatan di ruang publik.

Sejumlah pihak kini menyoroti perkembangan ini, karena berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap isu nasional.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Dr Hasrullah, menilai kasus dugaan ijazah palsu Jokowi dapat dianalisis secara mendalam melalui lensa tiga teori komunikasi digital.

Teori Algoritma, Filter Bubble, dan Echo Chamber menjelaskan bagaimana opini publik terbentuk, tersebar, dan terkadang terfragmentasi di era media sosial.

“Teori Algoritma, Filter Bubble, dan Echo Chamber merupakan kerangka terintegrasi untuk memahami dinamika penyebaran informasi di media sosial,” kata Dr Hasrullah, Jumat (13/3/2026).

Algoritma menyesuaikan konten sesuai interaksi dan preferensi pengguna, membentuk filter bubble yang membatasi paparan terhadap sudut pandang berbeda.

Lingkungan ini kemudian menguat menjadi echo chamber, di mana opini serupa terus diperkuat di dalam komunitas homogen.

Proses ini meningkatkan kemungkinan polarisasi dan bias persepsi di kalangan masyarakat.

Menurutnya, ketiga teori tersebut menjelaskan mekanisme pembentukan, evolusi, dan penyebaran opini publik yang dapat memengaruhi dinamika sosial-politik di era digital.

Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas itu menjelaskan, algoritma adalah mekanisme yang menentukan konten apa yang muncul di linimasa setiap pengguna.

Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam kasus ijazah ayah Wapres Gibran Rakabuming Raka, dengan mempercepat penyebaran konten provokatif.

Fenomena ini memicu opini publik berkembang dengan cepat dan intens di dunia digital.

Sehingga publik seolah melihat masalah tersebut sebagai lebih besar dari yang sebenarnya.

Selanjutnya, filter bubble membuat setiap individu terjebak dalam ruang informasi yang terbatas.

Pengguna cenderung hanya melihat konten yang sesuai pandangan dan preferensi mereka.

Ini berarti orang yang mendukung Jokowi mungkin hanya menemukan informasi yang membenarkan posisi mereka.

Sementara pihak yang skeptis melihat konten yang memperkuat kecurigaan.

“Akibatnya, opini publik menjadi terfragmentasi dan sulit mencapai kesepahaman,” tambah Dr Hasrullah.

Sementara itu, echo chamber adalah fenomena di mana opini atau pandangan tertentu terus diulang dan diperkuat di komunitas digital yang homogen.

“Echo chamber membuat debat menjadi semakin ekstrem karena setiap kelompok hanya mendengar versi pandangan mereka sendiri, tanpa ada interaksi yang menyeimbangkan,” jelasnya.

Menurut Dr Hasrullah, kombinasi ketiga mekanisme ini membuat isu ijazah Jokowi menjadi sangat ramai diperbincangkan, sekaligus memperkeruh perdebatan publik.

Dr Hasrullah juga mengaitkan teori tersebut dengan peristiwa internasional.

Misalnya, perang Iran vs Israel-Amerika Serikat, yang mendapat liputan global melalui media sosial, seringkali ditafsirkan berbeda-beda oleh pengguna berdasarkan filter bubble dan echo chamber masing-masing.

Bahkan dalam diplomasi, seperti kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, ke kediaman Jusuf Kalla, informasi yang muncul di media sosial dapat mempercepat persepsi publik terhadap peristiwa internasional tertentu.

“Mahasiswa saya dibekali teori ini agar mampu memahami dinamika sosial-politik yang kompleks di era digital.

Teknologi informasi kini menjadi pusat peradaban dan penggerak opini publik. Tanpa pemahaman ini, masyarakat bisa terbawa arus informasi yang tidak objektif,” kata Dr Hasrullah.

Dr Hasrullah berharap masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menganalisis secara kritis dan objektif, baik terhadap isu nasional seperti kasus ijazah Jokowi maupun isu global yang memengaruhi kehidupan sosial-politik.

Keterangan: Ijazah Jokowi - Pakar Ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Hasrullah. Hasrullah menilai kasus dugaan ijazah palsu Jokowi dapat dianalisis secara mendalam melalui lensa tiga teori komunikasi digital.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved