Ali Yafid Ulas Akhlak Bertetangga di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar
Menurutnya akhlak bertetangga salah satu pondasi kerukunan dan keharmonisan hidup manusia.
Ringkasan Berita:
- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Ali Yafid, mengisi ceramah Ramadan di Masjid Al Markaz Al Islami dengan tema Akhlak Bertetangga.
- Ia menekankan bahwa hubungan baik dengan tetangga menjadi pondasi penting dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat.
- tetangga adalah orang yang paling dekat secara sosial dalam kehidupan sehari-hari.
TRIBUN-TIMUR.COM - Kakanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, mengisi ceramah Ramadan di Masjid Al Markaz Al Islami, Rabu, 4 Maret 2026.
Ali Yafid tampil menyampaikan ceramah dengan tema 'Akhlak Bertetangga'.
Menurutnya akhlak bertetangga salah satu pondasi kerukunan dan keharmonisan hidup manusia.
Tetangga merupakan orang yang paling dekat secara sosial dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya yang paling dekat dengan kita secara sosial adalah tetangga. Kalau keluarga dekat itu saudara, sepupu, orang tua. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita mengalami kesulitan, yang pertama kali hadir membantu sering kali adalah tetangga,” ujarnya.
Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial antarwarga.
“Allah telah menyempurnakan agama ini. Aturan tentang pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara semuanya lengkap,” jelasnya.
Menurutnya, indahnya kehidupan adalah ketika tetangga saling menghormati dan menghargai.
Sebaliknya, kehidupan menjadi tidak nyaman apabila di lingkungan sekitar tidak ada kepedulian dan rasa hormat.
Kakanwil juga memaparkan beberapa hak tetangga sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
“Jika tetangga meminta tolong dan kita mampu membantu, maka tolonglah. Jangan sampai tetangga membutuhkan bantuan sementara kita memiliki kemampuan tetapi tidak peduli. Suatu saat kita pun bisa berada pada posisi membutuhkan pertolongan mereka.” ujarnya.
Jika tetangga meminjam sesuatu dan kita mampu, hendaknya dipinjamkan.
“Kalau tidak mampu meminjamkan, sampaikan dengan kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jangan sampai kita menolak dengan ucapan kasar yang menyakiti hati. Bertetangga itu harus saling memberi dan saling menerima.”
Ia juga mengingatkan agar tidak memiliki rasa hasad (iri hati) terhadap tetangga.
“Hasad itu memakan kebaikan seperti api membakar kayu kering. Ketika tetangga mendapatkan nikmat, kita wajib bersyukur dan ikut berbahagia, bukan berburuk sangka.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-05-Kakanwil-Kemenag-Sulsel-Ali-Yafid.jpg)