Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Lebih 500 Warga Sulsel Terjebak di Timur Tengah Imbas Perang Iran Vs AS–Israel

Keberadaan ratusan warga Sulsel itu berpotensi terdampak eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
IRAN Vs ISRAEL - Pesawat milik maskapai nasional Arab Saudi, Saudia Airlines. Saudia menghentikan sementara sejumlah jadwal penerbangannya menyusul dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Lebih 500 warga Sulsel dilaporkan masih tertahan di sejumlah negara Timur Tengah. (SAUDIA.COM) 

Ia menambahkan, jika penundaan berlangsung lama atau terjadi pembatalan total penerbangan, pihaknya berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk membantu proses pemulangan warga negara Indonesia.

“Kalau hanya menunggu mungkin masih bisa, tapi kalau sudah cancel tentu kita berharap ada tindakan dari pemerintah untuk membantu memulangkan jemaah,” kata Didi.

Secara kelembagaan, ASITA Sulsel berharap pemerintah segera mengeluarkan pernyataan resmi berupa travel advice atau travel warning agar pelaku usaha perjalanan dan masyarakat memiliki kepastian dalam mengambil keputusan.

“Yang paling penting sekarang adalah keputusan resmi pemerintah. Informasi masih simpang siur. Demi keselamatan, lebih baik menunggu daripada mengambil risiko,” pungkasnya.

Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional (HI) Pascasarjana FISIF Unhas, Dr Adi Suryadi Culla menilai konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel akan terus memanas. 

Persoalan utamanya berkaitan dengan kepentingan geopolitik yang lebih besar, terutama ambisi Amerika Serikat untuk mengontrol dan membentuk ulang tatanan politik Timur Tengah. 

Dalam konteks itu, kawasan Teluk Hormuz  menjadi wilayah strategis yang selama ini dipandang Washington sebagai kunci kepentingan globalnya.

Teluk Hormuz adalah selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. 

“Masalah Iran itu bukan semata figur Ali Khamenei. Ada kepentingan yang jauh lebih besar yang ingin dicapai Amerika Serikat, yakni menguasai dan memodelkan ulang Timur Tengah. Dalam konteks itu, Iran selama ini justru menjadi batu sandungan utama,” ujar Adi.

Wakil Ketua ICMI Sulsel itu menjelaskan bahwa tekanan terhadap Iran selama ini kerap diarahkan pada agenda perubahan rezim dan sistem politik. 

Menurutnya, pola tersebut serupa dengan langkah yang pernah ditempuh AS di sejumlah negara lain melalui invasi maupun intervensi politik.

Tujuannya, mengganti sistem yang ada dengan model demokrasi versi Barat yang dianggap sejalan dengan kepentingan global AS.

“Selain menjatuhkan rezim, kepentingan Amerika lebih luas lagi, yakni geopolitik global.

Apalagi di tengah persaingan negara-negara adidaya, Iran justru mengambil posisi berseberangan dengan Amerika dan menjalin kedekatan dengan rival-rival globalnya seperti Cina dan Rusia,” jelasnya.

Adi menilai, posisi strategis Iran itulah yang membuat kematian Khamenei tidak otomatis mengubah sikap politik luar negeri Teheran. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved